Banjir Jakarta Timur: Ketinggian Air di Cipinang Melayu Capai 1,5 Meter
Banjir Jakarta Timur melanda permukiman warga RW 04 Cipinang Melayu dengan ketinggian air mencapai 1,5 meter pada Minggu pagi, dipicu luapan Kali Sunter dan hujan deras.
Banjir setinggi 1,5 meter merendam permukiman warga di RW 04, Kelurahan Cipinang Melayu, Makasar, Jakarta Timur, pada Minggu pagi (8/3). Peristiwa ini disebabkan oleh luapan Kali Sunter dan curah hujan deras yang mengguyur sejak Sabtu (7/3) malam.
Ketua Lembaga Musyawarah Kelurahan (LMK) RW 04 Cipinang Melayu, Subagyo, menyebut ketinggian air terdalam mencapai 1,5 meter di RT 4 dan RT 2. Ia menambahkan, di RT 3, genangan bervariasi antara satu meter hingga 60 sentimeter.
Peningkatan debit air terjadi sangat cepat sekitar pukul 03.00 dini hari. Hal ini dipicu hujan terus-menerus dan kiriman air dari hulu Kali Sunter. Kondisi ini menyebabkan enam Rukun Tetangga (RT) di wilayah tersebut terdampak serius.
Ketinggian Air dan Dampak di Cipinang Melayu
Genangan air dengan ketinggian 150 cm merupakan peningkatan signifikan sejak Sabtu malam hingga Minggu pagi. Subagyo menjelaskan, "Ketinggian air terdalam di RT 4 dan RT 2 sekitar 1,5 meter, kalau RT 3 ada yang satu meter dan 60 sentimeter (cm)." Wilayah bantaran kali dilaporkan mengalami dampak paling parah, dengan ketinggian air mendekati dua meter di beberapa titik.
Sedikitnya enam RT di RW 04 Cipinang Melayu terdampak genangan air dengan ketinggian bervariasi. RT yang terdampak meliputi RT 1, RT 2, RT 3, RT 4, RT 5, dan RT 7. Menurut Subagyo, wilayah tersebut memang kerap terdampak saat banjir terjadi.
Subagyo juga menyatakan, "Itu langganan, kalau banjir pasti mereka terdampak dan ini hanya terjadi di satu RW saja, yaitu RW 4. Tapi untuk tahun ini, ini pertama kalinya kita mengalami banjir." Meskipun demikian, banjir Jakarta Timur kali ini adalah yang pertama terjadi di RW 04 pada tahun ini. Warga di lokasi masih terus bersiaga menghadapi kemungkinan peningkatan debit air lebih lanjut.
Penyebab Banjir dan Respons Awal
Subagyo menjelaskan bahwa penyebab utama banjir Jakarta Timur ini adalah curah hujan yang tidak berhenti sejak Sabtu pagi hingga Minggu. Ia menambahkan, "Untuk banjir kali ini karena curah hujan sejak Sabtu (7/3) pagi sampai sekarang masih hujan. Selain itu, ada kiriman air dari hulu Sunter, sehingga sekitar pukul 03.00 dini hari, air naik sangat cepat." Selain curah hujan, kiriman air dari hulu Kali Sunter turut memperparah kondisi genangan.
Hingga saat ini, belum ada bantuan dari pemerintah yang masuk ke lokasi banjir di Cipinang Melayu. Bantuan biasanya akan disalurkan setelah proses pendataan warga terdampak selesai, terutama jika ada warga yang mengungsi.
Para pengurus wilayah setempat terus memantau perkembangan ketinggian air dan mempersiapkan lokasi pengungsian jika diperlukan. Warga berharap air segera surut agar aktivitas dapat kembali normal, sembari tetap bersiaga.
Kondisi Banjir Jakarta dan Peringatan Cuaca
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mencatat bahwa terdapat 39 rukun tetangga (RT) dan 13 ruas jalan di Jakarta yang terendam banjir. Kepala Pusat Data dan Informasi Kebencanaan BPBD DKI Jakarta, Mohamad Yohan, menyatakan bahwa "Banjir terjadi akibat hujan deras di Jakarta dan sekitarnya sejak Sabtu (7/3) sampai dengan Minggu."
Hujan deras ini mengguyur wilayah Jakarta dan sekitarnya sejak Sabtu hingga Minggu. Data ini menunjukkan bahwa banjir Jakarta Timur di Cipinang Melayu merupakan bagian dari dampak yang lebih luas di ibu kota.
Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memprakirakan cuaca di sebagian DKI Jakarta akan mengalami hujan ringan hingga disertai petir pada Minggu pagi hingga malam. Peringatan dini ini relevan dengan kondisi banjir yang terjadi, mengindikasikan potensi peningkatan curah hujan.
Sumber: AntaraNews