Rebana Cetak Perawat Bersertifikat: Jabar Siapkan Tenaga Profesional untuk Pasar Global
Kawasan Rebana diproyeksikan menjadi pusat Rebana Cetak Perawat Bersertifikat, menyiapkan tenaga profesional untuk pasar global dan domestik, sekaligus meningkatkan status pekerja migran Indonesia.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) mengumumkan proyeksi strategis menjadikan Kawasan Rebana sebagai pusat pencetak tenaga perawat lansia atau caregiver bersertifikat. Inisiatif ini bertujuan untuk memenuhi tingginya permintaan pasar global, khususnya Jepang, serta pasar domestik yang terus berkembang. Langkah ambisius ini juga diharapkan mampu mengubah status pekerja migran Indonesia (PMI) dari sektor domestik menjadi tenaga profesional yang memiliki keahlian khusus.
Berdasarkan keterangan dari Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (BP2D) Provinsi Jawa Barat, transformasi ini dinilai sangat mendesak mengingat kesenjangan antara permintaan pasar global dan domestik dengan ketersediaan tenaga terlatih. Data tahun 2024 menunjukkan populasi lansia di Jawa Barat telah mencapai 5,3 juta jiwa, atau sekitar 11,25 persen dari total penduduk. Angka ini bahkan melonjak hingga di atas 17 persen di beberapa wilayah seperti Kabupaten Sumedang, Kuningan, dan Majalengka.
Ironisnya, peningkatan signifikan jumlah penduduk lansia tersebut belum diimbangi dengan layanan perawatan profesional yang memadai. Peneliti Ahli Pertama BP2D Provinsi Jawa Barat, Hana Riana Permatasari, mengungkapkan bahwa saat ini lebih dari 80 persen perawatan lansia di Indonesia masih dibebankan kepada keluarga yang tidak memiliki pelatihan khusus. Kondisi ini mendorong Pemprov Jabar untuk mengambil langkah konkret dalam menyiapkan sumber daya manusia yang kompeten.
Membangun Pusat Keunggulan Perawatan Lansia di Rebana
Kawasan Metropolitan Rebana, yang meliputi Cirebon, Subang, Majalengka, Indramayu, Sumedang, dan Kuningan, disiapkan menjadi motor utama penyedia tenaga kerja terampil di bidang perawatan lansia. Proyeksi ini didasarkan pada kebutuhan mendesak akan perawat profesional, baik untuk memenuhi permintaan ekspor maupun untuk melayani kebutuhan domestik yang terus meningkat. Jawa Barat menghadapi tantangan demografi dengan populasi lansia yang signifikan, mencapai 5,3 juta jiwa pada tahun 2024, setara dengan 11,25 persen dari total penduduknya.
Angka penuaan penduduk ini bahkan lebih tinggi di beberapa daerah, seperti Kabupaten Sumedang, Kuningan, dan Majalengka, yang melampaui 17 persen. Kesenjangan antara jumlah lansia dan ketersediaan perawat profesional menjadi perhatian utama. Hana Riana Permatasari dari BP2D Provinsi Jawa Barat menyoroti bahwa sebagian besar perawatan lansia di Indonesia masih bergantung pada anggota keluarga yang belum terlatih, menegaskan urgensi program ini.
Oleh karena itu, menjadikan Rebana sebagai pusat pelatihan dan sertifikasi perawat lansia menjadi strategi krusial. Dengan demikian, diharapkan kebutuhan akan tenaga profesional dapat terpenuhi, sekaligus memberikan kesempatan bagi warga Jawa Barat untuk berkontribusi dalam sektor ekonomi perawatan yang sedang berkembang pesat. Inisiatif ini juga selaras dengan upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas hidup lansia melalui layanan perawatan yang bermartabat.
Sinergi Strategis Pemprov Jabar dan BRIN
Langkah strategis Pemprov Jabar ini diperkuat melalui sinergi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Kerja sama ini diformalkan dalam tindak lanjut kesepakatan yang berlangsung di SMK Negeri 1 Mundu, Cirebon, pada Rabu (21/1). Kolaborasi ini berfokus pada pengembangan kurikulum dan standar pelatihan yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja global dan domestik. Sinergi ini menjadi fondasi penting dalam mewujudkan visi Rebana sebagai lumbung perawat bersertifikat.
Saat ini, tercatat ada 33 SMK di kawasan Rebana yang telah memiliki konsentrasi keahlian Asisten Keperawatan dan Caregiver. Keberadaan fasilitas pendidikan ini menjadi modal awal yang kuat untuk mengimplementasikan program pelatihan secara masif. Pemprov Jabar dan BRIN akan bekerja sama untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas pendidikan di SMK-SMK tersebut, memastikan lulusannya siap bersaing di pasar kerja.
Fokus utama dari sinergi Jabar-BRIN adalah mendorong transformasi Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang selama ini seringkali identik dengan pekerjaan di sektor domestik. Melalui program ini, PMI akan didorong untuk beralih menjadi tenaga kerja perawatan profesional atau care worker. Transformasi ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kesejahteraan PMI, tetapi juga memberikan kontribusi positif terhadap citra Indonesia di mata internasional sebagai penyedia tenaga kerja terampil dan berkualitas.
Regulasi dan Standarisasi Kompetensi
Guna menjamin kualitas dan legalitas tenaga kerja yang dihasilkan, Pemprov Jabar dan BRIN tengah merumuskan regulasi komprehensif. Regulasi ini dapat berupa Peraturan Daerah (Perda) atau Peraturan Gubernur (Pergub) yang akan mengatur standar kompetensi serta perlindungan kerja bagi para pengasuh lansia. Adanya payung hukum yang jelas akan memberikan kepastian bagi calon perawat dan juga bagi pengguna jasa, baik di dalam maupun luar negeri. Perumusan regulasi ini menjadi langkah krusial untuk menciptakan ekosistem kerja yang adil dan profesional.
Selain itu, kedua belah pihak juga sepakat untuk mengakselerasi kompetensi melalui Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Caregiver yang berlisensi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Sertifikasi dari BNSP akan memastikan bahwa setiap perawat lansia yang berasal dari Rebana memiliki standar kompetensi yang diakui secara nasional dan internasional. Upaya ini juga akan diikuti dengan perluasan Tempat Uji Kompetensi (TUK) di wilayah Pantura, untuk mempermudah akses bagi calon perawat dalam mendapatkan sertifikasi.
Skema pendidikan pun akan diintegrasikan secara menyeluruh, menghubungkan pendidikan formal di SMK dengan jalur pelatihan cepat melalui Lembaga Pelatihan Kerja (LPK). Integrasi ini diharapkan tidak hanya menjadikan Jawa Barat sebagai pusat ekonomi perawatan global, tetapi juga memastikan bahwa lansia di dalam negeri mendapatkan perawatan yang bermartabat dan berkualitas tinggi. Dengan demikian, program ini tidak hanya berorientasi ekspor, tetapi juga memperhatikan kebutuhan domestik yang mendesak.
Sumber: AntaraNews