Wali Kota Semarang Ikut Berperan, Wayang Orang on The Street Meriahkan Kota Lama dengan Lakon 'Sang Pinilih'
Pertunjukan 'Wayang Orang on The Street' sukses digelar di Kota Lama Semarang, menampilkan Wali Kota sebagai Sang Hyang Wenang dan lakon 'Sang Pinilih' yang memukau.
Pergelaran seni budaya "Wayang Orang on The Street" berhasil memeriahkan kawasan Kota Lama Semarang pada Minggu malam, 15 September. Acara ini berlangsung di persimpangan Sayangan dan menjadi bagian dari rangkaian Festival Kota Lama. Lakon "Sang Pinilih" yang epik sukses menarik perhatian banyak penonton yang hadir.
Keunikan pertunjukan ini terletak pada keterlibatan langsung Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, yang ikut berperan sebagai tokoh Sang Hyang Wenang. Selain itu, sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD) juga turut tampil dengan peran beragam. Kolaborasi ini menambah daya tarik tersendiri bagi penonton.
Bekerja sama dengan Perkumpulan Wayang Orang Ngesti Pandowo Semarang, acara ini tidak hanya menyuguhkan hiburan. Pertunjukan ini juga membawa misi pelestarian budaya dan upaya membangkitkan kembali seni wayang orang. Harapannya, generasi muda dapat semakin mencintai warisan budaya bangsa yang kaya ini.
Antusiasme Pejabat dan Pesan Budaya
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, mengakui sempat merasa grogi saat pertama kali tampil. Hal ini dikarenakan ia tidak terbiasa dengan penggunaan bahasa Jawa halus yang menjadi pakem dalam pewayangan. Namun, dukungan dari rekan-rekan pemain dan interaksi dengan penonton membuat suasana menjadi lebih cair dan menyenangkan.
"Untung teman-teman semuanya membantu. Dan, yang membuat tadi suasana cair karena kami diizinkan berinteraksi dengan penonton. Terus, boleh pakai bahasa Indonesia," ujar Agustina. Kebebasan berinteraksi ini memungkinkan pesan-pesan moral dari lakon "Sang Pinilih" tersampaikan dengan baik. Lakon ini sendiri menceritakan keberanian prajurit putri Srikandi dalam perang Kurushetra.
Agustina berharap agar pesan yang diangkat dalam lakon pewayangan tersebut dapat tersampaikan secara efektif. Ia juga sangat menginginkan agar pergelaran ini mampu meningkatkan kecintaan masyarakat, khususnya anak-anak muda, terhadap seni wayang orang. Pelestarian budaya melalui pertunjukan semacam ini menjadi prioritas utama.
Upaya Kebangkitan Wayang Orang Semarang
Pergelaran "Wayang Orang on The Street" di Kota Lama ini diharapkan menjadi titik awal kebangkitan seni wayang orang di Semarang. Agustina menyebutnya sebagai "take off" bagi Perkumpulan Wayang Orang Ngesti Pandowo. Pemerintah Kota Semarang berkomitmen penuh untuk mendukung agar kesenian ini bisa bangkit kembali dan lebih sering tampil.
"Pemerintah Kota Semarang akan mendukung wayang orang untuk bisa bangkit kembali, salah satunya tadi ada janji dari para pemain wayang untuk bisa lebih sering membuat 'perform' di titik-titik mana pun," jelas Wali Kota. Ia mencontohkan keberhasilan pertunjukan seni budaya di Bali. Dengan demikian, ia berharap pertunjukan wayang di Semarang akan mudah dicari dan disukai penonton.
Selain dukungan untuk pertunjukan, Pemerintah Kota Semarang juga memiliki rencana konkret lainnya. Agustina mengungkapkan bahwa pada tahun 2026, Pemkot berencana memberikan bantuan berupa perangkat pakaian atau kostum wayang. Bantuan ini akan disalurkan kepada semua sanggar wayang yang ada di Kota Atlas, sebagai bentuk fasilitasi dan dukungan nyata.
Melestarikan Nilai Luhur Bangsa
Wakil Wali Kota Semarang, Iswar Aminuddin, turut memberikan apresiasi tinggi atas terselenggaranya acara ini. Menurutnya, wayang orang bukan sekadar pertunjukan seni tradisional yang menghibur. Lebih dari itu, ia melihat wayang orang sebagai sarana penting dalam pelestarian nilai-nilai luhur budaya bangsa yang perlu dijaga.
"Saya memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas terselenggaranya 'Wayang Orang on The Street'. Pagelaran ini tidak saja sebagai upaya pelestarian budaya, tetapi juga sebagai episode untuk mengajarkan dan menanamkan nilai-nilai moral kepada tiap generasi," kata Iswar. Pesan moral yang terkandung dalam setiap lakon wayang sangat relevan untuk pendidikan karakter.
Acara ini juga dihadiri oleh anggota Komisi VII DPR RI, Samuel Wattimena, yang berkesempatan membacakan puisi. Samuel, yang dikenal sebagai desainer dan legislator dari Dapil Jawa Tengah 1, membacakan "Puisi Pembuka". Ia kemudian melanjutkan dengan menyanyikan lagu "Indonesia Pusaka" bersama para guru besar dan lagu "Bersuka Ria" karya Bung Karno, menambah semarak suasana.
Sumber: AntaraNews