Setiap pagi, Suryani berkeliling menjajakan kue di kawasan Jalan Barawaja, Kelurahan Tammua, Kota Makassar. Dari aktivitas itu, perempuan tersebut mengandalkan pemasukan sekitar Rp50 ribu per hari untuk memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus membiayai pendidikan anak.
Di tengah keterbatasan ekonomi, Suryani kini memiliki harapan baru setelah putranya, Muh Rahmatullah, diterima menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 23 Makassar.
Sekolah yang berlokasi di Jalan Salodong, Kelurahan Untia, Kecamatan Biringkanaya itu menerapkan sistem asrama atau Boarding School. Meski harus berpisah dengan anak, Suryani rutin menyempatkan diri datang untuk mengantar bekal sekaligus melepas rindu.
"Tidak bisa datang setiap hari menengok dia (Rahmatullah). Ya, seminggu sekali atau dua minggu sekali datang ke sini," ujarnya.
Advertisement
Bagi Suryani, kesempatan yang diperoleh anaknya menjadi titik penting bagi masa depan keluarga. Ia menilai keberadaan Sekolah Rakyat memberikan ruang pendidikan yang sebelumnya sulit dijangkau.
"Sekolah Rakyat ini membantu sekali, karena anak saya bisa terpanggil di sini dan gratis," kata dia.
Suryani mengaku awalnya tidak mengetahui adanya proses pendaftaran tersebut. Ia baru memahami setelah pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) datang dan menanyakan data anaknya.
"Saya tidak tahu sebenarnya. Tapi karena ada petugas sosial (PKH) datang ke rumah mencari nama anak saya. Saya juga sempat kaget, ada apa," kenang Suryani.
Dari pertemuan itu, pendamping PKH kemudian menjelaskan kesempatan untuk mengikuti program Sekolah Rakyat. Setelah berdiskusi dan memahami konsep pembelajaran yang ditawarkan, Suryani memutuskan menerima kesempatan tersebut.
"Akhirnya kita ngobrol. Saya sangat terbantu dan tertarik, saya mau," sebutnya.
Advertisement
Meski demikian, keputusan tersebut sempat tidak berjalan mulus. Rahmatullah awalnya memiliki keinginan melanjutkan pendidikan ke pondok pesantren.
Suryani lalu mencoba meyakinkan anaknya dengan menjelaskan kondisi ekonomi keluarga dan peluang pendidikan yang tersedia melalui Sekolah Rakyat. Setelah melalui berbagai pertimbangan, Rahmatullah akhirnya bersedia mengikuti program tersebut.
"Awalnya juga anak saya tidak mau, karena pikir mondok (pondok pesantren). Sering-sering saya bujuk, kasih arahan yang baik dan akhirnya dia mau," ungkapnya.
Menurut Suryani, program pendidikan gratis tersebut sangat membantu keluarga karena tidak membutuhkan biaya pendidikan tambahan.
"Ini program dari presiden sangat membantu, karena kalau sekolah lain, kita yang membayar. Ini alhamdulillah meringankan beban betul orang tua. Kami tidak pernah dipungut biaya, malah kami dikasih uang transpor untuk pulang," ujarnya.
Kini Rahmatullah telah menjalani pendidikan selama hampir satu tahun. Lingkungan baru dan pola belajar berasrama perlahan membuatnya nyaman.
Ia mengaku sempat ragu di awal, tetapi akhirnya menikmati proses belajar dan aktivitas sehari-hari bersama teman-temannya.
"Senang sekali. Semua suka maptel (mata pelajaran), termasuk Tahfiz juga," kata dia.
Advertisement
Di hadapan ibunya, Rahmatullah menyampaikan tekad untuk belajar lebih serius demi mewujudkan cita-cita menjadi dokter. Meski sesekali merindukan keluarga, ia mulai terbiasa dengan kehidupan di asrama.
"Kadang kangen, tapi harus (terpisah dari orang tua)," kata Rahmatullah.
Kepala SRMP 23 Makassar, Radiah, mengatakan angkatan pertama sekolah tersebut diisi 150 siswa yang berasal dari keluarga penerima bantuan pemerintah.
"Seratus lima puluh siswa ini sudah di SK-kan oleh Wali Kota Makassar," kata Radiah.
Menurutnya, pola pendidikan berasrama memang membutuhkan masa penyesuaian karena peserta didik harus belajar hidup mandiri jauh dari keluarga.
"Mudah-mudahan dengan Sekolah Rakyat ini adalah jalan akses buat anak-anak kita yang dari kaum dhuafa, keluarga yang mungkin ekonominya kurang dibanding lainnya bisa mendapatkan akses pendidikan yang layak," kata dia.
"Sehingga nanti bisa meningkatkan taraf kehidupan, bisa cerdas tidak hanya secara intelektual. Tetapi juga punya karakter yang kuat keterampilan yang mumpuni dan juga karakter yang tangguh," ucapnya.
Sementara itu, Kementerian Sosial terus melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program Sekolah Rakyat di berbagai daerah.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf mengakui pada fase awal pelaksanaan terdapat sejumlah tantangan adaptasi, baik dari tenaga pendidik maupun peserta didik terhadap sistem Boarding School.
“Awal-awal dulu ada guru dan juga murid yang mundur," ujarnya saat mengunjungi Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 26 Makassar, Sabtu (18/4).
Namun seiring berjalannya waktu, proses pembelajaran dinilai semakin stabil dan tingkat penerimaan terhadap sistem berasrama terus meningkat.
"Bulan kedua, ketiga, hingga seterusnya program mulai berjalan dengan baik. Semua saling menyesuaikan diri," kata mantan Wakil Gubernur Jawa Timur ini.
Ia menilai pola pendidikan berasrama berperan dalam membentuk disiplin dan kebiasaan belajar yang lebih terstruktur.
“Untuk membiasakan mereka bangun pagi, mengikuti jadwal yang padat sampai malam hari, itu memang memerlukan waktu,” ujarnya.
"Sekarang sudah tidak ada lagi yang mengundurkan diri. Artinya program ini semakin diterima dan berjalan lebih baik,” ucapnya.