Relawan ASN Aceh Bersihkan Fasilitas Publik Pascabanjir, Dipastikan Tanpa APBA
Ribuan Relawan ASN Aceh dikerahkan untuk membersihkan fasilitas publik di Aceh Tamiang pascabanjir, dipastikan tidak menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA).
Ribuan aparatur sipil negara (ASN), pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (P3K), dan non-ASN di lingkungan Pemerintah Aceh aktif bergerak sebagai relawan. Mereka dikerahkan ke Kabupaten Aceh Tamiang untuk membersihkan berbagai fasilitas publik pascabencana banjir dan tanah longsor yang melanda wilayah tersebut. Aksi kemanusiaan ini merupakan bentuk kepedulian dan respons cepat pemerintah daerah terhadap dampak bencana alam yang terjadi baru-baru ini.
Juru bicara Pos Komando (Posko) Penanganan Banjir dan Longsor Aceh, Murthalamuddin, secara tegas menyatakan bahwa seluruh personel yang terlibat dalam kegiatan kerelawanan ini tidak menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA). Komitmen ini menunjukkan bahwa inisiatif bakti sosial ini murni didasari oleh semangat gotong royong dan kemanusiaan.
Kehadiran para relawan ASN Aceh ini bertujuan untuk memulihkan kondisi fasilitas umum yang rusak akibat banjir, seperti tempat ibadah dan sekolah. Mereka telah diberangkatkan dalam beberapa gelombang, menunjukkan skala dan keseriusan Pemerintah Aceh dalam membantu pemulihan daerah terdampak.
Aksi Kemanusiaan Relawan ASN Aceh untuk Pemulihan Fasilitas Publik
Ribuan relawan yang terdiri dari ASN, P3K, dan non-ASN Pemerintah Aceh telah menunjukkan dedikasi tinggi dalam membantu pemulihan pascabencana di Kabupaten Aceh Tamiang. Mereka secara sukarela menyisihkan waktu dan tenaga untuk membersihkan fasilitas publik yang vital bagi masyarakat. Fokus utama kegiatan ini adalah membersihkan tempat ibadah dan sekolah yang kotor serta rusak akibat genangan air dan lumpur.
Murthalamuddin menjelaskan bahwa kehadiran ribuan personel ini adalah bagian dari aksi kemanusiaan yang terorganisir. Inisiatif ini bukan sekadar tugas, melainkan panggilan jiwa untuk membantu saudara-saudara yang terdampak bencana. Upaya pembersihan ini sangat krusial agar aktivitas sosial dan pendidikan di Aceh Tamiang dapat segera kembali normal.
Setelah berhasil membersihkan tempat-tempat ibadah, tim relawan ASN Aceh ini akan melanjutkan misi mereka ke sekolah-sekolah. Pembersihan sekolah menjadi prioritas agar proses belajar mengajar dapat dimulai kembali tanpa hambatan. Langkah proaktif ini diharapkan dapat mempercepat proses rehabilitasi dan rekonstruksi di wilayah terdampak.
Komitmen Pemerintah Aceh: Relawan Tanpa Biaya APBA
Salah satu poin penting yang ditekankan oleh Pemerintah Aceh adalah bahwa kegiatan kerelawanan ini tidak membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA). Juru bicara Posko Penanganan Banjir dan Longsor Aceh, Murthalamuddin, memastikan bahwa setiap personel ASN/P3K/Non-ASN yang menjadi relawan bencana banjir dan longsor ke Aceh Tamiang tidak menggunakan biaya perjalanan dinas APBA.
Komitmen ini diperkuat dengan arahan dari Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh kepada seluruh pejabat struktural, fungsional, serta personel ASN/P3K/Non-ASN. Arahan tersebut secara jelas menyatakan bahwa tidak ada penggunaan biaya perjalanan dinas APBA instansi untuk kegiatan bakti sosial ini. Hal ini menegaskan transparansi dan integritas dalam pengelolaan dana publik.
Murthalamuddin menambahkan, "Imbauan ini jelas menyatakan bahwa mereka yang hari ini digerakkan membersihkan sarana publik merupakan bagian dari kegiatan bakti sosial." Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa seluruh kegiatan ini adalah murni inisiatif kemanusiaan dan gotong royong dari para relawan.
Gelombang Relawan ASN Aceh untuk Pemulihan Aceh Tamiang
Pemerintah Aceh telah mengerahkan relawan dalam dua tahap untuk membantu pemulihan di Aceh Tamiang. Tahap pertama, yang berlangsung pada 29-30 Desember 2025, melibatkan sebanyak 3.000 relawan ASN. Mereka fokus pada pembersihan fasilitas umum yang terdampak parah oleh banjir.
Selanjutnya, Pemerintah Aceh kembali mengirimkan gelombang kedua relawan, dengan jumlah yang lebih besar, yakni 4.000 personel. Gelombang kedua ini akan difokuskan untuk melakukan bakti sosial di sekolah-sekolah yang terdampak banjir bandang dan tanah longsor. Total, ada 7.000 relawan ASN Aceh yang terlibat dalam upaya pemulihan ini.
Pengiriman relawan secara bertahap ini menunjukkan strategi yang terencana dari Pemerintah Aceh dalam menangani dampak bencana. Dengan jumlah relawan yang signifikan, diharapkan proses pembersihan dan pemulihan fasilitas publik dapat berjalan lebih cepat dan efektif, sehingga masyarakat Aceh Tamiang dapat segera bangkit dari dampak bencana.
Sumber: AntaraNews