Pementasan Wayang Orang Bharata: Komitmen DKI Jakarta Lestarikan Budaya Daerah
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menjadwalkan 10 pementasan Wayang Orang Bharata sepanjang tahun 2026, menegaskan komitmen melestarikan seni tradisional di tengah keragaman budaya Ibu Kota.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta telah menjadwalkan sepuluh kali pementasan Wayang Orang Bharata di Gedung Kesenian Wayang Orang Bharata sepanjang tahun 2026. Kegiatan ini bertujuan untuk melestarikan serta memajukan kebudayaan daerah yang berkembang di Jakarta. Pementasan rutin ini akan diadakan secara berkala, menawarkan hiburan edukatif bagi masyarakat.
Kepala Unit Pengelola Gedung Pertunjukan Seni Budaya (UP GPSB), Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, Rinaldi, menyatakan bahwa pementasan akan dilaksanakan secara rutin setiap bulannya. Setiap pertunjukan menyediakan kuota sekitar 220 penonton, sesuai kapasitas kursi yang tersedia di gedung tersebut. Pementasan ini bersifat gratis bagi publik, hasil dari kesepakatan kerjasama dengan Paguyuban Wayang Orang Bharata.
Penyelenggaraan pementasan Wayang Orang Bharata yang rutin ini merupakan wujud nyata komitmen Pemprov DKI Jakarta dalam memperhatikan keberagaman budaya daerah di Ibu Kota. Hal ini sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024 tentang Provinsi Daerah Khusus Jakarta, khususnya Pasal 31 ayat (1), yang memberikan kewenangan khusus kepada Jakarta untuk memajukan kebudayaan Betawi dan kebudayaan lain yang berkembang.
Komitmen Pemprov DKI Jakarta dalam Pelestarian Budaya
Kehadiran pementasan rutin Wayang Orang Bharata menjadi bukti konkret perhatian Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terhadap pelestarian budaya daerah. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa kekayaan seni tradisional tetap hidup dan dapat dinikmati generasi mendatang. Jakarta, sebagai kota multikultural, memiliki tanggung jawab besar dalam merawat berbagai bentuk ekspresi budaya yang ada.
Pasal 31 ayat (1) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024 secara spesifik mengatur bahwa Jakarta memiliki kewenangan khusus dalam urusan pemerintahan bidang kebudayaan. Prioritas diberikan untuk pemajuan kebudayaan Betawi, sekaligus kebudayaan lain yang berkembang di Ibu Kota. Ketentuan ini menjadi landasan hukum kuat bagi Pemprov DKI Jakarta untuk mendukung kegiatan seni budaya seperti Wayang Orang Bharata.
Keragaman budaya di Jakarta mencerminkan karakter multikulturalisme, multietnis, dan heterogen yang dibawa oleh masyarakat dari berbagai daerah asal. Kondisi ini menciptakan implikasi positif terhadap keragaman seni budaya yang ditampilkan. Dinas Kebudayaan DKI Jakarta berperan aktif dalam mengelola ruang-ruang pertunjukan seni dan ruang hidup kesenian di Ibu Kota.
Jadwal dan Mekanisme Pementasan Wayang Orang Bharata
Sepuluh kali pementasan Wayang Orang Bharata akan digelar secara rutin sepanjang tahun 2026. Jadwal yang teratur ini diharapkan dapat memberikan kesempatan lebih luas bagi masyarakat untuk menikmati seni pertunjukan klasik ini. Penyelenggaraan bulanan menunjukkan konsistensi Pemprov DKI Jakarta dalam program kebudayaan.
Setiap pementasan dirancang untuk menampung sekitar 220 penonton, sesuai dengan kapasitas kursi di Gedung Kesenian Wayang Orang Bharata. Akses gratis menjadi daya tarik utama, memungkinkan semua lapisan masyarakat menikmati pertunjukan berkualitas tanpa kendala biaya. Ini adalah bagian dari upaya Pemprov DKI Jakarta untuk meningkatkan aksesibilitas seni budaya.
Rinaldi menjelaskan bahwa pementasan gratis ini merupakan hasil kesepakatan kerja sama antara Pemprov DKI Jakarta dan Paguyuban Wayang Orang Bharata. Meskipun demikian, pelaksanaan kegiatan tetap memperhatikan kemampuan keuangan daerah. Sinergi antara pemerintah dan komunitas seni menjadi kunci keberlanjutan program pelestarian budaya ini.
Sorotan Pementasan Wayang Orang Bharata Sebelumnya
Sebelum jadwal rutin tahun 2026, Gedung Kesenian Wayang Orang Bharata telah sukses menyelenggarakan tiga pementasan. Pertunjukan tersebut meliputi lakon "Wisanggeni Lahir", "Gatutkaca Tundung", dan "Bagong Kembar". Keberhasilan pementasan sebelumnya menjadi indikator antusiasme masyarakat terhadap seni Wayang Orang.
Salah satu pementasan yang menarik perhatian adalah "Bagong Kembar", yang digelar pada 7 Maret 2026. Lakon ini mengisahkan tentang Raja Kerajaan Goa Siluman, Prabu Kala Parungga, yang jatuh cinta pada Candrawati, putri Prabu Candrakusuma. Prabu Kala Parungga berambisi menikahi Candrawati, meskipun sang putri telah dijodohkan dengan Bagong.
Dengan bantuan Batara Kala, Prabu Kala Parungga mengubah wujudnya menjadi Bagong palsu. Bagong palsu ini kemudian diterima di Kerajaan Candra Manggala dan hampir menikahi Candrawati. Namun, Bagong yang asli datang, memicu keputusan Prabu Candrakusuma untuk mengadakan pertarungan antara kedua Bagong tersebut, dengan pemenangnya berhak menjadi suami Candrawati.
Sumber: AntaraNews