Terungkap Alasan Tisu Toilet Berwarna Putih
Data dari industri menunjukkan bahwa sekitar 85 persen tisu toilet yang diproduksi secara global adalah tisu berwarna putih.
Isi pesan di tisu toilet mencegah upaya bunuh diri. (Dok: AFP/Yamanashi Prefectural)
(@ 2023 merdeka.com)Proses pemutihan pada tisu toilet memiliki peranan yang signifikan dalam mempercepat proses penguraiannya di lingkungan. Dengan menghilangkan lignin, zat yang menghambat dekomposisi, tisu toilet berwarna putih lebih mudah terurai dibandingkan dengan tisu yang berwarna.
Mengacu pada berbagai sumber, tisu toilet pada umumnya dibuat dari serat kayu yang mengandung lignin, yaitu zat yang memberikan warna kecoklatan pada kertas. Lignin ini adalah polimer alami yang memberikan kekuatan pada dinding sel tumbuhan, sehingga membuat kayu sulit terurai secara alami.
Dalam produksi tisu toilet putih, pabrik menggunakan bahan pemutih untuk menghilangkan lignin dari serat kayu. Penghilangan lignin ini tidak hanya mengubah warna tisu menjadi putih, tetapi juga memudahkan bakteri pengurai dalam memecah serat tisu saat dibuang ke dalam septic tank atau sistem pembuangan lainnya.
Tisu Toilet Berwarna
Berbeda dengan tisu toilet putih, varian berwarna memerlukan tambahan zat pewarna kimia dalam proses produksinya. Pewarna ini tidak hanya meningkatkan biaya produksi, tetapi juga memperlambat proses penguraian di alam, karena bakteri pengurai harus memecah lebih banyak komponen kimia.
Penelitian menunjukkan bahwa tisu toilet putih dapat terurai dalam waktu sekitar satu bulan di dalam septic tank, sedangkan tisu berwarna memerlukan waktu hingga tiga bulan untuk terurai sepenuhnya akibat kandungan pewarna kimianya.
Selain itu, industri tisu toilet putih juga mengalami kemajuan dalam teknologi pemutihan. Sebelumnya, proses pemutihan menggunakan klorin yang dapat mencemari lingkungan, tetapi kini produsen telah beralih ke teknologi ECF (Elementary Chlorine Free) atau TCF (Totally Chlorine Free) yang lebih ramah lingkungan.
Secara Ekonomi
Aspek ekonomis juga berperan dalam dominasi tisu toilet putih di pasaran. Proses pewarnaan memerlukan biaya tambahan untuk pewarna, stabilizer, dan kontrol kualitas yang lebih ketat. Akibatnya, harga tisu toilet berwarna bisa 20 hingga 30 persen lebih mahal dibandingkan tisu putih.
Dari segi kesehatan, tisu toilet putih dianggap lebih aman karena memiliki kandungan zat kimia tambahan yang lebih sedikit. Pewarna pada tisu berwarna dapat menyebabkan iritasi kulit, terutama bagi individu dengan kulit sensitif. Selain itu, proses pemutihan berkontribusi pada tekstur tisu toilet.
Penghilangan lignin membuat serat tisu menjadi lebih lunak, sehingga tisu toilet putih memiliki tekstur yang lebih lembut. Kelembutan ini menjadi salah satu pertimbangan penting bagi konsumen dalam memilih tisu toilet yang akan digunakan.
Keunggulan dalam aspek lingkungan, ekonomi, dan kesehatan menjadikan tisu toilet putih tetap mendominasi pasar global. Data industri menunjukkan bahwa 85 persen dari total produksi tisu toilet di dunia adalah tisu putih, sementara tisu berwarna hanya menguasai 15 persen pangsa pasar.
Penulis: Ade Yofi Faidzun