Pesawat Kepresidenan A-001 kini tampil dengan skema warna baru—putih dominan dengan aksen garis merah memanjang. Perubahan ini merupakan bagian dari proses perawatan rutin, bukan sesuatu yang perlu dipersoalkan, kata Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan Hasan Nasbi.
"Pemeliharaan rutin pada kendaraan seperti pesawat dan kapal tentu mencakup pengecatan ulang. Salah satunya ya bisa berupa penggantian desain atau warna," ujar Hasan.
Ia menegaskan bahwa pengecatan ulang ini bukan hal luar biasa dan merupakan bagian dari prosedur standar perawatan armada kepresidenan. Terlepas dari itu, tahukah ada pengaruh warna cat saat terbang?
Mengutip Adelaidenow dan NYPost, Senin (19/5), warna putih mendominasi dunia penerbangan komersial, bukan karena alasan estetika, melainkan karena sejumlah pertimbangan teknis dan ekonomis.
Maskapai-maskapai di seluruh dunia memilih putih sebagai warna standar untuk pesawat mereka demi efisiensi biaya, keselamatan operasional, dan daya tahan jangka panjang. Putih dikenal mampu memantulkan panas dan radiasi lebih baik dibanding warna gelap.
Menurut data CDC, penumpang dalam penerbangan tiga jam bisa terpapar radiasi kosmik sebesar 3,5 mrem, setara dengan satu kali rontgen dada. Cat putih membantu mengurangi dampak panas dari radiasi tersebut, terutama saat pesawat berada di darat.
Cat putih juga lebih memudahkan teknisi dalam mendeteksi keretakan, kebocoran minyak, hingga kerusakan struktural pada badan pesawat. Selain itu, warna ini tak cepat pudar, memudahkan proses rebranding saat pesawat berpindah kepemilikan, dan lebih mudah dikenali saat pencarian jika terjadi insiden di udara atau laut.
Contoh ekstrem sempat terjadi pada pesawat Concorde milik Air France yang dicat biru untuk promosi Pepsi pada 1996. Karena cepat menyerap panas, pesawat hanya diizinkan terbang dalam kecepatan supersonik selama 20 menit. Warna itu hanya bertahan dua minggu sebelum dikembalikan ke putih.
Meski begitu, ada maskapai seperti Air New Zealand yang mencoba keluar dari pakem. Mereka memperkenalkan pesawat berwarna hitam pekat sebagai bagian dari strategi identitas nasional.
“Hitam adalah warna ikonik Selandia Baru,” ujar Mike Williams, Chief Transformation Officer Air New Zealand.
Namun di balik penampilannya, cat hitam memiliki konsekuensi. Samuel Cowlishaw, ahli material dari Blend Supply, menyebut bahwa cat putih memang lebih berat karena mengandung titanium dioksida. Satu kaleng cat putih standar bisa berbobot 6,3 kg, sementara cat hitam hanya sekitar 4,1 kg — selisih hingga 53%.
Meski cat hitam lebih ringan di atas kertas, secara keseluruhan cat putih dianggap lebih efisien dalam jangka panjang. Cat putih tidak cepat pudar, lebih tahan terhadap kondisi ekstrem, dan lebih jarang butuh pengecatan ulang. Boeing mencatat bahwa pesawat seperti Boeing 777 bisa membawa bobot cat hingga 544 kg — setara dengan berat satu baris penumpang.
Beberapa maskapai seperti American Airlines sempat memilih untuk tidak mengecat pesawat mereka demi mengurangi bobot, menerbangkan armada dalam balutan logam polos selama beberapa dekade.
Namun dengan semakin banyaknya penggunaan bahan komposit modern yang rentan terhadap kerusakan tanpa lapisan pelindung, pilihan ini dianggap tidak lagi ekonomis.
Dari segi biaya perawatan, cat putih justru menekan pengeluaran. Boeing melaporkan bahwa skema warna putih membantu mengurangi frekuensi pencucian dan pemolesan.
American Airlines bahkan mengklaim berhasil menghemat bahan bakar hingga 1,1 juta liter per tahun setelah beralih ke desain putih tanpa lapisan mica.Industri penerbangan terus berkembang, dan eksplorasi warna untuk keperluan branding masih mungkin dilakukan.
Namun, selama efisiensi dan keselamatan tetap menjadi prioritas utama, putih tampaknya akan tetap menjadi warna paling rasional di langit dunia penerbangan.