Pemerintah Didesak Serius Tangani Gizi Ibu dan Anak Pasca Bencana
Akademisi menyoroti pentingnya perhatian pemerintah terhadap masalah gizi ibu dan anak pasca bencana, terutama terkait praktik pemberian kental manis yang masih marak di tengah keterbatasan.
Pemerintah Didesak Serius Tangani Gizi Ibu dan Anak Pasca Bencana
Sejumlah akademisi mendesak pemerintah untuk meningkatkan perhatian terhadap kesehatan ibu dan anak yang menjadi korban terdampak bencana banjir di Sumatera. Kondisi darurat pasca bencana seringkali memperburuk masalah gizi, terutama bagi kelompok rentan yang membutuhkan asupan nutrisi memadai. Seruan ini muncul di tengah temuan lapangan yang mengkhawatirkan terkait praktik pemberian pangan yang tidak sesuai.
Guru Besar Ahli Gizi Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Dr. Tria Astika Endah Permatasari, menegaskan bahwa edukasi dan kebijakan yang tegas dari pemerintah sangat dibutuhkan. Ia khawatir, "generasi manis hari ini akan berujung masa depan pahit" jika persoalan gizi ini tidak ditangani secara serius. Pernyataan ini disampaikan dalam keterangan resminya di Jakarta pada Sabtu, 27 Desember 2025.
Kondisi di lapangan menunjukkan adanya berbagai isu pangan yang perlu segera diatasi, termasuk persoalan pemberian kental manis kepada anak-anak. Produk ini seringkali dianggap sebagai pengganti susu, padahal tidak memiliki kandungan gizi yang memadai untuk pertumbuhan optimal. Praktik ini menjadi perhatian serius karena kental manis kerap didistribusikan sebagai bagian dari bantuan sosial masyarakat di daerah bencana.
Bahaya Kental Manis dan Pemahaman Gizi yang Keliru
Dr. Tria Astika Endah Permatasari menyoroti bahwa pemberian kental manis kepada anak-anak di daerah bencana adalah masalah serius yang membutuhkan perhatian pemerintah. Produk ini, yang sering dianggap sebagai susu, sebenarnya tidak dapat memenuhi kebutuhan gizi balita dan anak-anak karena kandungan gulanya yang tinggi serta rendahnya protein, lemak sehat, vitamin, dan mineral penting. Akibatnya, praktik ini dapat membahayakan tumbuh kembang anak dalam jangka panjang.
Temuan ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh akademisi dari UMJ, Universitas Negeri Semarang (Unnes), dan Universitas Aisyiyah Yogyakarta. Riset tersebut menunjukkan bahwa praktik pemberian kental manis kepada balita masih ditemukan secara luas. Penelitian ini mengindikasikan bahwa persoalan gizi anak sangat berkaitan erat dengan pemahaman yang keliru mengenai kandungan dan fungsi produk pangan.
Di sisi lain, faktor sosial dan ekonomi turut mempengaruhi pilihan konsumsi keluarga, terutama di tengah keterbatasan pasca bencana. Keterbatasan akses pangan, air bersih, dan layanan kesehatan membuat kelompok rentan seperti balita, anak-anak, ibu hamil, dan ibu menyusui menjadi pihak yang paling terdampak. Tanpa asupan gizi yang memadai, risiko gangguan kesehatan dan penurunan daya tahan tubuh semakin meningkat, terutama di lingkungan pengungsian yang rawan penyakit.
Pentingnya Pendampingan Gizi di Pengungsian
Koordinator Divisi Pemberdayaan Kesehatan Masyarakat MaKes PP Aisyiyah, Dr. dr. Ekorini Listiowati, MMR., menekankan pentingnya pendampingan gizi yang berkelanjutan bagi keluarga korban bencana. Pendampingan ini krusial untuk mencegah kekeliruan edukasi terkait makanan yang dikonsumsi oleh balita. Tujuannya adalah memastikan anak-anak menerima asupan gizi seimbang untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan optimal mereka, terutama di situasi pascabencana yang penuh tekanan.
Pendampingan yang efektif dapat dilakukan melalui pertemuan rutin dengan orang tua, yang tidak hanya memantau pola makan anak tetapi juga memberikan edukasi langsung. Edukasi ini mencakup informasi mengenai makanan aman untuk balita, pengenalan alternatif pengganti kental manis yang lebih bergizi, serta pelatihan memasak dari bahan-bahan yang mudah dijangkau di lokasi bencana. Kampanye "Isi Piringku" juga dapat diintegrasikan untuk memberikan pemahaman praktis tentang porsi dan jenis makanan yang seimbang.
Melalui pendekatan komprehensif ini, diharapkan masyarakat dapat memiliki pemahaman yang lebih baik tentang pentingnya gizi yang tepat. Pendampingan ini juga bertujuan untuk memberdayakan keluarga agar dapat membuat pilihan pangan yang lebih baik, bahkan dalam kondisi sulit. Pemerintah dan berbagai pihak terkait perlu berkolaborasi untuk memastikan program pendampingan ini berjalan optimal dan menjangkau seluruh kelompok rentan di daerah bencana.
Sumber: AntaraNews