Parade Wastra Nusantara 2025 dan Panggung Istimewa Bagi Lubung Batik 2M dari Tarakan
Majenah mengakui bahwa ia sempat merasa minder ketika harus berdampingan dan berfoto bersama para model profesional yang mengenakan batik karyanya.
Tidak pernah terbayangkan oleh Ibu Majenah, seorang pengrajin batik dari Tarakan, bahwa hasil karya Lubung Batik 2M miliknya bisa tampil di acara fashion show Parade Wastra Nusantara yang diselenggarakan oleh Fimela.com di Jakarta. Awalnya, ia hanya mengirimkan stok kain batik kepada Pemerintah Kota Tarakan untuk mengikuti seleksi, namun kain batiknya justru terpilih dan dikembangkan oleh desainer menjadi busana yang sangat menarik.
"Saya tahu kalau ada motif batik Tarakan yang akan diambil desainer. Tapi saya tidak tahu kalau hasilnya akan ditampilkan di panggung wastra di Jakarta. Saya kaget lolos seleksi dari semua pembatik yang lebih senior. Tahu kepilih, saya kaget tapi juga senang hari seperti tidak percaya karena saya ini pembatik baru," ungkap Majenah kepada Liputan6.com.
Usaha Lubung Batik 2M yang didirikan oleh Majenah pada tahun 2022 terbilang baru, meskipun ia memiliki pengalaman panjang sebagai kader pembatik sejak tahun 2011. Momen ketika kain batik karyanya ditampilkan di ajang bergengsi seperti Parade Wastra Nusantara memberikan pengalaman yang tak terlupakan baginya. Majenah menjelaskan bahwa produk kain batik yang ditampilkan sebenarnya bukanlah pesanan khusus, melainkan stok yang tersedia di Lubung Batik 2M.
"Produk yang saya kirim memang stok yang ada di Lubung kami. Diminta kirim empat, lalu saya kasih itu, ternyata dipilih sama desainernya," tuturnya.
Di samping rasa bangga, pengalaman di balik panggung juga menyimpan cerita berkesan. Majenah mengakui bahwa ia sempat merasa minder ketika harus berdampingan dan berfoto bersama para model profesional yang mengenakan batik karyanya.
"Pengalaman saya sangat lucu. Saya malah kayak minder karena kalau bareng model-model jadi pusat perhatian. Karena sebagai pengrajin kita harus foto dengan model yang memakai batik kita. Saya kayak gugup dan nervous," pungkasnya.
Semangat untuk Terus Berkarya
Bagi Majenah, Parade Wastra Nusantara bukan hanya sekadar tempat untuk memamerkan karya, melainkan juga menjadi langkah awal dalam menyongsong masa depan yang lebih cerah. Semangatnya untuk menciptakan karya yang lebih baik semakin membara.
"Saya tambah semangat untuk menambah dan memperbaiki karya batiknya. Nggak hanya dilirik orang Tarakan tapi orang-orang luar daerah. Saya ingin tampil lagi di panggung wastra," harapnya. Ia dengan tegas menyatakan kesiapan untuk hadir kembali jika diundang ke acara serupa. "Apabila ada undangan kembali, saya mau mendatanginya," tambahnya.
Dukungan Pemkot Tarakan Pengrajin Batik Sangat Penting
Kesempatan untuk tampil di Parade Wastra Nusantara tidak terlepas dari dukungan yang diberikan oleh Pemkot Tarakan. Menurut Majenah, perhatian dari pemerintah sangat penting bagi pengrajin kecil agar mereka bisa mendapatkan kesempatan yang lebih luas. Event seperti Parade Wastra tidak hanya berfungsi untuk mempromosikan karya, tetapi juga untuk memperluas jaringan pemasaran hingga tingkat nasional.
"Kami jadi bisa menambah pengalaman, memperluas jaringan dan dapat masukan agar dapat meningkatkan kualitas produk. Dengan begitu, bukan hanya bisa tampil di parade wastra tapi juga event lain," ungkap Majenah.
Ia merasa sangat bersyukur saat menyaksikan tayangan ulang penampilan batiknya di media. "Video Wastra kemarin saya putar ulang-ulang. Kok bisa, saya kok nggak nyangka. Semoga karya kami yang dari pelosok Tarakan ini semakin dikenal orang. Syukur-syukur karya kami dilirik di kancah nasional, bahkan internasional," harapnya.
Kisah Lubung Batik 2M adalah contoh nyata bahwa karya dari daerah Tarakan dapat tampil di panggung nasional. Dukungan pemerintah, semangat para pengrajin, serta keberanian untuk mengambil langkah membuat mimpi tersebut menjadi kenyataan.
Salah satu motif kain Lubung Batik 2M yang ditampilkan di parade wastra adalah motif Imbaul. Motif Imbaul berarti campuran atau perpaduan dari berbagai jenis motif seperti ukiran kayu, tumbuhan pakis, dan buah dari tumbuhan bakau/mangrove. Dari kombinasi ketiga motif ini, terciptalah motif "IMBAUL" yang melambangkan campuran. Makna dari warna-warna yang digunakan juga sangat dalam; Kuning melambangkan kehormatan, Hijau melambangkan kedamaian, Merah melambangkan keberanian dan kemuliaan, Biru melambangkan persaudaraan, dan Hitam melambangkan kekuatan.