Fakta Mengejutkan: Kental Manis Bukan Susu, 40 Balita Stunting di Bantargebang Terima Pendampingan Gizi
40 balita stunting dan malnutrisi di Bantargebang, Bekasi, menerima program pendampingan gizi dari Aisyiyah dan YAICI. Ternyata, banyak orang tua salah kaprah soal kental manis yang justru picu stunting.
Sebanyak 40 balita di Kelurahan Ciketing Udik, Kecamatan Bantargebang, Kota Bekasi, kini menerima program pendampingan perbaikan gizi. Inisiatif ini digagas oleh Pengurus Pusat (PP) Aisyiyah bersama Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI). Program ini bertujuan mengatasi masalah gizi serius yang dialami anak-anak di wilayah tersebut.
Anggota Majelis Kesehatan PP Aisyiyah, Diah Lestari, menjelaskan bahwa program ini menyasar balita dengan kondisi stunting dan malnutrisi akut atau wasting. Selain itu, satu anak terdeteksi tuberkulosis (TBC) dan satu anak lain tinggal bersama keluarga penderita TBC juga menjadi fokus. Mayoritas orang tua penerima manfaat bekerja sebagai pemulung, sehingga akses makanan sehat bergizi masih terbatas.
Program pendampingan gizi ini dijadwalkan berlangsung selama dua bulan ke depan, dimulai sejak 22 September. Pendampingan dilakukan langsung oleh kader posyandu dengan skema satu kader mendampingi empat balita. Kegiatan ini mencakup edukasi menu sehat, pemantauan tumbuh kembang, serta kunjungan ke rumah keluarga penerima manfaat.
Mengenal Lebih Dekat Program Pendampingan Gizi di Bantargebang
Program pendampingan perbaikan gizi ini merupakan upaya konkret untuk menekan angka prevalensi stunting di wilayah Bantargebang. Diah Lestari dari PP Aisyiyah mengungkapkan, "Program pendampingan ini menyasar balita dengan kondisi stunting, malnutrisi akut atau wasting, serta satu anak terdeteksi tuberkulosis (TBC) dan satu anak lain yang tinggal bersama keluarga penderita TBC." Kondisi ini diperparah dengan mayoritas orang tua yang berprofesi sebagai pemulung, membatasi akses mereka terhadap makanan bergizi.
Pelaksanaan program pendampingan gizi ini berlangsung selama dua bulan penuh, melibatkan kader posyandu secara aktif. Setiap kader bertanggung jawab mendampingi empat balita dan keluarganya, memastikan setiap anak mendapatkan perhatian optimal. Kegiatan yang dilakukan meliputi edukasi cara membuat menu makanan sehat, pemantauan tumbuh kembang anak secara berkala, serta kunjungan rutin ke rumah keluarga penerima manfaat.
Dukungan finansial untuk program pendampingan gizi ini juga datang dari LazisMu dan Dompet Dhuafa, menunjukkan kolaborasi lintas organisasi. Diah Lestari berharap, "Pendampingan ini bisa membantu para orangtua untuk mengolah bahan makanan sederhana menjadi menu sehat sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai gizi seimbang sehingga angka prevalensi stunting dapat ditekan." Hal ini diharapkan membawa perubahan signifikan dalam pola asuh gizi di masyarakat.
Kesalahan Persepsi Kental Manis dan Dampaknya pada Gizi Balita
Salah satu temuan menarik dari program pendampingan gizi ini adalah kesalahan persepsi masyarakat mengenai kental manis. Siti (34), seorang ibu rumah tangga penerima manfaat, mengungkapkan kebiasaannya, "Setiap hari, saya kasih susu kental manis minimal tiga kali. Saya kira itu sudah cukup buat nutrisi anak saya." Pemahaman ini menunjukkan kurangnya informasi yang benar mengenai kandungan gizi produk tersebut.
Siti mengaku baru menyadari dari program pendampingan gizi dan kader posyandu bahwa kental manis bukanlah susu, melainkan produk yang lebih banyak mengandung gula. Fakta ini seringkali luput dari perhatian orang tua, yang menganggap kental manis sebagai sumber nutrisi penting bagi anak-anak mereka. Padahal, konsumsi gula berlebihan pada balita dapat berkontribusi pada masalah gizi seperti stunting dan obesitas.
Sosiolog Universitas Indonesia (UI), Erna Karim, menyoroti bahwa kesalahan konsumsi kental manis ini masih marak di kalangan masyarakat, khususnya kelas menengah bawah yang gagap teknologi. Ia menekankan pentingnya menjangkau kelompok sasaran secara langsung. "Program pendampingan gizi secara langsung akan mempunyai dampak secara langsung. Hal ini sangat efektif dan perlu terus ditingkatkan," kata Erna, merujuk pada inisiatif Aisyiyah dan YAICI.
Peran Penting Komunitas dalam Penanganan Stunting dan Malnutrisi
Penanganan masalah gizi seperti stunting dan malnutrisi memerlukan pendekatan yang komprehensif, termasuk peran aktif dari komunitas. Erna Karim menyebut keterlibatan masyarakat, seperti yang dilakukan Aisyiyah, dapat menjadi kunci keberhasilan. Kader-kader yang memahami kebutuhan komunitas dan mampu membangun kepercayaan dapat memastikan pesan kesehatan diterima dengan baik oleh masyarakat.
Kader posyandu dan relawan yang terlibat dalam program pendampingan gizi ini berfungsi sebagai jembatan informasi. "Mereka menjadi jembatan yang menghubungkan informasi dari tenaga kesehatan dan akademisi ke keluarga-keluarga, menciptakan perubahan nyata di komunitas, terutama bagi kelompok yang sulit dijangkau," jelas Erna. Peran ini krusial dalam menyebarkan edukasi gizi seimbang dan praktik pola asuh yang benar.
Melalui pendampingan langsung dan edukasi yang berkelanjutan, program ini tidak hanya berfokus pada perbaikan gizi balita yang sudah terdampak. Lebih dari itu, program ini juga berupaya meningkatkan kesadaran kolektif masyarakat tentang pentingnya gizi seimbang. Dengan demikian, diharapkan dapat mencegah kasus stunting dan malnutrisi baru serta membangun generasi yang lebih sehat dan cerdas di masa depan.
Sumber: AntaraNews