Pemerintah Kabupaten Batang, Jawa Tengah, terus menunjukkan komitmennya dalam upaya peningkatan kualitas kesehatan masyarakat. Salah satu fokus utama adalah pencegahan gizi buruk dan stunting pada balita. Melalui program pendampingan intensif, Pemkab Batang mengoptimalkan pemberian bantuan susu pangan medik khusus (PMK) kepada balita yang membutuhkan.
Program ini digagas oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Batang, dengan Kepala Dinas Kesehatan Ida Susilaksmi sebagai motor penggerak. Pendampingan ini melibatkan intervensi langsung kepada anak-anak yang teridentifikasi mengalami kondisi gizi buruk atau stunting. Tujuannya adalah memastikan setiap balita mendapatkan asupan nutrisi yang memadai untuk tumbuh kembang optimal.
Langkah proaktif ini bertujuan untuk memutus mata rantai masalah gizi pada usia dini, yang seringkali berdampak jangka panjang pada kualitas sumber daya manusia. Dengan intervensi dini, diharapkan balita di Batang dapat tumbuh sehat dan terhindar dari risiko kesehatan serius. Program ini juga menjadi harapan bagi orang tua yang terkendala biaya terapi nutrisi lanjutan.
Advertisement
Advertisement
Dinas Kesehatan Kabupaten Batang telah mengintervensi 11 anak dalam program pendampingan ini. Dari jumlah tersebut, tiga anak dinyatakan lulus karena kondisi gizi mereka membaik hingga kategori normal, menunjukkan keberhasilan program. Sementara itu, delapan anak lainnya masih dalam pendampingan intensif untuk memastikan perbaikan gizi berkelanjutan.
Setiap anak yang mengikuti program ini mendapatkan dukungan nutrisi yang signifikan. Satu anak bisa mendapatkan hingga 50 dus susu PMK, yang merupakan komponen penting dalam perbaikan gizi mereka. Bahkan, bagi anak yang sudah lulus dari program, pemberian susu tetap dilanjutkan hingga jatahnya habis, memastikan transisi yang mulus menuju kondisi gizi yang stabil.
Dokter Spesialis Anak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Batang, Tan Evi Susanti, bersama timnya, mengamati perkembangan signifikan pada anak-anak. Anak-anak yang sebelumnya mengalami gizi buruk maupun gizi kurang kini berangsur membaik menjadi gizi baik. Bahkan, mereka yang sebelumnya mengalami stunting mulai menunjukkan pertumbuhan tinggi badan yang kembali normal.
Advertisement
Sebagai contoh nyata, terdapat anak yang awalnya memiliki berat badan hanya 6,8 kilogram kini meningkat menjadi 10 kilogram. Kategori gizi baik mengacu pada standar kurva pertumbuhan yang ditetapkan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO), yakni berada di rentang minus dua hingga plus dua. Penilaian ini dilakukan secara objektif untuk mengukur kemajuan gizi balita.
Advertisement
Meskipun program ini menunjukkan hasil positif, tantangan tetap ada dalam pelaksanaannya. Salah satu tantangan utama adalah kurangnya konsistensi orang tua dalam menjalankan program intervensi. Edukasi berulang-ulang telah diberikan, namun beberapa kasus menunjukkan adanya anak yang terpaksa drop out dari program.
Ida Susilaksmi mengakui bahwa ada orang tua yang merasa malu jika anaknya harus menggunakan selang makan, terutama saat momen-momen sosial seperti Lebaran. Hal ini menjadi hambatan psikologis yang perlu diatasi melalui pendekatan yang lebih mendalam dan dukungan emosional bagi keluarga.
Program pendampingan ini diperkirakan berlangsung minimal enam bulan, sehingga membutuhkan komitmen dan konsistensi tinggi dari orang tua. Pemberian susu tinggi kalori menjadi harapan baru, terutama bagi keluarga yang selama ini terkendala biaya lanjutan terapi nutrisi.
Advertisement
Pemkab Batang terus berupaya memperkuat kolaborasi lintas sektor untuk memastikan program ini berjalan efektif dan berkelanjutan. Dengan dukungan penuh dari berbagai pihak, diharapkan angka gizi buruk dan stunting di Batang dapat terus ditekan, menciptakan generasi penerus yang sehat dan berkualitas.
Sumber: AntaraNews