Tentara Datangi Diskusi Mahasiswa di Kampus UIN Walisongo, Begini Penjelasan TNI
Sejumlah wartawan kampus Pers Mahasiswa UIN Walisongo Semarang mengaku diteror usai memberitakan terkait anggota TNI.
Sejumlah wartawan kampus Pers Mahasiswa UIN Walisongo Semarang mengaku diteror usai memberitakan terkait anggota TNI mendatangi diskusi mahasiswa yang diadakan di lingkungan kampus pada senin 14 April 2025.
Diskusi diselenggarakan oleh Kelompok Studi Mahasiswa Walisongo (KSMW) bersama Forum Teori dan Praksis Sosial (FTPS). Kejadian dugaan teror dari anggota TNI awalnya seorang anggota persma ditelepon dengan nomor yang tidak dikenal mengaku sebagai Babinsa, setelah diangkat penelepon mengaku sebagai anggota TNI.
"Pada intinya bapak (TNI) tidak terima foto dalam pemberitaan tidak diblur. Dia juga minta kontak ketua atau redaksi yang buat berita, tapi tidak saya kasih," kata salah satu wartawan persma berinisial W, Jumat (25/4).
Anggota TNI ini juga sempat memberikan alasan kepada W soal dia mendatangi diskusi mahasiswa tersebut. Disebutkan ada seorang mahasiswa yang mengikuti diskusi dalam kondisi terpengaruh alkohol.
"Dia juga sempat mengancam dengan pasal UU ITE," ungkapnya.
Anggota TNI tersebut telepon pada Selasa, 14 April 2025 setelah lembaga persmanya mengunggah berita soal diskusi mahasiswa yang diintervensi. Setelah nomor penelpon dilacak melalui sebuah aplikasi, diketahui nama penelpon tersebut Sersan Satu R, anggota Babinsa Koramil Ngaliyan.
Dugaan kejadian serupa juga dialami A, anggota Surat Kabar Mahasiswa (SKM) Amanat UIN Walisongo. Dia menerima pesan tertulis dari pria yang dikemudian hari diketahui bernama Rokiman, untuk menurunkan pemberitaan yang ditayangkan di website SKM Amanat.
Pengirim pesan disebut keberatan karena foto pemberitaan SKM Amanat dianggap melanggar privasi. Sehingga menyuruh A untuk menurunkan pemberitaan tersebut.
"Tapi redaksi sepakat untuk tidak take down berita yang telah dibuat, karena kami merasa sudah sesuai dengan kaidah jurnalistik," terangnya.
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Pengembangan Kelembagaan UIN Walisongo, Mukhsin Jamil, mengaku pihaknya belum menerima laporan adanya anggota Persma yang mengalami intimidasi dari TNI. Pihaknya memastikan akan memberikan perlindungan terhadap mahasiswanya.
"Saya belum tahu perkembangannya, UIN Walisongo akan melindungi semua aktivitas legal yang dilakukan seluruh sivitas akademika," kata Mukhsin Jamil saat dikonfirmasi.
Dikonfirmasi terpisah, Kapendam IV/Diponegoro, Letkol Inf Andy Soelistyo membantah adanya dugaan intimidasi. Dia menegaskan bahwa kedatanganan anggotanya ke kampus sebatas monitoring.
"Enggak ada. Itu cuma datang saja sebagai monitoring," kata Andy saat dihubungi merdeka.com.