Potret Dampak Banjir Lahar Semeru Putuskan Jalan Desa, Separuh Siswa SD Jugosari Lumajang Absen
Masyarakat setempat kesulitan mobilisasi termasuk anak-anak untuk bersekolah.
Dampak banjir lahar hujan Semeru menyebabkan akses jalan penghubung antar pemukiman di Desa Jugosari, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang tertutup. Akibatnya sebagian siswa Sekolah Dasar tidak bisa mengikuti kegiatan belajar mengajar karena kondisi alam tersebut.
Banjir lahar membawa material bebatuan menutup akses jalan penghubung Dusun Sumberlangsep dan Sumberkajar, Desa Jugosari pada Kamis (10/4) dini hari. Akibatnya masyarakat setempat kesulitan mobilisasi termasuk anak-anak untuk bersekolah.
Sekolah Dasar Negeri (SDN) Jugosari 03 sudah 2 hari sepi lantaran sebagian siswanya terpaksa absen akibat banjir lahar Semeru. Hari pertama masuk sekolah pada Rabu (9/4) kemarin dari 80 siswa, 39 anak tidak bisa masuk sekolah. Sementara, di hari kedua masuk sekolah, sekitar sepertiga dari jumlah total siswa yang tidak bisa ke sekolah.
“Karena mereka tidak bisa berangkat sendiri kalau ada banjir, jadi diantar orang tua. Kemarin hari pertama masuk sekolah hanya ada 1 siswa yang datang dari 40 anak yang berasal dari Sumberlangsep (dusun yang terisolir). Sementara, kalau hari ini kurang lebih ada sepertiga siswa yang bisa datang,” kata Yulianti, Kepala SDN Jugosari 03, Kamis (10/4).
Menurutnya, akses jalur menuju sekolah yang tertutup bebatuan ditambah derasnya aliran sungai uang masih dialiri banjir lahar membuat siswa tidak berani menuju sekolah. Sebagian siswa yang menuju sekolah nekat menyeberangi sungai aliran lahar dengan digendong orang tua mereka.
Atas kondisi tersebut, pihak sekolah memberi dispensasi bagi siswa yang tinggal di dusun Sumberlangsep untuk boleh tidak masuk sekolah jika terjadi banjir lahar. Sebagai gantinya, pihak sekolah akan memberi pembelajaran secara daring atau merangkap materi pembelajaran yang diberikan ketika para siswa sudah bisa kembali pergi ke sekolah.
Sementara itu, Zahira salah seorang siswa mengaku nekat pergi ke sekolah dengan menyeberangi sungai aliran lahar karena di hari pertama sekolah tidak hadir lantaran banjir masih tinggi. Menurutnya, aktivitas ini sudah biasa dialaminya ketika jika banjir yang terjadi menutup jalur akses pemukimannya.
“Takut sih ada, tapi kemarin sudah tidak masuk (sekolah). Jadi, ya hari ini masuk meski harus digendong bapak untuk menyeberang sungai. Selain itu, aliran sungainya juga tidak terlalu deras dibanding kemarin,” katanya.
Tak hanya menganggu aktivitas anak-anak sekolah, dampak dari banjir ini juga menghambat aktivitas warga sehari-hari yang ingin keluar masuk dusun. Total ada sekitar 137 KK di Dusun Sumberlangsep yang terisolir akibat banjir lahar hujan Semeru ini.
Warga yang ingin beraktivitas keluar dusun terpaksa harus menyeberangi aliran sungai yang dipenuhi material bebatuan disertai derasnya aliran sungai lahar.