Mengenal Seni Wayang Orang Bharata, Hiburan Alternatif Warga Jakarta yang Menolak Punah

Menyaksikan pertunjukan wayang orang memberikan pengalaman yang berkesan sekaligus sebagai hiburan berbeda di ibu kota.

Nurul Diva
Oleh Nurul Diva - Reporter
Mengenal Seni Wayang Orang Bharata, Hiburan Alternatif Warga Jakarta yang Menolak Punah
Wayang Orang Bharata (Youtube Wayang Orang Bharata)

Bagi yang ingin menikmati hiburan alternatif di Jakarta, pertunjukan seni wayang orang Bharata bisa jadi salah satu pilihan. Sesuai namanya, para tokoh pewayangan yang tampil merupakan sosok manusia yang didandani serupa Gatot Kaca, Anoman, Bima, Nakula-Sadewa hingga Arjuna.

Jangan membayangkan penampilan yang membosankan, karena para pemainnya mampu memainkan peran secara ekspresif dan hidup. Penampilannya pun sangat berbeda dengan wayang dua dimensi seperti kebanyakan.

Agar tidak membosankan, setiap pertunjukan wayang orang Bharata turut melibatkan teknologi terkini, termasuk cerita-cerita yang masih relevan dengan masyarakat di era sekarang.

Menyaksikan pertunjukan wayang orang memberikan pengalaman yang berkesan sekaligus sebagai hiburan berbeda di ibu kota. Berikut informasinya.

Merujuk buku “Hiburan Masa Lalu dan Tradisi Lokal: Kumpulan Essay Seni, Sejarah dan Budaya Indonesia” karya Fandy Hutari, disebutkan bahwa setiap pertunjukan wayang orang Bharata benar-benar hidup.

Pengunjung langsung disuguhkan pencahayaan yang modern, dan lantunan musik tradisional serta kontemporer yang menghibur. Para pemainnya mampu beradaptasi dengan cerita pewayangan yang berganti-ganti secara baik dan totalitas.

“Tak sulit menemukan gedung pertunjukan wayang orang Bharata, jaraknya hanya sekitar 100 meter dari Terminal Senen. Tepatnya di Jalan Kalilio nomor 15, Senen, Jakarta Pusat. Bentuk gedungnya juga berbeda dari kanan dan kirinya,” kata penulis, Fandy Hutari

Jika merujuk catatan lawas, wayang orang berangkat dari kebudayaan keraton di wilayah Jawa dan Yogyakarta. Namun, kesenian ini bisa menyebar dengan pesat di masa penjajahan Belanda hingga sampai daerah-daerah, termasuk Batavia.

Berdasarkan akar kedatangannya yang berasal dari kebudayaan keraton itulah, tema-tema yang diangkat kebanyakan seputar pewayangan Jawa serta nusantara.

Merujuk laman media sosial Wayang Orang Bharata, penampilannya diadakan setiap pekan di hari Sabtu. Beberapa tema yang diangkat di antaranya Nakula-Sadewa, Indrajit Gugur, Petruk dari Baladewa, Rama – Shinta dan lain-lain.

Setiap pertunjukannya, Wayang Orang Bharata selalu total. Mereka mengandalkan seni penampilan yang diadaptasi dari teater tradisional, dengan menambahkan ornamen dan pernak pernik panggung.

Latar cerita tak jarang menggambarkan latar pedesaan Jawa, namun kadangkala juga menyingkap seputar perkotaan. Semakin menarik, karena asap panggung bertiup di sisi-sisinya, dengan iringan gamelan yang terus dibunyikan.

Dialog tak jarang menggetarkan emosi karena disampaikan dengan penuh penghayatan. Agar tak bosan, para tokoh juga akan menari sesuai peran dan bagian yang dimainkan di setiap pertunjukannya.

Diungkap Marsam Mulyoatmojo selaku ketua paguyuban Wayang Orang Bharata, eksistensi kelompoknya akan selalu diupayakan agar tidak punah.

Walau sudah 50 tahun lebih berdiri, para pelaku wayang orang di tempatnya tetap bersatu dan mengandalkan asas kekeluargaan. Ini karena, mereka memiliki tujuan yang sama, yakni ingin kesenian wayang bisa terus lestari.

“Bharata ini berdiri pada 5 Juli 1972. Bisa dibilang, Bharata merupakan kepanjangan dari kelompok wayang orang Pancamurti yang berdiri pada 1963,” katanya, di buku tersebut.

Sebelumnya, mereka selalu mengadakan pertunjukan di gedung bekas bioskop Rialto. Setelahnya, Pancamurti pecah dan sebagian mendirikan Bharata.

Secara konsep panggung, Bharata selalu mencoba beradaptasi dengan teknologi, termasuk menggunakan running teks agar mudah diikuti oleh para penonton.

“Nama Bharata ini terdiri dari tiga suku kata, yakni kependekan dari bahasa Jawa, Bhawa, Rasa, Tala, yang berarti gerak rasa dan gerakan dari alam kalbu, serta rasa yang menjadi irama,” tambah Marsam.

Tak sekeda fokus mengenalkan seni di Jakarta, tetapi kelompok ini juga sudah pentas hingga ke Mancanegara.

Marsam mengungkapkan rasa syukurnya karena bisa tampil hingga ke beberapa negara, seperti Turki, Jerman dan Belanda.

“Dua negara mengikutkan anggota Bharata dalam misi kebudayaan yakni ke Prancis dan Australia. Kalau masing-masing personelnya sudah ke lebih banyak negara,” sambung dia.

Dirinya berharap agar pemerintah selalu mendukung pementasan kebudayaan, agar tak banyak seniman-seniman yang mengamen di jalan.

Saat ini, mereka masih aktif melakukan pertunjukkan dengan harga tiket mulai dari Rp50 ribu sampai VIP Rp100 ribu.

Rekomendasi