Pemprov Jatim Tutup 4 Tempat Wisata Imbas Longsor di Mojokerto
Sejumlah tempat wisata yang terletak di Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo ditutup hingga batas waktu yang tidak ditentukan.
Sejumlah tempat wisata yang terletak di Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo ditutup hingga batas waktu yang tidak ditentukan.
Keputusan penutupan ini imbas dari bencana tanah longsor yang terjadi di Jalur Pacet - Cangar, Mojokerto, Jawa Timur pada Kamis (3/4) kemarin.
Penutupan sejumlah tempat wisata ini disampaikan oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indarparawansa. Khofifah menyatakan, sebagai langkah preventif-kuratif Pemprov Jawa Timur melalui UPT Tahura Raden Soerjo, telah melakukan penutupan sementara beberapa Objek Wisata yang terletak di sekitar kawasan tersebut.
Beberapa obyek wisata itu antara lain, pemandian air panas Cangar, Coban Watu Ondo, Coban Watu Lumpang dan Wisata Panorama Petung Sewu. Obyek wisata ini ditutup mulai tanggal 3 April 2025 sampai batas waktu yang belum ditentukan.
“Penutupan ini dilakukan sebagai langkah mitigasi bencana dengan mempertimbangkan adanya cuaca ekstrim, hujan deras dan potensi longsor di sepanjang Jalan Raya Pacet Cangar,” usar Khofifah, Jumat (4/4).
Selain itu, Khofifah juga turut menyampaikan bela sungkawa kepada korban meninggal dunia akibat bencana tanah longsor itu.
"Innalillahi wa Inna Ilaihi Raji'un. Saya atas nama pribadi dan mewakili Pemerintah Provinsi Jatim turut berbela sungkawa kepada para korban meninggal akibat bencana longsong di jalur Pacet-Cangar," kata Khofifah.
Dia juga mendoakan agar keluarga yang ditinggalkan, selalu diberi kesabaran dan kekuatan dengan adanya ujian bencana ini.
"Semoga keluarga diberi ketabahan, dan almarhum/almarhumah diberi tempat yang layak di sisi Allah SWT," ucapnya sembari membaca Al-Fatihah.
Lebih lanjut Khofifah mengatakan, Tim SAR gabungan polisi, TNI, Basarnas, BPBD dan para relawan telah mengevakuasi 10 jasad korban. Diantaranya adalah 7 penumpang mobil inova dan 3 penumpang mobil pick up.
"Semua korban telah berhasil dievakuasi. Operasi pencarian korban longsor telah ditutup. Terima kasih kepada tim gabungan SAR yang telah melakukan proses pencarian dan evakusasi,” katanya.
Diketahui, bencana tanah longsor terjadi di jalur Pacet-Cangar, tepatnya di sekitar Wisata Air Terjun Watu Lumpang, Desa Pacet, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto. Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 11.30 WIB, saat tanah dan batuan dari tebing yang curam meluncur ke jalur Pacet-Batu.
Dua kendaraan, sebuah mobil pick up dan satu kendaraan lain yang belum diketahui jenisnya, tertimpa longsoran tanah dan batu yang menerjang jalur tersebut. Akibat dari bencana itu, 10 orang ditemukan tewas akibat kendaraan yang ditumpangi terseret dan terpendam material longsoran.
Jalur Mojokerto - Batu Ditutup
Jalur lalu lintas alternatif dari Mojokerto menuju Kota Batu via Cangar hingga kini masih ditutup total imbas dari material longsor berupa batu dan tanah masih menutupi badan jalan. Material longsoran tersebebut belum dapat dibersihkan lantaran cuaca dan kontur geografis yang dianggap masih rawan longsor kembali.
Kepala UPT Tahura Raden Soerjo, Ahmad Wahyudi mengatakan, lokasi kejadian tanah longsor di jalur Pacet-Cangar ini medannya curam dengan kontur tanahnya juga labil.
Pihaknya higga kini masih mengggelar evaluasi dan kajian lebih dulu terkait lokasi bencana tanah longsor tersebut. Hal itu dilakukan demi keamanan semua pihak utamanya petugas.
“Untuk aktivitas pembersihan yang menutup jalan, kami akan melakukan evaluasi terhadap lokasi kejadian tanah longsor. Hasilnya nanti kami akan menginformasikan kepada DPUPR dan pihak terkait. Evaluasi hari ini kita harapkan selesai,” katanya, Jumat (4/4).
Permukaan jalan aspal di lokasi kejadian hingga saat ini masih tertimbun material tanah longsor berupa lumpur, bebatuan, dan pohon yang turut terseret. Panjang jalan yang tertimbun tanah longsor kurang lebih mencapai 50 meter.
Wahyudi menyatakan, material longsor itu terjun dari tebing dengan ketinggian yang juga mencapai 50 meter. Pihaknya belum bisa memastikan pemicu longsor ini. Hanya saja, area longsor merupakan vegetasi alami dan terdapat aliran sungai di sekitar lokasi.
“(Pemicu longsor) Belum bisa dipastikan. Memang ada aliran sungai, tapi kita evaluasi dulu. (Area longsor) Itu vegetasi alami,” ungkapnya.
Sementara itu, Kapolres Mojokerto AKBP Irham Kustarto menambahkan, pembersihan material longsor belum bisa dilakukan karena mempertimbangkan cuaca.
“Informasi dari teman-teman Perhutani curah hujan tinggi. Sehingga kita butuh informasi dari BMKG terkait cuaca untuk kita pastikan pelaksanaan pembersihan,” katanya.
Pihaknya akan segera menggelar rapat koordinasi (Rakor) dengan Pemkab Mojokerto dan Pemerintah Provinsi serta instansi terkait untuk membahas langkah-langkah pembersihan material longsor.
“Kita pastikan bagaimana kontur tanahnya, kondisi aliran sungai di atas, apakah berdampak pada tanah di bawah, memastikan kondisi pohon. Dan keempat, tentunya evaluasi cuaca dari BMKG,” tegasnya.