Tantangan Tikungan 90 Derajat: Sirkuit Unej Uji Ketangguhan Peserta KMHE 2025
Sirkuit Universitas Jember dengan tikungan 90 derajat menjadi medan perang sesungguhnya bagi peserta Kontes Mobil Hemat Energi (KMHE) 2025. Akankah tim tuan rumah berjaya?
Kontes Mobil Hemat Energi (KMHE) 2025 secara resmi bergulir di Universitas Jember (Unej), Jawa Timur, menghadirkan babak baru dalam inovasi teknologi otomotif. Ajang bergengsi ini menjadi medan pembuktian bagi berbagai tim mahasiswa dari seluruh Indonesia. Mereka berlomba menciptakan kendaraan paling efisien.
Pada hari pertama kompetisi, Sabtu (25/10), sejumlah tim peserta dihadapkan pada tantangan yang tidak terduga. Sirkuit Tegalboto Unej yang menjadi lintasan utama, ternyata memiliki karakteristik unik. Kondisi ini menguji ketahanan dan strategi para driver.
Secara khusus, tikungan 90 derajat yang mendominasi sirkuit menjadi sorotan utama dan sumber kesulitan. Medan yang menantang ini memaksa tim untuk melakukan adaptasi cepat. Mereka harus mengevaluasi ulang desain serta strategi mengemudi di lapangan.
Sirkuit Unej: Ujian Sesungguhnya bagi Inovasi Energi
Manajer Tim TITEN (Mobil Listrik) dari Unej, Ahmad Ramadani, mengakui bahwa sirkuit tuan rumah menjadi tantangan tersendiri. "Meskipun berstatus tuan rumah, tantangan terbesar datang dari karakter sirkuit sendiri," ungkapnya di kampus setempat. Timnya telah melakukan riset selama sembilan bulan penuh sejak awal tahun, namun tikungan Unej yang hampir semuanya 90 derajat menjadi kendala besar.
Kondisi sirkuit yang tidak biasa ini memaksa Tim TITEN untuk melakukan riset lebih mendalam. Mereka bahkan harus bekerja hingga larut malam di tengah minimnya penerangan. Ramadani menceritakan kesulitan yang dihadapi, "Kami tidak bisa latihan di pagi hari karena kondisi kendaraan yang masih lalu lalang. Nah saat malam hari itu mobil kami sudah hampir dua kali naik trotoar."
Meskipun demikian, persiapan matang yang dilakukan tim Unej membuahkan hasil positif. Mereka berhasil melewati tes Technical Inspection dalam satu kali jalan dan siap untuk balapan. Momen ini menjadi pengalaman berkesan bagi tim. Dengan dukungan penuh dari fakultas dan status sebagai tuan rumah, Ramadani optimis timnya bisa meraih kemenangan 100 persen dalam Kontes Mobil Hemat Energi.
Tim Universitas Brawijaya Rasakan Beratnya Medan
Tantangan sirkuit Unej juga dirasakan oleh tim dari luar daerah, seperti Tim Apatte 62 dari Universitas Brawijaya (UB). Dina Dewi, perwakilan Tim UB, menyoroti titik kritis yang dihadapi driver wanita mereka, Puja Lutfiana. "Sirkuit ini challenging karena medannya beda. Ada tikungan siku-siku yang radius beloknya 90 derajat yang sempat menyulitkan driver kami,” jelasnya.
Mobil Tim Apatte 62 bahkan sempat mengalami crash di lintasan karena kesulitan tersebut. Menurut Dina, tikungan pertama dan tikungan selanjutnya menjadi titik paling sulit karena medannya naik-turun dan berbentuk siku-siku. Tim UB yang telah meriset mobil sejak Februari 2025 ini terpaksa melakukan evaluasi mendadak setelah insiden tersebut.
Evaluasi pasca-insiden difokuskan pada aspek teknis dan strategi mengemudi. "Setelah insiden, evaluasinya dari mekanik sama driver-nya lebih membicarakan soal akselerasi sama turn point-nya biar mereka enggak crash," kata Dina. Hal ini menunjukkan betapa krusialnya adaptasi terhadap kondisi sirkuit yang tidak biasa.
Dukungan Tuan Rumah dan Semangat Kompetisi KMHE 2025
Meskipun menghadapi kesulitan di lintasan, Tim UB memuji dukungan yang diberikan oleh pihak tuan rumah Universitas Jember. Mereka mengapresiasi kesiapan paddock dan logistik yang mempermudah adaptasi peserta. Dukungan ini sangat membantu, meskipun sempat terkendala saat turun hujan menjelang pembukaan pada Jumat (25/10) sore.
Rangkaian KMHE 2025 diwarnai ketegangan tinggi, di mana kerja keras riset berbulan-bulan diuji habis-habisan. Total jarak tempuh yang disyaratkan mencapai 9,7 kilometer yang ditempuh dalam beberapa putaran. Kompetisi ini menjadi validasi terbaik bagi masa depan teknologi energi di Indonesia.
Sejumlah tim harus membenahi mobil di bawah tekanan waktu, berhadapan dengan tikungan 90 derajat, dan ambisi untuk menang. Kompetisi ini akan mencapai puncaknya pada Minggu (26/10), yang akan menentukan siapa yang layak meraih gelar juara Prototipe dan Urban Concept pada tahun 2025.
Sumber: AntaraNews