Perkuat Keamanan Siber, BCA Adopsi Kerangka Kerja Internasional dan Tingkatkan Kapabilitas Tim
PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mengambil langkah strategis untuk memperkuat keamanan siber BCA melalui adopsi kerangka kerja internasional dan peningkatan kompetensi sumber daya manusia. Ini dilakukan untuk menghadapi ancaman siber yang kian kompleks di e
PT Bank Central Asia Tbk (BCA) secara proaktif memperkuat kapabilitas tim keamanan siber dan sistemnya. Langkah ini diambil untuk menghadapi berbagai ancaman siber yang semakin kompleks di era digital saat ini. Peningkatan ini mencakup sertifikasi sumber daya manusia serta penerapan kerangka kerja siber berstandar internasional.
Penguatan ini merupakan bagian dari strategi komprehensif BCA dalam mengelola risiko siber. Ancaman seperti phishing, social engineering, hingga serangan Distributed Denial of Service (DDoS) menjadi fokus utama mitigasi. Ferdinan Marlim, SVP IT Security BCA, menjelaskan bahwa inisiatif ini sangat penting untuk menjaga integritas sistem.
Untuk mencapai tujuan tersebut, BCA mengadopsi kerangka kerja dari National Institute of Standards and Technology (NIST) Cybersecurity Framework (CSF). Kerangka kerja ini mencakup identifikasi, perlindungan, deteksi, respons, pemulihan, dan tata kelola risiko. Penerapan ini memastikan prosedur penanganan insiden berjalan sesuai standar global.
Adopsi Kerangka Kerja Internasional dan Sertifikasi Sistem
Ferdinan Marlim mengungkapkan bahwa BCA mengadopsi kerangka kerja NIST Cybersecurity Framework (CSF) yang mencakup tahapan identifikasi, perlindungan, deteksi, respons, pemulihan, dan tata kelola risiko siber. Penerapan framework tersebut membantu perusahaan memetakan potensi risiko secara sistematis sekaligus memastikan prosedur penanganan insiden berjalan sesuai standar global.
Pada aspek teknologi, BCA juga mengambil sertifikasi-sertifikasi ISO yang terkait keamanan sistem informasi. Sertifikasi ini mencakup keamanan untuk jasa pembayaran dan privasi data. Hal ini menunjukkan komitmen BCA dalam menjaga standar keamanan data nasabah dan layanan perbankan digital.
Langkah ini dilakukan seiring meningkatnya penggunaan layanan digital perbankan yang turut memperbesar eksposur terhadap risiko serangan siber. Peningkatan ini memerlukan perlindungan ekstra yang kuat. Oleh karena itu, investasi dalam teknologi keamanan menjadi prioritas utama bagi BCA.
Peningkatan Kompetensi SDM dan Pusat Pemantauan Keamanan
Selain teknologi, BCA juga mendorong peningkatan kompetensi tim keamanan melalui berbagai sertifikasi profesional. Sertifikasi ini berfokus pada bidang keamanan sistem informasi serta sertifikasi ISO terkait keamanan data dan layanan pembayaran. Peningkatan kapabilitas sumber daya manusia menjadi pilar penting dalam strategi keamanan siber BCA.
Ferdinan menambahkan bahwa perusahaan mengoperasikan pusat pemantauan keamanan (Security Monitoring Center) yang bekerja selama 24 jam. Pusat ini berfungsi untuk mendeteksi dan merespons potensi ancaman secara cepat. Keberadaan pusat pemantauan ini krusial untuk menjaga sistem tetap aman setiap saat.
Secara keseluruhan, BCA memperkuat tiga hal untuk menjadi fokus dalam memproteksi sistem melawan kejahatan daring, yakni manusia (people), proses (process), dan teknologi (technology). Aspek manusia ditekankan melalui sosialisasi awareness kepada karyawan, manajemen, dan direksi dengan terus-menerus mengingatkan bahaya phishing dan modus kejahatan siber lain. Simulasi phishing juga dilakukan untuk mengetes kesadaran karyawan terhadap situs palsu.
Edukasi Nasabah dan Prosedur Transaksi Ketat
SVP Wholesale Transaction Banking Product Development BCA, Martinus Robert Winata, menyatakan bahwa penguatan kapabilitas internal turut didukung penerapan prosedur transaksi yang ketat. Ini termasuk mekanisme pengawasan ganda (double control) dalam layanan korporasi. Tujuannya adalah meminimalkan potensi penyalahgunaan dan meningkatkan keamanan transaksi nasabah.
BCA mengimbau nasabah untuk tidak membagikan data sensitif seperti PIN, kata sandi, maupun kode autentikasi kepada pihak mana pun. Bank tidak pernah meminta informasi pribadi tersebut dari nasabah. Peringatan ini sangat penting untuk mencegah kejahatan siber seperti phishing dan social engineering.
Robert juga mengingatkan nasabah agar selalu awas dan tidak mudah terpancing alamat situs palsu. Nasabah dianjurkan untuk selalu masuk menggunakan alat pencarian resmi dan tidak membagikan data-data sensitif ke orang lain. Kesadaran dan kewaspadaan nasabah adalah benteng terakhir dalam menghadapi modus kejahatan siber yang terus berkembang.
Sumber: AntaraNews