Peran Vital Arsitektur dalam Mitigasi Bencana dan Ketahanan Nasional
Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya tekankan peran vital arsitektur dalam mitigasi bencana dan ketahanan nasional. Inovasi desain dapat ubah bahaya jadi risiko terkendali, bukan sekadar estetika.
Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, menegaskan pentingnya peran arsitektur dalam mitigasi bencana dan ketahanan nasional. Pernyataan ini disampaikan saat ia menghadiri International Disaster Resilience Workshop & Conference 2026 di Banda Aceh pada Jumat lalu. Acara tersebut berfokus pada peran desain dalam menghadapi risiko bencana alam.
Menurut Teuku Riefky, arsitektur telah berevolusi dari sekadar seni desain menjadi sains untuk bertahan hidup. Melalui inovasi desain, para arsitek memiliki kemampuan untuk mengubah potensi bahaya menjadi risiko yang dapat dikelola dengan baik. Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) berkomitmen penuh untuk memperkuat subsektor strategis ini.
Konferensi yang bertema “Architecture: Disaster Risk Reduction, Resilience & Recovery (DR3)” ini berlangsung dari tanggal 17 hingga 19 April. Kehadiran pemerintah di forum internasional ini menunjukkan komitmen terhadap inovasi arsitektur berkualitas tinggi sebagai bagian dari ekonomi kreatif nasional.
Arsitektur: Dari Seni Desain Menuju Sains Bertahan Hidup
Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menyoroti pergeseran paradigma dalam dunia arsitektur. Ia menjelaskan bahwa arsitektur kini tidak lagi terbatas pada aspek estetika semata, melainkan telah menjadi komponen vital dalam mitigasi bencana. Peran ini sangat krusial untuk membangun ketahanan nasional yang lebih baik.
“Arsitektur berevolusi dari seni desain menjadi sains untuk bertahan hidup. Melalui inovasi desain, arsitek dapat mengubah bahaya menjadi risiko yang dapat dikelola,” ujar Teuku Riefky dalam sebuah pernyataan. Hal ini menunjukkan potensi besar arsitektur dalam menghadapi tantangan lingkungan.
Kemenekraf secara tegas menyatakan komitmennya untuk memperkuat peran arsitektur sebagai subsektor strategis ekonomi kreatif. Langkah ini bertujuan untuk berkontribusi pada ketahanan ekonomi serta upaya mitigasi bencana di seluruh Indonesia. Penguatan ini diharapkan mampu mendorong pertumbuhan sektor kreatif.
Kontribusi Ekonomi dan Komitmen Kemenekraf
Subsektor arsitektur telah menunjukkan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional. Pada tahun 2024, sektor ini berhasil menciptakan 61.442 lapangan kerja baru. Angka ini menunjukkan bahwa arsitektur bukan hanya tentang bangunan, tetapi juga penggerak ekonomi yang penting.
Lebih lanjut, kontribusi arsitektur terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai lebih dari 2,1 miliar dolar AS. Sementara itu, total investasi yang masuk ke subsektor ini sekitar 22 juta dolar AS pada periode yang sama. Data ini menggarisbawahi peran besar arsitek Indonesia dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.
Kemenekraf menegaskan bahwa angka-angka tersebut mencerminkan vitalnya peran arsitek Indonesia dalam memajukan perekonomian. Komitmen pemerintah dalam mendukung inovasi dan kualitas karya arsitektur menjadi bagian integral dari strategi ekonomi kreatif nasional. Ini adalah bukti nyata dukungan terhadap profesi arsitek.
Kolaborasi Lintas Sektor dan Pengakuan Internasional
Menteri Teuku Riefky juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat ekosistem ekonomi kreatif. Kemitraan dengan berbagai pihak, termasuk Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), menjadi kunci utama dalam mencapai tujuan ini. Sinergi antarlembaga diharapkan dapat menghasilkan solusi inovatif.
Konferensi Internasional yang diselenggarakan di Banda Aceh ini menjadi agenda pertama Union Internationale des Architectes (UIA) di Indonesia sejak organisasi tersebut berdiri pada tahun 1948. Ini menandai pengakuan global terhadap peran Indonesia dalam arsitektur dan mitigasi bencana. Acara ini berlangsung dari tanggal 17 hingga 19 April.
Pemilihan Banda Aceh sebagai kota tuan rumah dilakukan tanpa proses penawaran. Kota ini diakui secara global sebagai contoh ketahanan dan rekonstruksi pascabencana yang patut dicontoh. Pengakuan ini memperkuat posisi Indonesia di mata dunia dalam penanganan bencana.
Sumber: AntaraNews