Penurunan Kemiskinan Kaltim: Serapan Tenaga Kerja Jadi Kunci Utama
Provinsi Kalimantan Timur menunjukkan tren positif dalam Penurunan Kemiskinan Kaltim berkat tingginya serapan tenaga kerja. Simak data terbaru BPS Kaltim yang membuat pembaca penasaran.
Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) mencatat capaian signifikan dalam upaya mengurangi jumlah penduduk miskin di wilayahnya. Penurunan ini terjadi berkat tingginya serapan tenaga kerja di berbagai sektor. Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim menunjukkan tren positif ini.
Kepala BPS Kaltim, Mas’ud Rifai, menyatakan bahwa angka kemiskinan di Kaltim berada di posisi tujuh terendah secara nasional. Sektor perdagangan, pertanian, penyediaan akomodasi, dan konstruksi menjadi pendorong utama penyerapan tenaga kerja. Hal ini berkontribusi langsung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Penurunan angka kemiskinan ini merupakan hasil dari berbagai program pembangunan dan pertumbuhan ekonomi daerah. Meskipun ada sedikit fluktuasi, arah umum menunjukkan perbaikan yang berkelanjutan. Masyarakat Kaltim kini merasakan dampak positif dari kebijakan ekonomi yang diterapkan.
Tren Penurunan Angka Kemiskinan Kaltim yang Berkelanjutan
Data BPS Kaltim menunjukkan bahwa persentase dan jumlah penduduk miskin di Kalimantan Timur mengalami penurunan signifikan sejak September 2022. Pada September 2022, tercatat 242,3 ribu penduduk miskin atau 6,44 persen dari total populasi. Angka ini terus menunjukkan Penurunan Kemiskinan Kaltim.
Memasuki Maret 2023, jumlah penduduk miskin turun menjadi 231,07 ribu jiwa atau 6,11 persen. Tren positif berlanjut hingga Maret 2024 dengan 221,34 ribu warga miskin atau 5,78 persen. Pada September 2024, angka ini kembali menyusut menjadi 211,88 ribu jiwa atau 5,17 persen.
Maret 2025 mencatat penurunan lebih lanjut menjadi 199,71 ribu penduduk miskin atau 5,17 persen. Meskipun demikian, pada September 2025 terjadi sedikit kenaikan menjadi 202,04 ribu warga miskin atau 5,19 persen. Fluktuasi kecil ini tetap menunjukkan gambaran umum Penurunan Kemiskinan Kaltim yang positif.
Disparitas Kemiskinan Antara Perkotaan dan Perdesaan
Perbedaan tingkat kemiskinan antara wilayah perkotaan dan perdesaan di Kaltim masih cukup signifikan. Pada September 2025, tingkat kemiskinan keseluruhan Kaltim adalah 5,10 persen. Angka ini merupakan gabungan dari kemiskinan di perdesaan sebesar 7,24 persen dan di perkotaan 4,31 persen.
Data serupa juga terlihat pada Maret 2025, di mana tingkat kemiskinan Kaltim mencapai 5,17 persen. Saat itu, kemiskinan di perdesaan tercatat lebih tinggi, yakni 7,48 persen. Sementara itu, tingkat kemiskinan di perkotaan berada pada angka 4,16 persen.
Perbedaan ini mengindikasikan bahwa upaya Penurunan Kemiskinan Kaltim perlu lebih difokuskan pada area perdesaan. Strategi pembangunan yang lebih merata dan inklusif sangat dibutuhkan. Ini untuk memastikan seluruh lapisan masyarakat merasakan dampak positif pertumbuhan ekonomi.
Garis Kemiskinan dan Peran Komoditas Pangan
Penduduk miskin didefinisikan sebagai individu dengan pendapatan di bawah Garis Kemiskinan (GK). GK Kaltim mengalami kenaikan sejak Maret hingga September 2025, sebesar 3,64 persen. Dari Rp 866.193 per kapita per bulan pada Maret, menjadi Rp 897.759 per kapita per bulan pada September 2025.
Peranan komoditas makanan terhadap Garis Kemiskinan jauh lebih dominan dibandingkan komoditas non-makanan. Hal ini menunjukkan bahwa harga kebutuhan pokok sangat berpengaruh pada tingkat kemiskinan. Kenaikan harga pangan dapat langsung mendorong peningkatan angka kemiskinan.
Pada September 2025, komoditas makanan menyumbang sebesar 70,13 persen terhadap GK. Sementara itu, komoditas bukan makanan hanya berkontribusi 29,87 persen. Fakta ini menegaskan pentingnya stabilitas harga pangan dalam upaya Penurunan Kemiskinan Kaltim.
Sumber: AntaraNews