Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar baru-baru ini menyoroti urgensi sinergi antara ilmu pengetahuan dan iman dalam membentuk generasi masa depan. Pernyataan ini disampaikan pada acara Tablig Akbar Dies Natalis Universitas Hasanuddin (Unhas) di Makassar, Sulawesi Selatan, pada Sabtu, 13 September. Beliau menegaskan bahwa integrasi kedua aspek ini krusial untuk melahirkan individu yang tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga spiritual.
Dalam kesempatan tersebut, Menag Nasaruddin Umar mengingatkan para mahasiswa bahwa pendidikan tidak cukup hanya mengandalkan kurikulum formal semata. Pengembangan talenta spesifik di luar ruang kelas juga memegang peranan penting dalam menciptakan pribadi yang utuh. Hal ini bertujuan untuk menghasilkan generasi berdaya saing global yang tetap berlandaskan pada iman dan moralitas yang kokoh.
Sinergi ilmu pengetahuan dan iman ini diharapkan dapat membawa Indonesia memiliki sumber daya manusia yang unggul di berbagai bidang. Dengan demikian, bangsa ini mampu menghadapi tantangan global tanpa kehilangan identitas keagamaan dan nilai-nilai luhur yang dipegang teguh.
Advertisement
Advertisement
Membangun Generasi Cerdas Intelektual dan Spiritual
Menag Nasaruddin Umar menekankan bahwa tidak cukup hanya menempuh kurikulum formal untuk mencetak generasi unggul. Mahasiswa perlu mengembangkan talenta spesifik di luar ruang kelas guna mencapai kecerdasan intelektual dan spiritual yang seimbang. Pendekatan ini relevan untuk menghasilkan individu yang kompeten dan berintegritas.
Beliau juga mengutip sejarah peradaban Islam masa lalu yang berhasil melahirkan Baitul Hikmah, sebuah pusat ilmu pengetahuan terkemuka. Dari Baitul Hikmah inilah lahir para penemu besar yang memberikan kontribusi signifikan bagi kemajuan dunia. Ini menunjukkan bagaimana penghargaan terhadap ilmu merupakan bagian integral dari jalan ibadah.
Menag Nasaruddin Umar menjelaskan bahwa para nabi memberikan penghargaan tinggi kepada pengetahuan, yang menunjukkan pentingnya ilmu dalam Islam. Respon seorang nabi yang menghadiahi para penemu menegaskan bahwa ilmu adalah bagian dari ibadah. Ini menjadi inspirasi dalam mendorong sinergi ilmu pengetahuan dan iman.
Advertisement
Lebih lanjut, rahasia kesuksesan dunia Islam di masa lalu adalah kemampuannya untuk bersahabat dengan alam. Para ilmuwan Islam tidak memandang alam sebagai objek eksploitasi, melainkan sebagai partisipan dalam perjalanan ilmu. Pandangan ini mendorong eksplorasi ilmiah yang bertanggung jawab dan berkelanjutan, "sebuah pusat ilmu yang melahirkan para penemu besar."
Advertisement
Peran Perguruan Tinggi dalam Integrasi Ilmu dan Agama
Menteri Agama menegaskan bahwa perguruan tinggi seperti Unhas memiliki peran vital dalam mengembangkan semangat integrasi ilmu pengetahuan dan agama. Institusi pendidikan tinggi diharapkan dapat menjadi garda terdepan dalam membentuk generasi yang berdaya saing global. Namun, mereka juga harus tetap berpijak pada iman dan moralitas yang kokoh.
Rektor Unhas, Prof. Jamaluddin Jompa, turut menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan wujud sinergi antara perguruan tinggi dan pemerintah. Kolaborasi ini bertujuan untuk membangun generasi bangsa yang berilmu sekaligus berakhlak mulia. Unhas memandang penting penyatuan ayat kauniah (alam semesta) dan kauliyah (wahyu) dalam proses pendidikan.
Prof. Jamaluddin Jompa menambahkan bahwa pendidikan tinggi tidak hanya mendorong pengembangan akademik semata. Lebih dari itu, perguruan tinggi harus melahirkan insan cendekia yang memiliki kecerdasan spiritual yang seimbang. Ini memastikan bahwa kemajuan intelektual diimbangi dengan kedalaman spiritual.
Advertisement
Sebagai wujud nyata, Unhas telah menempuh berbagai langkah konkret, termasuk Gerakan Unhas Mengkaji dan pembukaan jalur tahfiz 30 juz. Program-program ini memberikan kesempatan luas bagi mahasiswa untuk memperdalam Al-Quran. Selain itu, Unhas juga sedang menjajaki kerja sama dengan Al-Azhar, Kairo, untuk penguatan pusat pembelajaran Bahasa Arab, mendukung lahirnya generasi unggul berlandaskan iman. "Berbagai langkah nyata yang telah ditempuh Unhas, seperti Gerakan Unhas Mengkaji dan pembukaan jalur tahfiz 30 juz," kata Prof Jamaluddin Jompa.
Sumber: AntaraNews