Momen Haru Warnai Sungkem di Peringatan Hari Ibu Lio Genteng Bandung
Tak banyak kata terungkap dari bibir pucat ibu dua anak itu saat diajak berbincang usai sungkeman, kecuali doa-doanya untuk darah daging dia.
Sri Mulyati (51) tak kuasa menahan haru, kala sang anak berlutut di pangkuan dia. Di antara denting piano dan lirik menggetarkan dalam lagu 'Bunda' Melly Goeslaw yang terlantun, ia merengkuh penuh putrinya yang melakukan sungkem sebagai simbol bakti dan kasih sayang kepada dirinya.
Sri adalah satu dari 20 orang wanita yang turut dalam perayaan Hari Ibu di lingkungan Balai Rukun Warga (RW) 05, Kelurahan Nyengseret, Kecamatan Astana Anyar, Bandung, Jawa Barat, pada Senin (22/12). Tak banyak kata terungkap dari bibir pucat ibu dua anak itu saat diajak berbincang usai sungkeman, kecuali doa-doanya untuk darah daging dia.
“Terharu karena saya punya anak dua. Ya mungkin didoain semoga jadi anak sukses berbakti sama orang tua, juga berbakti sama negara,” ungkapnya agak terbata.
Sebagai seorang ibu, yang selalu ia upayakan tak lain memberikan support penuh agar anak-anaknya memiliki masa depan yang terang, meski di tengah segala keterbatasan ekonomi. Pendidikan, adalah bidang yang ia utamakan. Sri yakin hal tersebut bisa menjadi bekal berharga bagi anaknya guna menapaki jalan menuju apa-apa yang dicita-citakan.
“Yang paling penting kita selalu ada jika anak membutuhkan kita. Tidak dari segi ekonomi, tapi kasih sayang pengertian, pendidikan,” tuturnya.
Bersama dengan suaminya, ia akan mendukung anaknya dari apa yang mereka punya untuk anaknya selama ia hayatnya dikandung badan.
“Semoga nurut sama orang tua, jangan melawan,” harap dia.
Sementara itu, panitia acara, Sandi, menjelaskan, peringatan Hari Ibu di lingkungan Lio Genteng itu rutin digelar setiap tahun sebagai ruang sederhana bagi anak dan orang tua untuk saling mendekatkan diri.
Menurut dia, kegiatan tersebut lahir dari kesadaran bahwa sebagian besar warga di wilayah itu berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah, sehingga waktu dan perhatian dalam keluarga kerap terbagi oleh tuntutan hidup.
“Karena mungkin di sini ekonominya menengah ke bawah dan mungkin kasih sayang juga terbagi. Makanya kita bikin festival atau bikin acara yang bagaimana adalah-adalah momen anak sama ibunya untuk saling memaafkan,” tuturnya.
Sandi menambahkan, kegiatan tersebut tidak hanya dimaknai sebagai seremoni, melainkan upaya membangun kembali kedekatan emosional antara ibu dan anak, baik melalui sungkem, pelukan, maupun ungkapan perasaan yang jarang tersampaikan dalam keseharian.
Ia mengatakan kegiatan peringatan Hari Ibu di RW 05 itu telah memasuki tahun keempat. Selain Hari Ibu, warga juga kerap menggelar kegiatan serupa pada momen lain.
Sandi pun berharap momen peringatan Hari Ibu dapat menjadi pengingat bagi anak-anak untuk tetap menghormati dan menghargai peran orang tua di tengah perubahan zaman. Di sisi lain, menggugah orang tua akan kesadaran soal pola asuh anak.
“Harapan saya adanya acara ini mungkin anak-anaknya lebih tergugah, ibu-ibunya juga lebih tergugah juga gimana caranya parenting,” katanya.
“Ibu terhadap anak, dan mungkin anak juga ke ibu ingat jasa-jasa. Sekarang kan di era Gen Z ini anak-anak sudah luar biasa ya, susah dikasih tau lah gitu. Semoga adanya acara ini dia mengenang jasa ibu itu seperti apa gitu kan,” pungkas dia.