Tahukah Anda Bedanya Ilmuwan dan Cendekiawan? Menag Harap IAHN Mpu Kuturan Lahirkan Cendekiawan Hindu Pencerah Masyarakat
Menteri Agama berharap IAHN Mpu Kuturan Singaraja dapat melahirkan Cendekiawan Hindu yang tidak hanya menguasai ilmu, tetapi juga memiliki kebijaksanaan, etika, dan kepekaan sosial.
Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja, Bali, kini mengemban harapan besar dari Menteri Agama Republik Indonesia (Menag), Nasaruddin Umar. Setelah bertransformasi dari sekolah tinggi menjadi institut, IAHN Mpu Kuturan diharapkan mampu mencetak para cendekiawan Hindu. Peresmian ini berlangsung di Panggung Terbuka Kampus Banyuning, Kota Singaraja, Kabupaten Buleleng, Bali, pada Sabtu, 20 September.
Nasaruddin Umar menegaskan bahwa cendekiawan bukan hanya unggul dalam pengetahuan, tetapi juga mampu mengamalkan ilmunya untuk kemaslahatan banyak pihak. Ia melihat peran cendekiawan sebagai pencerah di tengah masyarakat yang kompleks. Harapan ini menjadi pijakan penting bagi arah pengembangan IAHN Mpu Kuturan ke depan.
Transformasi ini bukanlah sekadar perubahan nama, melainkan sebuah momentum strategis untuk menguatkan posisi IAHN Mpu Kuturan sebagai pusat pendidikan tinggi Hindu. Rektor IAHN Mpu Kuturan Singaraja, I Gede Suwindia, menyatakan bahwa status institut akan membuka ruang lebih luas bagi pengembangan program studi, peningkatan riset, serta perluasan jejaring akademik.
Visi Menteri Agama untuk Cendekiawan Hindu
Menteri Agama Nasaruddin Umar menjelaskan bahwa makna cendekiawan jauh lebih luas dibandingkan ilmuwan. Menurutnya, cendekiawan tidak hanya merujuk pada orang yang menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga menekankan kebijaksanaan, etika, dan kepekaan terhadap kondisi sosial yang ada. "Cendekiawan adalah dia yang unggul secara pengetahuan dan paling penting mampu mengamalkan pengetahuan tersebut dalam bentuk manfaat bagi pelbagai pihak," kata Nasaruddin Umar.
Dalam konteks masyarakat, cendekiawan Hindu diharapkan menjadi penuntun arah peradaban umat beragama. Mereka tidak hanya berperan sebagai penghasil penemuan baru, tetapi juga sebagai penjaga nilai dan kearifan yang mampu menyeimbangkan antara sains dan ajaran agama. Peran ini sangat krusial dalam menghadapi tantangan zaman.
Nasaruddin juga menyoroti perbedaan mendasar antara lembaga pendidikan umum dan lembaga pendidikan agama. Ia mengungkapkan, "Jika lembaga pendidikan umum fokus pada bidang keilmuan semata. Tetapi, perguruan tinggi keagamaan (termasuk IAHN) memiliki ciri kuat perpaduan antara ilmu dengan ajaran agama dan atau kekuatan-kekuatan lain di luar nalar manusia." Hal ini menunjukkan kekhasan IAHN Mpu Kuturan dalam membentuk karakter mahasiswanya.
Peran Dosen sebagai Guru Pencerah
Menag berharap agar para dosen IAHN Mpu Kuturan Singaraja tidak hanya sebatas menjadi pendidik atau pengajar semata, tetapi harus mampu menjadi guru bagi mahasiswa. Menurutnya, peran guru memiliki makna yang lebih holistik dan mendalam. Harapan ini menekankan pentingnya pembentukan karakter dan spiritualitas mahasiswa.
Ia menilai bahwa pengajar hanya memberikan atau menyampaikan ilmu, sementara pendidik memberi ilmu dan mengamati proses pertumbuhan mahasiswa. Namun, "Guru memiliki makna yang lebih dalam," papar Nasaruddin Umar. Peran guru melampaui transfer pengetahuan semata, menyentuh aspek batin dan spiritual.
Istilah 'guru' sendiri, yang berasal dari bahasa Sansekerta, memiliki arti pencerah dari kegelapan. Seorang guru adalah dia yang telah melakukan kontemplasi dan perenungan batin mendalam terkait profesi atau tugas yang dilakoni. Dengan demikian, dosen diharapkan menjadi teladan yang mencerahkan bagi mahasiswa IAHN Mpu Kuturan.
IAHN Mpu Kuturan: Pusat Pendidikan Hindu di Bali Utara
Transformasi dari Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri (STAHN) Mpu Kuturan menjadi IAHN Mpu Kuturan Singaraja ditetapkan melalui Peraturan Presiden Nomor 61 Tahun 2025. Perubahan status ini menandai babak baru bagi pengembangan pendidikan tinggi Hindu di Indonesia, khususnya di wilayah Bali.
Rektor IAHN Mpu Kuturan Singaraja, I Gede Suwindia, menjelaskan bahwa IAHN Mpu Kuturan Singaraja atau IMK diharapkan mampu menjadi pusat pendidikan Hindu di wilayah Bali bagian utara. Ini merupakan visi besar yang akan diwujudkan melalui berbagai program dan inisiatif akademik.
Suwindia menambahkan, "Peresmian institut bukan sekadar seremoni perubahan nama, melainkan momentum strategis untuk menguatkan posisi sebagai pusat pendidikan tinggi Hindu. Status institut akan membuka ruang lebih luas untuk pengembangan program studi, peningkatan kapasitas riset, dan perluasan jejaring akademik." Hal ini menunjukkan komitmen IAHN Mpu Kuturan untuk terus berinovasi dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Sumber: AntaraNews