Permukiman Warga RW 04 Cipinang Melayu Terendam Banjir Hingga 120 CM
Permukiman warga di RW 04, Kelurahan Cipinang Melayu, Makasar, Jakarta Timur, kembali terendam banjir Cipinang Melayu hingga ketinggian 120 sentimeter akibat luapan Kali Sunter pada Kamis malam, 22 Januari 2026. Simak detail kronologi dan dampaknya di sin
Permukiman warga di RW 04, Kelurahan Cipinang Melayu, Makasar, Jakarta Timur, terendam banjir hingga mencapai ketinggian 120 sentimeter pada Kamis malam, 22 Januari 2026. Peristiwa ini terjadi akibat luapan Kali Sunter setelah curah hujan tinggi yang berlangsung cukup lama di wilayah tersebut.
Ketua Lembaga Musyawarah Kelurahan (LMK) RW 04 Cipinang Melayu, Subagyo, mengungkapkan bahwa genangan paling parah terjadi di wilayah yang berdekatan dengan bantaran kali. Beberapa RT terdampak cukup serius dengan ketinggian air mendekati satu setengah meter, seperti di RT 04, RT 01, dan RT 02.
Meskipun ketinggian air terus meningkat sejak sore hari, hingga saat ini belum ada warga yang mengungsi. Pihak RW telah menyiapkan skema evakuasi ke Kampus Universitas Borobudur jika kondisi ketinggian air terus bertambah melebihi 150 sentimeter.
Kronologi Kenaikan Air dan Dampak Banjir di Cipinang Melayu
Ketinggian air di RW 04 Cipinang Melayu bervariasi, dengan titik terdalam mencapai 120 cm di RT 04, RT 01, dan RT 02. Sementara itu, RT 05 dan RT 07 mengalami genangan sekitar 50 sentimeter, dan RT 06 belum terdampak secara signifikan. Subagyo menjelaskan bahwa kenaikan muka air terjadi sangat cepat.
Dia menyebut air mulai meninggi signifikan sekitar pukul 18.30 WIB. Sebelumnya, pada sore hari, ketinggian air masih berkisar 40 hingga 50 cm, namun kemudian meningkat drastis setelah Magrib.
Genangan paling parah terjadi di wilayah yang berada di bantaran Kali Sunter, menyebabkan aktivitas warga di lokasi terdampak menjadi terbatas. Sebagian besar warga memilih bertahan di rumah sambil memantau ketinggian air, menunggu surut atau mengambil keputusan untuk mengungsi.
Penyebab dan Respons Warga Terdampak Banjir Cipinang Melayu
Menurut Subagyo, tingginya curah hujan yang berlangsung cukup lama menjadi penyebab utama banjir yang melanda Cipinang Melayu kali ini. Selain itu, luapan Kali Sunter turut memperparah kondisi permukiman warga di RW 04 Cipinang Melayu.
Ketua RW 04 Cipinang Melayu, Yoni Triorama, menyatakan bahwa hingga saat ini warga masih memilih bertahan di rumah masing-masing, mengamankan barang-barang ke tempat yang lebih tinggi. Warga disebut sudah terbiasa dengan kondisi banjir dan biasanya menunggu air surut.
Namun, pihak RW telah menyiapkan skema evakuasi yang terkoordinasi. Jika ketinggian air melebihi 150 cm, warga akan diarahkan untuk mengungsi ke Kampus Universitas Borobudur sebagai titik pengungsian yang telah ditetapkan.
Kesiapan Wilayah dan Bantuan Pasca Banjir Cipinang Melayu
Yoni Triorama mengakui bahwa wilayah RW 04 Cipinang Melayu memang menjadi langganan banjir setiap kali terjadi curah hujan tinggi dan luapan kali. Banjir ini merupakan yang pertama kalinya terjadi di tahun 2026 untuk wilayah tersebut.
Hingga saat ini, belum ada bantuan dari pemerintah yang masuk ke lokasi banjir. Bantuan biasanya akan disalurkan setelah proses pendataan warga terdampak dilakukan, terutama jika sudah ada warga yang mengungsi.
Warga RW 04 Cipinang Melayu masih bersiaga dan berharap air segera surut agar dapat kembali beraktivitas normal. Pengurus wilayah terus memantau perkembangan ketinggian air dan kesiapan lokasi pengungsian untuk mengantisipasi kondisi terburuk.
Sumber: AntaraNews