Dibintangi Ira Wibowo dan Maudy Koesnaedi, Pagelaran Wayang Orang Gatotkaca Sukses Pukau Penonton Lintas Generasi
Sejumlah aktris terkenal memerankan tokoh dalam pagelaran wayang orang di Gedung Kesenian Jakarta baru-baru ini.
Tokoh heroik Gatotkaca hadir dalam pagelaran Wayang Orang pada Minggu, 20 Juli 2025 di Gedung Kesenian Jakarta, Jakarta Pusat. Bintang seni peran Ira Wibowo dan Maudy Koesnaedi, penyanyi Dewi Gita dan penggiat budaya Ninok Leksono turut tampil dalam pentas berjudul Wayang Orang Gatotkaca, Ksatria dari Pringgondani.
Diprakasai oleh Sanggar Gending Enem yang berkolaborasi dengan Wayang Orang Bharata, pagelaran ini didukung sekitar 100 penari dan pengrawit yang berasal dari berbagai latar belakang profesi, kalangan penari profesional, pemula, amatir, juga siswa-siswi lintas usia.
Pertunjukan ini dipersembahkan sebagai bentuk penghormatan atas warisan budaya adiluhung seni tari Jawa klasik.
Penampilan Ira Wibowo sebagai tokoh perwayangan Pergiwo, istri Gatotkaca, sangat apik dan penuh penjiwaan sehingga membuat penonton terkesan. Seusai acara mereka bergantian memberinya apresiasi.
“Tentu merupakan kebahagiaan tersendiri mendapat apresiasi luar biasa dari penonton. Melihat penonton yang hadir dari beragam generasi saja saya sudah senang sekali, apalagi ketika mereka terhibur oleh penampilan saya. Senang sekali melihat buah manis hasil kami berlatih intensif selama tiga setengah bulan. Semoga kami bisa memberi inspirasi bahwa budaya itu keren dan harus dirawat bersama,” kata perempuan penggiat olahraga lari dan sepeda ini, dalam keterangan tertulis yang diterima merdeka.com
“Saya juga mempersembahkan pagelaran Gatotkaca Ksatria Dari Pringgondani bagi alamarhum papa saya yang dulu sering menari menjadi Gatotkaca. Sebelum memerankan Pergiwo saya nyekar ke makam papa untuk meminta restu,” tambahnya.
Sang ayah berpulang pada Oktober 2023 tepat dua bulan setelah Ira pentas lakon Retno Dumilah pada Agustus 2023 yang juga dihadiri ayahnya. Pada pementasan kali ini Ira mendapat dukungan ketiga anaknya, menantunya dan ibu sambungnya yang hadir menonton di Gedung Kesenian Jakarta.
Pertunjukan Wayang Orang Gatotkaca ini menjadi tantangan tersendiri bagi Dewi Gita yang berperan sebagai narator yang harus nembang Jawa.
“Terutama karena logat Sunda saya sangat kental sehingga saya harus berlatih keras, sementara waktu untuk latihan terasa kurang karena banyak kesibukan. Tapi saya merasa amat terhormat kembali dipercaya Gending Enem untuk turut serta dalam pertunjukan ini. Saya juga senang sekali bisa tampil bersama para insan seni yang tak kenal lelah
melestarikan budaya tradisional Indonesia,” kata penyanyi yang suara merdunya berkumandang menembang dan mengantarkan narasi lakon Gatotkaca dari awal sampai akhir.
Inspirasi bagi generasi muda
Aktris Maudy Koesnaedi yang berperan sebagai Kunti tampil tak kalah mengesankan.
“Saya senang sekali melihat antusiasme penonton. Saya berusaha menampilkan yang terbaik walaupun saya banyak berlatih sendiri karena sekarang berdomisili di Bali. Tetapi dalam minggu-minggu terakhir saya datang ke Jakarta untuk mengikuti latihan bersama dan juga hadir dalam Gladi Resik. Sudah menjadi komitmen saya untuk terus
berpartisipasi dalam semangat pelestarian budaya Indonesia,” kata mantan None Jakarta ini.
Raden Gatotkaca yang menjadi simbol keberanian, kekuatan, dan pengabdian diperankan oleh Yodya Prasetyanto, seorang penari profesional.
Jambang Tetuko, Gatotkaca saat remaja, diperankan oleh remaja bernama Mikail Edwin Rizki, Sementara Jabang Tetuko alias Gatotkaca kala masih kecil dibawakan oleh Dimas Krisena.
Dimas yang saat ini berumur 12 tahun sudah menari bersama Wayang Orang Bharata sejak berusia 4 tahun dan ini adalah pentas keempat kalinya bersama Gending Enem. Sementara Mikail berusia 16 tahun. Mereka konsisten di jalur pelestarian budaya dan patut menjadi inspirasi bagi generasi muda agar semangat melestarikan budaya terus menyala.
Apresiasi penonton
Keindahan dan keseriusan seni tari tradisional yang dipadukan nuansa ngepop serta teknologi modern membuat pertunjukan ini menjadi spektakuler. Gatotkaca yang terbang melayang di udara memperjelas karakter sang tokoh yang dijuluki “Otot Kawat Tulang
Besi” itu.
Apresiasi berdatangan dari para penonton seusai pagelaran.
“Saya suka wayang dan sering menonton Wayang Orang termasuk lakon Gatotkaca. Tapi kali ini saya benar-benar takjub melihat pertunjukannya begitu hidup. Selamat buat Gending Enem,” kata penonton bernama Astari.
Sementara bagi Tita, penonton lainnya, pertunjukan ini sangat menarik dan alur ceritanya terjaga.
“Saya sangat menikmati ceritanya, ada lucu, ada sedih dan juga heroik. Saya senang melihat penampilan para penari yang luwes sekaligus powerful. Mereka pasti berlatih keras, gak heran hasilnya bagus sekali. Susah lho menahan postur badan sementara
tangan harus bergerak luwes” kata Tita seraya memberi contoh. “Saya juga salut dengan komitmen Gending Enem yang rutin membuat pertunjukan seni untuk melestarikan budaya,” pungkasnya.
Pertunjukan seni harus sering hadir di tengah masyarakat. Generasi muda terus disemangati untuk menonton dan berpartipasi.
Dengan koreografi dinamis berelemen teater dan teknologi, pertunjukan Wayang Orang Gatotkaca Ksatria dari Pringgondani diharapkan dapat menjadi ruang untuk menghidupkan lagi warisan leluhur dan menjembatani generasi.