Noe Letto Jawab Kritik Publik Usai Masuk Dewan Pertahanan Nasional
Noe Letto menjelaskan perannya sebagai Tenaga Ahli Dewan Pertahanan Nasional hanya memberi masukan dan rekomendasi, bukan pembuat kebijakan negara.
Sabrang Mowo Damar Panuluh atau Noe, vokalis grup band Letto, angkat suara terkait penunjukannya sebagai Tenaga Ahli Dewan Pertahanan Nasional (DPN).
Ia menegaskan bahwa perannya terbatas pada pemberian masukan strategis, bukan penyusunan kebijakan negara.
“Tenaga Ahli itu enggak buat peraturan. Tenaga Ahli itu memberi masukan kepada pemerintah, mungkin bisa diteruskan ke Presiden, terhadap situasi, risiko, dan rekomendasi. Jadi ini sebagai indra mata, akal, telinga, apa sih yang terjadi? Harusnya gimana sih untuk bisa memperbaiki situasi?,” kata Noe dalam keterangannya, Rabu (21/1).
Noe Tegaskan Tetap Independen, Bukan Alat Politik
Noe menjelaskan, aktivitas memberi masukan kepada negara sejatinya telah ia lakukan sejak lama melalui berbagai forum diskusi, seminar, video, hingga ruang dialog publik. Perbedaan saat ini, menurutnya, hanya terletak pada bentuk kelembagaan.
Ia juga menanggapi kritik publik yang muncul setelah pengumuman penunjukannya. Noe menyebut sikap skeptis masyarakat sebagai sesuatu yang wajar dan tidak perlu disalahkan.
“Tapi pertama saya pengen meng-address untuk teman-teman Maiyah. Posisi saya TA tidak mengubah apapun sama sekali, Maiyahan saya tetap Maiyahan posisinya. Karena itu yang primer, itu nomor satu,” ucap dia.
Noe membantah anggapan bahwa posisinya di DPN membuatnya berada di bawah kepentingan politik tertentu.
“Jadi tenang aja. Kalau di bawah Bahlil, di bawah siapa segala macam, no, no, no, no, no. Kita enggak di bawah siapa-siapa,” ucap dia.
Pertahanan Negara Tak Hanya Soal Senjata dan Perang
Menanggapi kritik terkait kompetensinya, Noe menilai konsep pertahanan negara tidak semata berkaitan dengan senjata atau konflik fisik. Menurutnya, ancaman terhadap negara juga datang dari aspek nonmiliter, termasuk disinformasi dan perang kognitif.
“Perang kognitif itu gimana sih? Perang kognitif itu berhubungan dengan yang kamu pakai sehari-hari ini, mempengaruhi otak. Itu bisa menghancurkan negara. Contohnya kayak kita, kayak kita sekarang ini menurutmu baik-baik saja? Kita terpecah belah satu sama lain, susah banget kok percaya satu sama lain. Ya make sense karena kita tidak punya parameter, bagaimana kita bisa mempercayai satu sama lain. Inilah kenapa eksperimen ini harus dilakukan, kan gitu,” ucap dia.
Ia juga membedakan secara tegas antara negara dan pemerintah. Menurut Noe, pemerintah bergerak dalam siklus politik lima tahunan, sementara negara memiliki kepentingan jangka panjang.
“Oke, soal masuk sistemnya gitu. Jadi yang saya pandang adalah kita masuk sistem negara untuk membantu pemerintah agar tetap lurus di dalam bangsa,” ucap dia.
Terkait kekhawatiran publik bahwa dirinya akan kehilangan sikap kritis, Noe menegaskan bahwa kritik dan masukan kepada negara telah ia lakukan bahkan sebelum resmi menjabat sebagai Tenaga Ahli.
“Tentang DPN ini, ada yang khawatir tentang tentu saja kekritisan akan jadi ayam sayur, enggak akan berani mengkritik lagi. Kalau Anda melihat saya setahun terakhir ngomong, dan Anda mengatakan saya cukup kritis pada time frame saya satu tahun terakhir itu, ada fakta di belakang layar. Bahwa dalam satu tahun itu, saya juga ngasih input ke DPN,” ucap dia.