MRT Kembangan-Balaraja Mulai Tahap Studi, Ini Daftar 7 Pengembangnya
PT MRT Jakarta turut menggandeng sejumlah mitra swasta guna mempercepat kajian dan perencanaan pembangunan.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta bersama Pemprov Banten resmi memulai langkah besar pengembangan transportasi massal lintas wilayah. Kedua pemerintah daerah menandatangani nota kesepahaman (MoU) pembangunan MRT Lintas Timur–Barat fase Kembangan–Balaraja di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (4/2/2026).
Kesepakatan ini menandai dimulainya penjajakan awal proyek strategis yang akan memperluas jaringan MRT hingga ke wilayah perbatasan Banten. PT MRT Jakarta turut menggandeng sejumlah mitra swasta guna mempercepat kajian dan perencanaan pembangunan.
Tujuh Pengembang Properti Besar Turut Bergabung
Dalam tahap awal ini, PT MRT Jakarta menggandeng tujuh pengembang besar sebagai mitra studi pengembangan. Mereka adalah PT Serpong Cipta Kreasi (Summarecon Serpong), PT Alam Sutra Realty Tbk (Alam Sutera), PT Lippo Karawaci (Lippo Land), PT Paramount Enterprise International (Paramount Land), PT Serpong Cipta Cahaya (Summarecon Tangerang), PT Sinar Puspapersada (Intiland Development Tbk), serta PT Metropolitan Karyadeka Development (Metland Cyber Putri).
Penandatanganan MoU dilakukan langsung oleh Direktur Pengembangan Bisnis PT MRT Jakarta Farchafd Mahfud, disaksikan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, Gubernur Banten Andra Soni, dan Direktur Utama PT MRT Jakarta Tuhiyat.
Koridor Strategis Sepanjang 30 Kilometer
Direktur Utama PT MRT Jakarta Tuhiyat menegaskan bahwa jalur ini memiliki nilai strategis karena menghubungkan kawasan hunian, industri, dan pusat pertumbuhan ekonomi baru di dua provinsi.
“Lintas Timur-Barat merupakan koridor yang sangat strategis yang menghubungkan kawasan hunian, kawasan industri, serta pusat pertumbuhan baru di Jakarta, DKI Jakarta, dan Provinsi Banten,” kata Tuhiyat di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (4/2/2026).
Ia menjelaskan, proyek sepanjang sekitar 30 kilometer ini diinisiasi untuk membantu pemerintah pusat meningkatkan konektivitas sekaligus mengefisienkan pembiayaan pembangunan melalui kolaborasi dengan para pengembang.
“Kurang lebih ada sepanjang 30 kilometer dari Kembangan menuju Balaraja,” ucap Tuhiyat.
Masih Tahap Kajian, Anggaran Belum Ditentukan
Meski telah disepakati kerja sama, pembangunan fisik belum akan dimulai dalam waktu dekat. Saat ini, MRT Jakarta masih memprioritaskan kajian menyeluruh sebelum menentukan skema pembiayaan.
“Kajian itu kurang lebih sekitar antara 8 sampai 10 bulan selesai. Itu untuk tiga hal, pertama kajian kelembagaan, kemudian kajian keuangan, kemudian yang ketiga terkait dengan teknis, seperti trase dan sebagainya,” kata dia.
Menurut Tuhiyat, keputusan besaran anggaran akan sangat bergantung pada hasil studi tersebut agar proyek berjalan efektif dan tepat sasaran.
Solusi Kemacetan
Gubernur Banten Andra Soni menyambut baik kerja sama ini. Ia menilai MRT lintas provinsi dapat menjadi solusi konkret untuk mengatasi kemacetan harian yang selama ini membebani Jakarta dan Banten.
“Kami sangat berterima kasih atas terlaksananya MoU ini. Ini sebagai pembuka jalan untuk cita-cita kita bersama terkait dengan transportasi massal yang terintegrasi dalam sebuah sistem transportasi perkotaan yang dirancang oleh Provinsi Jakarta, yang kemudian tentu bermanfaat kepada Pemerintah Provinsi Banten,” kata Andra.
Ia menyoroti tingginya mobilitas warga Banten yang bekerja di Jakarta sehingga arus kendaraan memadati jalan setiap pagi dan malam.
“Kami berbatasan langsung dengan Ibu Kota, dan warga kami sebagian besar itu bekerja di Jakarta. Pagi hari kemacetan terjadi di Jakarta, malam hari kemacetan terjadi di wilayah Provinsi Banten,” katanya.
Berharap Ubah Gaya Hidup Warga
Ketergantungan terhadap kendaraan pribadi juga disebut sebagai penyebab utama kepadatan lalu lintas.
“Karena semua masyarakat masih menggunakan kendaraan pribadi. Bahkan dalam satu rumah ada beberapa kendaraan pribadi yang keluar masuk ke Jakarta,” ujarnya.
Andra berharap kehadiran MRT dapat mendorong masyarakat beralih ke transportasi publik sekaligus mengubah pola mobilitas sehari-hari.
“Bilamana terlaksananya rencana ini, mudah-mudahan ini akan mengurangi beban jalan Jakarta dan jalan Banten. Dan kemudian ini akan memudahkan kita menggunakan transportasi massal dan akan membuat gaya hidup masyarakat terkait dengan penggunaan transportasi massal akan tumbuh dan berkembang di wilayah perbatasan Jakarta,” kata Andra.