Penguatan Posyandu Sigi: Strategi Pemkab Tekan Stunting dan Kemiskinan Ekstrem
Pemerintah Kabupaten Sigi memperkuat peran Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) sebagai ujung tombak layanan sosial terpadu untuk menekan angka stunting dan kemiskinan ekstrem di daerah tersebut. Penguatan Posyandu Sigi ini menjadi kunci intervensi yang tepat
Pemerintah Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, mengambil langkah strategis dengan mendorong penguatan peran Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) di wilayahnya. Upaya ini bertujuan untuk menekan kasus stunting serta kemiskinan ekstrem yang masih menjadi tantangan di daerah tersebut. Bupati Sigi, Moh Rizal Intjenae, menegaskan pentingnya Posyandu sebagai simpul layanan sosial terpadu.
Moh Rizal Intjenae menyampaikan bahwa Posyandu kini tidak hanya berfungsi sebagai pusat layanan kesehatan dasar ibu dan anak. Lebih dari itu, Posyandu bertransformasi menjadi ruang kolaborasi lintas sektor untuk menjawab berbagai persoalan sosial masyarakat secara terintegrasi. Hal ini sejalan dengan dorongan pemerintah pusat agar pemerintah daerah memperkuat basis layanan masyarakat hingga level desa.
Penguatan Posyandu Sigi ini diharapkan menjadi titik temu bagi berbagai layanan penting, mulai dari kesehatan, perlindungan sosial, pendidikan keluarga, hingga intervensi kemiskinan. Pendekatan kolaboratif ini menjadi krusial untuk memastikan intervensi yang dilakukan tepat sasaran dan efektif dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Peran Strategis Posyandu dalam Penurunan Stunting
Posyandu memegang peran strategis yang semakin diperkuat dalam upaya percepatan penurunan stunting di Kabupaten Sigi. Bupati Sigi Moh Rizal Intjenae menekankan bahwa keberadaan Posyandu sebagai simpul layanan sosial terpadu sangat vital dalam mencapai target penurunan stunting. Ini bukan lagi sekadar layanan kesehatan, melainkan sebuah platform kolaborasi berbagai pihak.
Melalui penguatan Posyandu, diharapkan terjadi peningkatan koordinasi antara tenaga kesehatan, kader Posyandu, pemerintah desa, dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait. Koordinasi ini penting untuk pemantauan ibu hamil, balita berisiko stunting, serta edukasi keluarga mengenai gizi dan kesehatan. Keberhasilan penanganan stunting sangat bergantung pada kerja tim yang solid dan konsistensi pelayanan hingga level desa.
Data menunjukkan bahwa kasus stunting di Kabupaten Sigi mengalami penurunan signifikan. Pada tahun 2025, angka stunting berhasil diturunkan menjadi 11,55 persen, jauh lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di angka 33 persen. Pencapaian ini merupakan bukti nyata efektivitas program dan penguatan peran Posyandu.
Intervensi Komprehensif Atasi Kemiskinan Ekstrem
Penanganan kemiskinan di Kabupaten Sigi tidak hanya berfokus pada pemberian bantuan semata, tetapi menyasar akar persoalan melalui intervensi lintas sektor yang komprehensif. Bupati Rizal menegaskan bahwa pembenahan data sosial menjadi fondasi kebijakan pemerintah daerah. Data yang akurat akan memungkinkan seluruh lintas sektor, dari desa hingga OPD terkait, melakukan validasi data masyarakat miskin, kepesertaan bantuan sosial, serta basis data penerima layanan kesehatan.
Kesesuaian data menjadi kunci utama agar intervensi pemerintah tepat sasaran dan mencegah masyarakat rentan tidak terlewatkan dari program perlindungan sosial. Intervensi ini mencakup berbagai aspek, mulai dari penyediaan perumahan layak huni, peningkatan akses pendidikan, layanan kesehatan yang memadai, hingga program pemberdayaan keluarga untuk meningkatkan kemandirian ekonomi.
Menurut data tahun 2024, masyarakat miskin di Kabupaten Sigi berjumlah 31.470 jiwa atau sekitar 12,83 persen dari total penduduk. Sementara itu, masyarakat dengan status miskin ekstrem tercatat sebanyak 5.080 jiwa, dengan persentase mencapai 2,07 persen. Angka-angka ini menjadi target utama upaya pengentasan kemiskinan melalui pendekatan terpadu yang digalakkan Pemkab Sigi.
Kolaborasi Lintas Sektor untuk Keberhasilan Program
Keberhasilan program penurunan stunting dan pengentasan kemiskinan ekstrem di Kabupaten Sigi sangat bergantung pada kolaborasi lintas sektor yang kuat. Posyandu didorong menjadi pusat kolaborasi yang melibatkan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, tenaga kesehatan, kader masyarakat, dan organisasi terkait. Ini menandai pergeseran dari kerja sektoral menjadi kerja kolaboratif yang terintegrasi.
Bupati Sigi berharap seluruh elemen, mulai dari tenaga kesehatan, kader Posyandu, pemerintah desa, hingga OPD terkait, dapat memperkuat koordinasi. Sinergi ini penting dalam pemantauan kesehatan ibu dan anak, identifikasi balita berisiko stunting, serta penyediaan edukasi yang berkelanjutan bagi keluarga. Pendekatan ini memastikan bahwa setiap upaya saling mendukung dan memperkuat satu sama lain.
Penguatan Posyandu sebagai simpul layanan sosial terpadu mencerminkan komitmen Pemkab Sigi untuk mencapai kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh. Melalui data yang akurat dan intervensi yang tepat sasaran, kolaborasi ini diharapkan mampu menciptakan dampak positif yang signifikan dan berkelanjutan bagi Kabupaten Sigi.
Sumber: AntaraNews