Setelah Macet Horor, Puncak Dilanda Banjir Hebat, Nasib Warga Lokal Makin Sengsara
Kini, warga Puncak Bogor tak cuma sengsara akibat macet horor yang kerap terjadi setiap akhir pekan dan libur panjang, tapi bahaya banjir juga mengintai.
Cisarua, Puncak Bogor kembali diterjang banjir hebat semalam, Minggu (2/3). 423 jiwa terdampak akibat banjir dengan arus yang sangat deras tersebut.
Kini, warga Puncak Bogor tak cuma sengsara akibat macet horor yang kerap terjadi setiap akhir pekan dan libur panjang, tapi bahaya banjir juga mengintai warga sekitar.
Anggota DPR RI dari Dapil Kabupaten Bogor, Mulyadi ikut berduka atas kesulitan yang dialami warga Puncak Bogor akibat banjir bandang tersebut. Mulyadi mendorong perlu adanya solusi jangka panjang terhadap nasib para warga asli Puncak Bogor. Menurut dia, perlu ada tata kelola ulang di kawasan Puncak, Bogor.“
Saya turut berduka dan minta atensi pemerintah untuk mengatasi dampaknya. Terutama para korban dan memberikan solusi permanen terkait tata kelola puncak, audit puncak dari berbagai sisi sangat diperlukan,” tegas Mulyadi saat dihubungi merdeka.com, Senin (3/3).
Alihfungsi Hutan Jadi Sorotan
Alih fungsi hutan dan lahan perkebunan teh di kawasan Puncak, Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, belakangan ini makin marak.Kawasan yang sejatinya sebagai penunjang resapan air dan fungsi vegetasi, kini banyak berubah fungsi menjadi area komersial seperti restoran, wisata alam, hingga tempat penginapan dan sejenisnya.
Politikus Gerindra ini mendesak perlu adanya audit investigatif terhadap lahan Hak Guna Usaha (HGU) maupun hutan milik Perhutani di kawasan Puncak yang dijadikan area komersial melalui kerja sama operasional (KSO).
Menurutnya, audit investigatif dilakukan untuk mengetahui sejauh mana dampak negatif dan positif terhadap tanah HGU yang dikuasai oleh pengusaha swasta melalui KSO. Dampak yang dimaksud meliputi resapan air, fungsi vegetasi, dan terhadap masyarakat sekitar.
"Alih fungsi perkebunan teh akan semakin menyempit gara-gara KSO. Laporan yang saya terima, satu pengusaha bisa menguasai ratusan hektar dan ini adanya pembiaran. Itu maksud saya diperiksa dicek ulang, apakah dari sisi regulasi ada kebijakan overlap ataupun melanggar. Audit termasuk juga yang dikelola oleh Perhutani," ujar Mulyadi.
Anggota Komisi VI DPR ini juga menyoroti nasib warga lokal Puncak yang semakin menderita. Dia ingin pemerintah daerah dan pusat memperhatikan nasib mereka sebagai prioritas utama.Untuk jangka pendek, para korban yang terdampak perlu segera didata dan diberikan bantuan segera mungkin.
“Penanganan korban harus menjadi prioritas, sekaligus mulai mendata kerusakan rumah dan fasilitas umum lainnya untuk segera melaksanakan rehabilitasi,” tegas Mulyadi.
Data Bencana di Puncak
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor Jawa Barat mencatat, sebanyak 423 jiwa di Kampung Pensiunan, Desa Tugu Selata, Cisarua, terdampak bencana banjir akibat luapan Sungai Ciliwung.
Luapan air sungai yang terjadi pada Minggu (2/3) malam sekitar pukul 20.30 WIB itu berdampak pada 119 KK di tiga RT yang ada di RW 01 Kampung Pensiunan, yakni 54 KK terdiri dari 198 jiwa di RT 01, kemudian 27 KK terdiri dari 98 jiwa di RT 02, dan 38 KK terdiri dari 127 jiwa di RT 03.
BPBD Kabupaten Bogor menyatakan tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Namun, terdapat empat korban luka ringan yang langsung dibawa ke RSPG dr Goenawan untuk menerima penanganan medis.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bogor M Adam Hamdani menyebutkan, sebanyak 28 desa di 16 kecamatan terdampak bencana alam hidrometeorologi akibat hujan dengan intensitas tinggi disertai angin kencang pada Mingggu (2/3) petang hingga malam.
Longsor di 8 Kecamatan
Tanah longsor terjadi di delapan kecamatan, yaitu Kecamatan Cijeruk, Desa Cijeruk dan Desa Tanjungsari; Kecamatan Sukaraja, Desa Cimandala dan Desa Nagrak; Kecamatan Megamendung, Desa Kuta, Desa Sukagalih, Desa Gadog, dan Desa Sukakarya.
Kemudian, Kecamatan Sukamakmur, Desa Sirnajaya; Kecamatan Ciawi, Desa Bojong Murni; Kecamatan Sukajaya, Desa Harkatjaya; Kecamatan Leuwisadeng, Desa Sadengkolot; dan Kecamatan Babakan Madang, Desa Bojongkoneng.
Banjir terjadi di tujuh kecamatan, yaitu Kecamatan Parungpanjang, Desa Kabaosiran dan Desa Cibunar; Kecamatan Cisarua, Desa Tugu Utara, Desa Tugu Selatan, Desa Batu Layang, Desa Kopo, Desa Jogjogan, dan Desa Cibeureum.
Lalu, Kecamatan Bojonggede, Desa Rawa Panjang; Kecamatan Cigudeg, Desa Rengasjajar; Kecamatan Tenjo, Desa Cilaku; Kecamatan Dramaga, Desa Babakan; dan Kecamatan Rumpin, Desa Sukasari.Kejadian orang hanyut terjadi di Kecamatan Cisarua, Desa Citeko. Sementara itu, angin kencang terjadi di Kecamatan Jasinga, Desa Setu.