Sindiran Pedas Prabowo buat Koruptor: Seolah-olah Legal Tapi Nyolong Ini Pintarnya
Nyatanya, dalam kurun waktu 80 tahun kemerdekaan, negeri ini mengalami pasang surut.
Presiden Prabowo Subianto mengaku terkejut dengan semakin parahnya praktik korupsi di Tanah Air. Ia menyebut banyak koruptor pintar pintar tapi pintar nyolong.
Nyatanya, dalam kurun waktu 80 tahun kemerdekaan, negeri ini mengalami pasang surut, termasuk perang ideologi, perang saudara, hingga gangguan dari berbagai arah.
"Kita mengerti banyak kekurangan, antara lain kita tidak bisa pungkiri korupsi masih sangat berlaku di bangsa kita ini. Memang kita mengerti, hampir semua negara ada korupsi, tapi korupsi di kita harus kita akui menurut saya dalam keadaan yang sangat-sangat memprihatinkan," tutur Prabowo di Munas VI PKS, Jakarta, Senin (29/9).
Kini, setelah ia mengambil alih kekuasaan sebagai orang nomor satu, Prabowo berjanji akan memberantas korupsi.
Pintarnya Orang Pintar
Ia menyebut nyatanya elit negara yang dianggap pintar dan cemerlang tetap kalah cerdas dengan para koruptor, penipu, dan manipulator.
"Sewaktu saya ambil alih pemerintahan, saya semakin kaget, saya tidak menduga, parahnya korupsi tersebut. Tapi saya bertekad, saya harus tegakkan pemerintah yang bersih. Hanya dengan pemerintah bersih Indonesia bisa bangkit," jelas dia.
Melihat parahnya korupsi yang terjadi, Prabowo mengambil kesimpulan untuk memanggil seluruh aparat penegak hukum dalam rangka melawan koruptor yang luar biasa lihai dalam merugikan bangsa.
"Dan korupsi paling besar, penyimpangan paling besar, adalah setengah korupsi atau korupsi yang tersamar. Seolah-olah legal, tapi nyolong ini pintarnya, pintarnya orang pintar, repotnya orang pintar itu sering pintar nyolong, aku heran juga ini gimana caranya," ungkapnya.
Kerugian Sistemik
Yang paling berbahaya adalah terjadinya kerugian sistemik, yakni lewat pengaturan sistem yang sengaja dibuat untuk menciptakan kelengahan elite negara. Seperti misalnya di Bangka Belitung yang telah cukup lama menjadi pusat tambang timah terkemuka di dunia, namun nyatanya terdapat 1000 tambang ilegal.
"Mulai tanggal 1 September kemarin saya perintahkan TNI-Polri, Bea Cukai, bikin operasi besar-besaran di Babel, menutup yang selama ini hampir 80 persen hasil timah diselundupkan, 80 persen timah kita kita tutup. Dan nyelundupnya macam-macam, ada yang pakai kapal, ada yang pakai ferry, sekarang tutup, tidak bisa keluar, sampan pun tidak bisa keluar," kata Prabowo.
Dia pun memperkirakan pada September sampai dengan Desember 2025 ini pemerintah akan menyelamatkan Rp22 triliun, dan 2026 diperkirakan berhasil menyelamatkan Rp45 triliun hanya dari Bangka Belitung.
"Tetapi yang lebih merisaukan tapi juga memberi harapan ternyata limbahnya, limbahnya memiliki nilai yang sangat tinggi, karena limbahnya ternyata berisi mineral-mineral yang disebut tanah jarang, rare earth. Jadi saudara-saudara mungkin pejabat-pejabat kita tidak mengerti, dia kira limbah padahal tanah jarang, makanya ini saya sekarang perintahkan Bea Cukai, itu harus merekrut beberapa ahli-ahli kimia supaya ngecek. Dia lihat pasir, padahal pasir ini nilainya luar biasa," terangnya.
Tidak ketinggalan pula urusan nikel batu bara, bauksit, yang hampir semuanya dibayangi oleh tambang ilegal dalam jumlah banyak. Prabowo telah memerintahkan untuk menertibkan seluruhnya atau bahkan diambil alih negara, yang apabila berhasil ditegakkan maka penerimaan negara akan jauh lebih besar lagi sehingga dapat mewujudkan kemakmuran.
"Masalah ini ternyata menyinggung kekuatan-kekuatan besar yang selama ini menikmati penyimpangan sistemik ini, menikmati penyimpangan sistemik ini, dan mungkin mereka terusik. Mungkin mereka sedang menyusun perlawanan, dan kita terus investigasi, kerusuhan-kerusuhan beberapa saat lalu yang kita melihat indikasi ada keterlibatan kekuatan-kekuatan tertentu, untuk bikin gaduh, menghentikan pembangunan dan kebangkitan ekonomi Indonesia," ujar dia.
"Karena mereka tidak ingin Indonesia makmur, mereka tidak ingin rakyat sejahtera, mereka ingin meneruskan paradoks yang kita alami sekarang, kekayaan begitu besar hanya dinikmati segelintir orang saja, ini yang akan saya lawan, ini yang akan saya urus," Prabowo menandaskan.