Mengapa Kaos Dalam Berwarna Putih? Ini Asal Usulnya
Terungkap asal usul kaos dalam mengapa berwarna putih.
Kaos dalam putih telah menjadi benda yang begitu umum, hingga tak banyak yang mempertanyakan asal-usulnya. Lantas, bagaimana asal usulnya?
Mengutip dari Yale University Press, BBC, The Guardian, dan Smithsonian Magazine, Kamis (22/5), ada cerita di balik kenapa kaos dalam berwarna putih, baik dari sisi sejarah, budaya, nilai moral, perkembangan teknologi, hingga strategi militer. Perjalanan itu dimulai pada abad ke-19, khususnya di era pemerintahan Ratu Victoria.
Pada masa itu, masyarakat Inggris sangat menekankan nilai kesucian, kontrol diri, dan kehormatan dalam kehidupan sehari-hari—terutama bagi kaum wanita. Pakaian dalam seperti chemise, petticoat, hingga lapisan bawah gaun selalu dibuat dari kain putih, bukan tanpa alasan.
Warna putih dipercaya mencerminkan kemurnian moral, kebersihan lahir batin, serta kesopanan yang ideal. Bila pakaian luar menunjukkan status sosial, maka pakaian dalam menunjukkan kondisi batin seseorang.
Namun, faktor moral bukan satu-satunya penyebab dominasi warna putih. Revolusi Industri membawa serta kesadaran baru tentang pentingnya kebersihan dan kesehatan tubuh.
Dokter dan pengasuh rumah tangga kala itu mulai menyarankan penggunaan pakaian dalam yang bersih dan bisa dicuci dengan pemutih. Putih menjadi pilihan utama karena noda kotoran dan keringat mudah terlihat, sehingga lebih mudah memastikan bahwa pakaian benar-benar bersih setelah dicuci.
Selain itu, kain putih dapat direndam dan diputihkan berkali-kali tanpa risiko kehilangan warna. Produksi tekstil secara massal juga memperkuat dominasi putih. Tanpa perlu pewarnaan, kain katun putih lebih murah dan cepat diproduksi.
Industri besar seperti Hanes dan Jockey mulai memproduksi kaos dalam putih untuk pria pada awal abad ke-20 sebagai bagian dari pakaian dasar sehari-hari yang praktis, ekonomis, dan nyaman.
Warna putih juga mendapat dorongan besar dari militer. Pada Perang Dunia I dan II, tentara Amerika dan sekutunya dibekali perlengkapan standar, termasuk kaos dalam putih.
Produksi besar-besaran memerlukan efisiensi, dan putih menjadi solusi paling logis: murah, mudah dirawat, dan seragam. Setelah perang usai, banyak mantan tentara terus memakai kebiasaan ini di kehidupan sipil.
Di saat bersamaan, budaya populer ikut mengangkat citra kaos putih ke tingkat ikon. Aktor Marlon Brando dan James Dean, lewat film-film era 1950-an, tampil mengenakan kaos putih polos di layar lebar.
Awalnya pakaian dalam, kaos putih justru tampil sebagai simbol pemberontakan maskulin yang sederhana namun kuat. Meskipun tak lagi tersembunyi di balik kemeja, kaos putih mempertahankan aura fungsional dan netralnya.
Secara ilmiah, putih juga punya keunggulan. Warna ini memantulkan cahaya dan panas, membuat kaos dalam terasa lebih sejuk dibanding warna gelap. Selain itu, kaos dalam putih tidak menciptakan bayangan atau garis warna saat dikenakan di balik pakaian luar berwarna terang—sebuah nilai tambah dari sisi estetika.
Jika ditelusuri, sejarah warna putih untuk pakaian dalam adalah hasil persilangan antara ideologi, kesehatan, ekonomi, dan gaya hidup. Ia adalah simbol kesucian masa lalu, saksi kebangkitan industri, perisai kebersihan modern, dan medium netral dari dunia yang terus berubah.
Meski kini tersedia dalam beragam warna dan gaya, kaos dalam putih tetap bertahan sebagai pilihan utama. Tak hanya karena warisan sejarah, tapi karena fungsinya yang tak lekang oleh waktu.