DP3AP2KB Batam Kenalkan Menu Sehat untuk Tingkatkan Gizi Balita dan Cegah Stunting
DP3AP2KB Batam memperkenalkan menu sehat inovatif bagi balita usia 12-23 bulan. Upaya ini dilakukan untuk meningkatkan gizi anak serta mencegah stunting di Batam.
Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Batam meluncurkan program edukasi gizi. Mereka memperkenalkan menu sehat khusus untuk balita guna mengatasi masalah stunting di wilayah tersebut.
Kegiatan ini menyasar ibu-ibu dan kader posyandu di Posyandu Valencia, Kelurahan Belian. Tujuannya adalah membekali mereka dengan pengetahuan praktis dalam menyiapkan makanan bergizi seimbang.
Inisiatif ini merupakan bagian dari strategi pemerintah kota untuk terus menekan angka stunting. Program ini juga diharapkan dapat memastikan tumbuh kembang optimal bagi anak-anak usia dini di Batam.
Edukasi dan Demo Masak Menu Sehat untuk Ibu Balita
DP3AP2KB Kota Batam secara aktif menggelar sesi edukasi yang interaktif bagi para peserta. Kegiatan diawali dengan pengerjaan soal seputar 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dan pemilihan makanan bergizi seimbang.
Setelah sesi teori, peserta diajak untuk mengikuti praktik langsung melalui demo masak. "Ke depan, ibu-ibu ini bisa mempraktikkan sendiri menu yang sudah diajarkan di rumah dan hasilnya disajikan untuk anak-anak mereka," ujar Kabid Kesejahteraan dan Pembangunan Keluarga DP3AP2KB Kota Batam, Dewi Murni.
Kegiatan penting ini dilaksanakan di Posyandu Valencia, Kelurahan Belian, Batam. Peserta yang terlibat meliputi ibu rumah tangga, kader pos pelayanan terpadu (posyandu), serta tenaga medis setempat.
Fokus utama program ini adalah memberikan solusi praktis. Para ibu diharapkan mampu menyiapkan menu sehat yang bervariasi dan mudah diimplementasikan di rumah.
Penurunan Angka Stunting dan Target Sasaran di Batam
Dewi Murni menjelaskan bahwa Kota Batam telah menunjukkan kemajuan signifikan dalam penanganan stunting. Berdasarkan data terakhir, prevalensi stunting kini berada pada kisaran 1,52 persen.
Angka tersebut setara dengan sekitar 700 anak berusia 0-5 tahun yang mengalami stunting. Penurunan ini sangat menggembirakan jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya yang sempat mencapai 16 persen.
Program ini secara spesifik menargetkan anak usia 12-23 bulan di RW25. "Di RW25 ini, anak usia 1 tahun ke atas paling banyak, jadi kami fokus pada kelompok umur 12–23 bulan agar pendampingan gizinya bisa lebih tepat sasaran," kata Dewi.
Pemilihan kelompok usia ini didasarkan pada data prevalensi. Hal ini memastikan intervensi gizi yang diberikan dapat memberikan dampak maksimal pada fase pertumbuhan krusial anak.
Inovasi Menu Gizi dan Pentingnya Pola Makan Tepat
Ahli Gizi Puskesmas Botania, Salmalinda Lukman, menegaskan bahwa stunting terjadi ketika tinggi badan anak tidak sesuai dengan usianya. Kondisi ini umumnya disebabkan oleh pola makan dan pola asuh yang kurang tepat.
Anak usia 12 hingga 23 bulan memerlukan perhatian khusus dalam asupan nutrisinya. "Anak usia 12 hingga 23 bulan memerlukan makanan utama 3-4 kali sehari, dan cemilan tinggi protein disamping pemberian ASI," jelas Salmalinda.
Dalam demo masak kali ini, kader posyandu memperkenalkan inovasi menu bergizi, yaitu Perkedel Ikan Serai. Selain itu, disajikan juga sayur bening jagung, tomat, dan labu dengan sayur belalai gajah.
Harapannya, para ibu semakin memahami kebutuhan nutrisi anak-anak mereka. "Ke depan kami juga akan membuat demo cemilan bergizi agar lebih banyak pilihan menu harian bagi anak-anak," tambah Salmalinda, menunjukkan komitmen berkelanjutan.
Sumber: AntaraNews