REKI Perketat Pengawasan Perburuan Burung di Kawasan Restorasi Muaro Jambi
PT. Restorasi Ekosistem Indonesia (REKI) memperkuat pengawasan perburuan burung di kawasan restorasi Muaro Jambi menyusul indikasi maraknya perburuan liar, demi menjaga kelestarian ekosistem vital.
PT. Restorasi Ekosistem Indonesia (REKI) secara aktif memperkuat pengawasan terhadap aktivitas perburuan burung di wilayah restorasi mereka yang berlokasi di Kabupaten Muaro Jambi. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap adanya indikasi peningkatan aksi perburuan liar di kawasan konservasi tersebut. Penguatan pengawasan ini menjadi prioritas utama untuk menjaga keberlanjutan ekosistem.
Direktur PT. REKI, Adam Azis, mengungkapkan bahwa penguatan ini didasari oleh masukan mengenai adanya aktivitas perburuan. Meskipun data lengkap belum terkumpul, ia menegaskan pentingnya antisipasi dini meskipun skala perburuan belum terlalu besar. Pelestarian satwa burung menjadi salah satu fokus utama REKI, sejalan dengan tujuan perusahaan untuk melakukan restorasi ekosistem secara menyeluruh.
Kawasan restorasi ini, yang dikenal sebagai Hutan Harapan, sering menjadi lokasi pelepasliaran berbagai jenis burung dan satwa lainnya. Pemilihan lokasi ini didasarkan pada beberapa pertimbangan penting, termasuk kondisi pengelolaan riil oleh petugas lapangan dan aksesibilitas yang mudah. Komitmen terhadap kesesuaian habitat juga menjadi faktor krusial dalam upaya konservasi yang dilakukan.
Komitmen REKI dalam Pelestarian Satwa dan Ekosistem
Pelestarian satwa burung merupakan fokus utama bagi PT. REKI, mengingat tujuan pendirian perusahaan adalah untuk melakukan restorasi ekosistem. Selain burung, REKI juga berupaya melindungi jenis tumbuhan lain yang terancam punah akibat berbagai tekanan lingkungan. Upaya ini menunjukkan komitmen serius REKI terhadap keberlanjutan keanekaragaman hayati di Indonesia.
Adam Azis menjelaskan bahwa PT. REKI merupakan inisiatif restorasi pertama di Indonesia, dengan luas garapan mencapai 98.013 hektare. Kawasan hutan dataran rendah ini diharapkan menjadi tempat yang nyaman bagi pelestarian berbagai jenis tumbuhan dan satwa. Lokasi ini dipilih karena kondisi pengelolaan yang nyata dan terus dilakukan oleh petugas lapangan, serta kemudahan aksesibilitas.
Menurut Adam, "Hutan harapan salah satu pilihan bagi BKSDA, ada beberapa hal yang memang lebih kepada kondisi jarak yang tidak terlalu jauh, ada pengelola yang riil di lapangan. Sebelum itu, ada kesesuaian habitatnya, dan kita komit terhadap itu." Pernyataan ini menegaskan alasan strategis di balik pemilihan Hutan Harapan sebagai pusat pelestarian.
Edukasi dan Kolaborasi untuk Konservasi Berkelanjutan
Keterlibatan mahasiswa dalam proses pelestarian ekosistem dinilai sebagai bagian integral dari pendidikan konservasi. Pendekatan penyadaran melalui edukasi menjadi kunci untuk membangun kesadaran kolektif terhadap pentingnya menjaga lingkungan. Tantangan konservasi di masa depan yang begitu besar memerlukan pendekatan dini hingga aspek hukum dan perlindungan yang kuat.
Kegiatan talkshow yang digagas oleh Himpunan Mahasiswa Biologi Universitas Jambi dan PT. Restorasi Ekosistem Indonesia menjadi wadah penting untuk tujuan ini. Acara tersebut melibatkan mahasiswa serta pemateri ahli dari berbagai latar belakang. Tedjo Sukmono dari Program Studi Biologi, Agung Nugroho dari Kepala BKSDA Jambi, Marison Guciano dari Flight/Protecting Indonesia's Birds, dan Fadlhurahman dari PT. REKI turut berbagi wawasan.
Kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan organisasi konservasi seperti ini sangat vital. Sinergi ini menciptakan platform yang kuat untuk pertukaran pengetahuan dan pengalaman dalam upaya pelestarian ekosistem. Dengan demikian, diharapkan kesadaran dan tindakan nyata untuk konservasi dapat terus meningkat di kalangan masyarakat luas.
Sumber: AntaraNews