Program MBG Tumbuhkan Pelaku Usaha Daerah, Investasi Tembus Rp 40 Triliun
Dampak ekonomi dari program MBG kini mulai terlihat nyata, terutama melalui operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diinisiasi pemerintah mulai menunjukkan dampak signifikan, tidak hanya dalam pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga dalam mendorong pertumbuhan ekonomi di berbagai daerah.
Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar, menyatakan bahwa program ini telah menciptakan ekosistem pemberdayaan yang melibatkan pelaku usaha lokal.
"Setiap rupiah anggaran negara harus betul-betul memiliki dampak dan menghasilkan ekosistem pemberdayaan, sehingga tidak hanya memberikan gizi, namun juga menggerakkan ekonomi masyarakat secara luas," ujar Cak Imin dalam konferensi pers di Jakarta.
Ia menambahkan, dampak ekonomi dari program MBG kini mulai terlihat nyata, terutama melalui operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG yang melibatkan pelaku UMKM serta menyerap tenaga kerja lokal.
"Kini kita menyaksikan program MPG berjalan mulai efektif. Melibatkan banyak UMKM, tenaga kerja terus-menerus bertambah di dalam pelaksanaan SPPG, sehingga kita melihat dampak nyata pertumbuhan ekonomi dan akan terus kita dorong dari program ini," kata dia.
Lebih lanjut, Cak Imin mengungkapkan bahwa program MBG juga berhasil menarik investasi dalam jumlah besar. Hingga saat ini, investasi dari swasta maupun masyarakat yang terlibat dalam program tersebut telah mencapai angka fantastis.
"Tidak kurang investasi swasta atau publik atau masyarakat, investasi dalam program ini tidak kurang dari Rp40 triliun. Besar sekali," ucapnya.
Pemerintah pun terus mendorong keterlibatan UMKM dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sebagai pemasok kebutuhan dapur MBG, agar roda ekonomi lokal terus berputar.
Menurut Cak Imin, ekosistem SPPG harus mampu menciptakan peluang ekonomi dari hulu hingga hilir, dengan melibatkan berbagai pihak di daerah, termasuk pemerintah daerah.
Pemberdayaan Pelaku Ekonomi
"Ekosistem SPPG dari hilir ke hulu harus menghasilkan peluang ekonomi masyarakat lokal. Dan tentu tidak hanya bergantung kepada BGN, tetapi bergantung kepada pemerintah dan kepala daerah," jelasnya.
Ia juga menegaskan pentingnya pemberdayaan pelaku ekonomi lokal seperti pedagang, petani, dan peternak agar Indonesia mampu memperkuat kemandirian ekonomi.
"Pedagang, petani, dan peternak lokal harus terus diberdayakan. Kita punya kepentingan agar tumbuh kembangnya para pedagang, petani, dan peternak ini sebagai bagian dari keinginan kita secara ekonomi berdiri di atas kaki sendiri," tegasnya.
Dengan berbagai capaian tersebut, program MBG tidak hanya menjadi solusi pemenuhan gizi, tetapi juga motor penggerak ekonomi daerah yang berkelanjutan.