Petugas Berjibaku Padamkan Kebakaran Lahan Jambi, 5 Hektare Terdampak
Tim gabungan terus berupaya memadamkan kebakaran lahan gambut di Batanghari, Jambi, yang telah melanda sekitar 5 hektare, menyoroti kerentanan Karhutla Jambi.
Petugas tim gabungan masih berjibaku memadamkan kebakaran lahan mineral gambut di Desa Penerokan, Kabupaten Batanghari, Jambi, pada Jumat (13/3). Upaya pemadaman ini telah berlangsung sejak peristiwa kebakaran lahan tersebut terjadi pada Kamis (12/3). Tim terus bekerja keras untuk mengendalikan api.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa sekitar 5 hektare area terdampak kebakaran lahan di Jambi, dengan 3 hektare di antaranya telah berhasil dipadamkan. Tim di lapangan terus bekerja keras untuk mengendalikan api dan mencegah perluasan dampak. Ini adalah tantangan besar.
Koordinasi intensif dilakukan oleh BPBD Batanghari dan Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Wilayah Sumatera untuk memastikan penanganan optimal. Kejadian ini kembali menyoroti pentingnya kesiapsiagaan menghadapi kebakaran lahan di wilayah rawan gambut. Pemerintah terus memantau situasi.
Upaya Pemadaman dan Pencegahan Karhutla Jambi
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menjelaskan bahwa proses pemadaman dan pendinginan masih terus dilakukan. Hal ini bertujuan untuk memastikan tidak ada lagi titik api yang berpotensi meluas di area terdampak. Tim gabungan berfokus pada pendinginan untuk mencegah api muncul kembali di lahan gambut yang rentan.
BNPB secara aktif memantau perkembangan penanganan kebakaran lahan ini bersama pihak terkait di daerah. Komitmen ini sejalan dengan arahan Kepala BNPB Suharyanto dalam apel kesiapsiagaan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Apel tersebut melibatkan sedikitnya 1.000 personel gabungan di Pekanbaru, Riau, pada Kamis (5/3).
Apel gelar pasukan dan alutsista darat serta udara tersebut dipimpin oleh Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Djamari Chaniago dan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Raja Juli Antoni. Kesiapsiagaan ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menanggulangi Karhutla, termasuk di Jambi.
Jambi, Provinsi Prioritas Penanganan Kebakaran Lahan
Jambi merupakan salah satu dari enam provinsi prioritas dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Indonesia. Prioritas ini ditetapkan berdasarkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2020. Provinsi lain yang termasuk dalam daftar ini adalah Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Kabupaten Batanghari, Jambi, memiliki luas wilayah sekitar 580.483 hektare, yang sebagian besar berupa dataran rendah dan rawa. Karakteristik geografis ini menjadikan banyak kawasan di Batanghari memiliki tanah gambut. Keberadaan gambut ini menjadi faktor utama kerentanan terhadap kebakaran lahan Jambi.
Data dari BPBD Batanghari menunjukkan bahwa lahan gambut tersebar di tujuh kecamatan, meliputi Muara Bulian, Pemayung, Muara Tembesi, Mersam, Maro Sebo Ulu, Maro Sebo Ilir, dan Batin XXIV. Meskipun umumnya tergolong gambut dangkal, area ini tetap menjadi perhatian serius karena sangat rawan terbakar saat musim kemarau.
Peningkatan Luas Kebakaran dan Faktor Pemicu
Catatan yang dihimpun ANTARA menunjukkan adanya peningkatan signifikan luas lahan terbakar di Batanghari. Pada tahun 2023, sekitar 111,14 hektare lahan terbakar di Batanghari, menjadikannya yang terbesar dibanding kabupaten lain di Jambi. Angka ini menunjukkan urgensi penanganan kebakaran lahan di Jambi.
Peningkatan lebih lanjut terjadi pada tahun 2024, dengan total kebakaran di Batanghari mencapai sekitar 253 hektare. Puluhan titik api dilaporkan tersebar di berbagai kecamatan, termasuk Bajubang. Data ini menggarisbawahi tantangan besar dalam mengendalikan Karhutla Jambi.
Keberadaan kawasan konsesi perkebunan dan hutan tanaman industri di sekitar wilayah ini sering disebut sebagai salah satu faktor pemicu kerentanan kebakaran. Terutama, jika lahan gambut mengalami pengeringan akibat pembangunan kanal atau pembukaan lahan. Pengelolaan lahan yang tidak tepat dapat memperparah risiko kebakaran lahan Jambi.
Sumber: AntaraNews