Gunung Lewotobi Laki-laki Erupsi 3 Kali dalam Sehari, Warga Diminta Waspada Banjir Lahar
Gunung Lewotobi Laki-laki di Flores Timur kembali erupsi tiga kali pada Minggu pagi, memuntahkan kolom abu hingga 800 meter. Warga diimbau waspada dan tidak beraktivitas di zona bahaya.
Gunung Lewotobi Laki-laki, yang berlokasi di Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur (Flotim), Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali menunjukkan aktivitas vulkanik signifikan. Pada Minggu pagi, 21 September, gunung ini mengalami erupsi sebanyak tiga kali, memicu kekhawatiran di kalangan masyarakat sekitar. Peristiwa ini menegaskan kembali status kewaspadaan tinggi terhadap salah satu gunung berapi aktif di Indonesia.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan bahwa erupsi terjadi pada pukul 07.22 WITA, 08.23 WITA, dan 09.01 WITA. Setiap erupsi memuntahkan kolom abu vulkanik ke udara, dengan ketinggian yang bervariasi. Data ini menjadi dasar penting bagi upaya mitigasi bencana dan perlindungan masyarakat.
Masyarakat setempat dan pengunjung diimbau untuk tetap tenang serta mematuhi arahan dari pemerintah daerah. Kesiapsiagaan menjadi kunci utama dalam menghadapi potensi bahaya lanjutan dari aktivitas Gunung Lewotobi Laki-laki. Informasi resmi dari PVMBG harus menjadi rujukan utama untuk menghindari penyebaran isu yang tidak jelas sumbernya.
Kronologi Erupsi dan Kondisi Terkini
Erupsi pertama Gunung Lewotobi Laki-laki pada Minggu pagi tercatat pada pukul 07.22 WITA, dengan tinggi kolom abu teramati kurang lebih 800 meter di atas puncak atau sekitar 2.384 mdpl. Kolom abu berwarna kelabu dengan intensitas sedang dan condong ke arah barat daya. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 29.6 mm dan durasi kurang lebih satu menit 36 detik.
Kemudian, erupsi kedua terjadi pada pukul 08.23 WITA, juga dengan tinggi kolom abu kurang lebih 800 meter di atas puncak. Kolom abu kali ini teramati berwarna kelabu dengan intensitas tipis, condong ke arah barat daya. Erupsi tersebut terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 44.4 mm dan durasi kurang lebih satu menit 17 detik, menunjukkan peningkatan intensitas.
Erupsi ketiga menyusul pada pukul 09.01 WITA, di mana tinggi kolom abu teramati kurang lebih 700 meter di atas puncak atau sekitar 2.284 mdpl. Kolom abu berwarna kelabu dengan intensitas sedang, condong ke arah barat daya dan barat. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 44.4 mm dan durasi kurang lebih satu menit 16 detik, mengindikasikan aktivitas yang berkelanjutan.
Saat ini, Gunung Lewotobi Laki-laki berada pada Status Level IV (Awas), yang merupakan tingkat kewaspadaan tertinggi. Kondisi ini menuntut masyarakat untuk sangat berhati-hati dan mengikuti semua instruksi dari otoritas berwenang. Pemantauan terus dilakukan secara intensif oleh PVMBG untuk memberikan informasi terbaru kepada publik.
Imbauan dan Kewaspadaan bagi Masyarakat
Mengingat Status Level IV (Awas), masyarakat dan pengunjung diimbau untuk tidak melakukan aktivitas apapun dalam radius enam kilometer dari pusat erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki. Selain itu, untuk sektoral barat daya-timur laut, radius aman diperluas hingga tujuh kilometer. Zona larangan ini ditetapkan untuk melindungi keselamatan jiwa dari potensi bahaya letusan.
Pemerintah daerah juga mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak mudah mempercayai isu-isu yang tidak jelas sumbernya. Informasi resmi hanya berasal dari lembaga yang berwenang seperti PVMBG dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Komunikasi yang efektif dan akurat sangat penting dalam situasi darurat seperti ini.
Selain bahaya erupsi langsung, masyarakat di sekitar Gunung Lewotobi Laki-laki juga diminta untuk mewaspadai potensi banjir lahar hujan. Potensi ini terutama berlaku pada sungai-sungai yang berhulu di puncak gunung jika terjadi hujan dengan intensitas tinggi. Beberapa daerah yang perlu diwaspadai meliputi Desa Dulipali, Padang Pasir, Nobo, Nurabelen, Klatanlo, Hokeng Jaya, Boru, dan Nawakote.
Bagi masyarakat yang terdampak hujan abu vulkanik, sangat disarankan untuk menggunakan masker atau penutup hidung dan mulut. Tindakan ini bertujuan untuk menghindari bahaya abu vulkanik pada sistem pernapasan, yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan serius. Ketersediaan masker harus menjadi prioritas di area yang berpotensi terkena dampak abu.
Sumber: AntaraNews