Riset UI Ungkap Ruang Siber Jadi Medan Rivalitas Geopolitik Global yang Krusial
Riset UI oleh Ali Abdullah Wibisono mengungkap ruang siber kini menjadi medan rivalitas geopolitik global yang strategis. Ini krusial bagi keamanan nasional dan ekonomi digital Indonesia.
Riset terbaru dari Dosen Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia (UI), Ali Abdullah Wibisono, mengungkapkan bahwa ruang siber telah bertransformasi menjadi medan strategis dalam rivalitas geopolitik global. Temuan ini menyoroti pergeseran fokus konflik antarnegara dari ranah fisik ke digital.
Bekerja sama dengan Australian Strategic Policy Institute (ASPI), riset ini menekankan bahwa ketergantungan negara pada infrastruktur digital, mulai dari sistem perbankan hingga pertahanan, membuat serangan siber memiliki dampak serius terhadap keamanan nasional. Ali Abdullah Wibisono menyatakan bahwa ruang digital kini menjadi domain kelima dalam perang modern.
Pernyataan ini disampaikan Ali Abdullah di Kampus UI Depok pada Jumat (13/3), menegaskan perlunya statecraft dan strategi diplomasi khusus untuk menghadapi dinamika baru ini. Indonesia sendiri menghadapi berbagai tantangan domestik dan tekanan geopolitik global dalam mengembangkan diplomasi siber.
Pergeseran Konflik dan Tantangan Diplomasi Siber Indonesia
Ali Abdullah Wibisono menjelaskan bahwa ruang siber telah berevolusi dari sekadar arena teknologi menjadi medan strategis. Pergeseran ini menandai era baru di mana konflik antarnegara tidak lagi terbatas pada medan fisik, melainkan meluas ke ranah digital. Hal ini menuntut setiap negara untuk mengembangkan strategi keamanan dan diplomasi yang adaptif.
Indonesia menghadapi sejumlah tantangan domestik dalam membangun diplomasi sibernya. Keterbatasan kerangka hukum dan kesenjangan infrastruktur digital menjadi hambatan utama. Selain itu, tekanan geopolitik global, terutama rivalitas antara Amerika Serikat dan Tiongkok, turut memengaruhi persaingan teknologi di kawasan Indo-Pasifik.
Dalam konteks ini, Indonesia berada dalam dilema politik luar negeri bebas aktif. Negara harus menyeimbangkan antara keterbukaan ekonomi dan upaya menjaga kedaulatan digitalnya. Strategi yang tepat sangat dibutuhkan untuk memastikan Indonesia tidak terjebak dalam pusaran persaingan kekuatan besar.
Intensitas Ancaman Siber dan Pentingnya Kedaulatan Digital
Ketua Indonesia Cyber Security Forum (ISCF), Ardi Sutedja, turut menyoroti urgensi isu ini dengan memaparkan data mengejutkan. Dalam enam bulan terakhir, Indonesia mencatat sekitar 3,64 miliar serangan siber. Angka ini setara dengan lebih dari 230 serangan per detik, menunjukkan intensitas ancaman yang sangat tinggi.
Ardi Sutedja menegaskan bahwa data tersebut merupakan “alarm serius” mengenai gentingnya keamanan siber nasional. Indonesia menghadapi tantangan strategis seperti diplomasi data dengan negara lain, pengaturan cross-border data flow, serta upaya fundamental menjaga kedaulatan digital nasional.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, pemerintah perlu mengambil langkah konkret. Penguatan regulasi, pengembangan teknologi lokal, dan perlindungan hak digital masyarakat menjadi prioritas. Diplomasi siber juga memiliki potensi besar untuk mendukung pertumbuhan ekonomi digital nasional.
Ardi Sutedja menekankan pentingnya pendekatan diplomasi modern yang melibatkan kolaborasi lintas sektor dan multi-stakeholder. Akademisi, industri teknologi, dan aktor non-negara harus bersinergi. Kolaborasi ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem siber yang kuat dan aman bagi Indonesia.
Sumber: AntaraNews