Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sigi, Sulawesi Tengah, secara tegas mengingatkan seluruh jajaran kecamatan dan desa di wilayahnya. Imbauan ini bertujuan agar setiap lini pemerintahan memiliki strategi serta langkah nyata yang terukur dalam upaya percepatan penurunan kasus stunting. Hal ini menjadi krusial mengingat dampak stunting terhadap masa depan generasi penerus bangsa.
Wakil Bupati Sigi, Samuel Yansen Pongi, menekankan pentingnya sinergi dan kolaborasi erat antara pemerintah daerah dengan berbagai organisasi perangkat daerah (OPD) terkait. Selain itu, peran aktif para bidan desa juga dianggap vital dalam penanganan stunting yang efektif. Keterlibatan semua pihak diharapkan mampu menciptakan intervensi yang tepat sasaran.
Samuel Yansen Pongi menyatakan bahwa Pemkab Sigi secara rutin melaksanakan monitoring dan evaluasi terhadap inovasi yang diterapkan dalam penurunan stunting menuju Sigi Emas. "Pemerintah daerah rutin melakukan monitoring dan evaluasi inovasi penurunan stunting menuju Sigi Emas serta memastikan seluruh kecamatan dan desa mempunyai langkah nyata yang terukur dalam menangani stunting di masing-masing wilayahnya," ujarnya di Kabupaten Sigi, Kamis.
Advertisement
Advertisement
Pentingnya Kolaborasi dan Data Akurat dalam Penanganan Stunting
Persoalan stunting bukan hanya sekadar masalah kesehatan, melainkan isu fundamental yang menyangkut masa depan generasi penerus bangsa, khususnya di Kabupaten Sigi. Untuk itu, Wakil Bupati Sigi sangat berharap adanya kerja sama yang solid dari berbagai pihak terkait. Pihak-pihak tersebut meliputi seluruh kepala desa, kepala puskesmas, dan tim percepatan penurunan stunting.
Samuel Yansen Pongi menekankan bahwa kerja sama ini harus didasari oleh penggunaan data yang akurat. Dengan data yang valid, intervensi yang dibentuk oleh pemerintah daerah dapat benar-benar tepat sasaran dan memberikan dampak maksimal. "Saya harap seluruh kepala desa, kepala puskesmas, dan tim percepatan penurunan stunting dapat bekerja dengan menggunakan data akurat sehingga intervensi yang dibentuk pemerintah daerah bisa tepat sasaran," tegasnya.
Ke depan, sinergi antara tenaga kesehatan dan masyarakat menjadi kunci utama untuk mencapai target bebas stunting di Kabupaten Sigi. Upaya ini merupakan bagian dari visi mewujudkan generasi sehat menuju Sigi Emas. Para bidan desa juga diminta untuk terus memperbarui data terkait stunting secara berkala di wilayah masing-masing.
Advertisement
Pemutakhiran data secara rutin akan memastikan keakuratan informasi, sehingga masalah stunting dapat diselesaikan dengan baik dan terarah. Langkah ini diharapkan dapat mempercepat progres penurunan angka stunting secara signifikan di seluruh wilayah Sigi.
Advertisement
Kenaikan Kasus Stunting di Sigi Menjadi Perhatian Serius
Fakta mengejutkan terungkap mengenai kondisi stunting di Kabupaten Sigi, di mana terjadi kenaikan kasus yang signifikan pada tahun 2024. Angka stunting di daerah tersebut mencapai 33 persen, sebuah peningkatan yang memerlukan perhatian serius dari semua pihak. Kenaikan ini membalik tren positif yang terjadi sebelumnya.
Selama tiga tahun terakhir, sejak tahun 2021 hingga 2023, Kabupaten Sigi sebenarnya mencatat penurunan angka stunting yang cukup menggembirakan. Namun, pada tahun 2024, terjadi kenaikan sebesar 6,6 persen, dari sebelumnya 26,4 persen menjadi 33 persen. Data ini menunjukkan adanya tantangan baru yang harus segera diatasi.
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Sulawesi Tengah, Kabupaten Sigi tidak sendiri dalam menghadapi kenaikan kasus stunting ini. Terdapat lima daerah lain di Sulteng yang juga mengalami peningkatan serupa pada tahun 2024. Daerah-daerah tersebut antara lain Buol dengan 36,9 persen, Banggai Kepulauan menjadi 28,4 persen, Banggai Laut 26,6 persen, dan Kota Palu 25,6 persen. Kondisi ini mengindikasikan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap program-program penanganan stunting di tingkat provinsi.
Advertisement
Sumber: AntaraNews