Menhut Minta Rehabilitasi Hutan Paliyan Jadi Contoh Nasional
Menhut menegaskan, partisipasi masyarakat sangat penting dalam menjaga kelestarian hutan.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni melakukan kunjungan kerja ke Suaka Margasatwa Paliyan, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu (7/5). Dalam kunjungannya, ia menekankan pentingnya mereplikasi keberhasilan proses rehabilitasi hutan di kawasan tersebut ke wilayah lain di Indonesia.
Raja Juli didampingi oleh Sekjen Kemenhut Mahfudz dan Dirjen PDASRH Dyah Murtiningsih. Ia menyoroti kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, perguruan tinggi, dan swasta sebagai kunci sukses restorasi hutan.
"Ini menurut saya pola kerjasama yang harus diapresiasi, tapi saat bersamaan juga harus direplikasi, keberhasilannya sudah terlihat," kata Raja Juli.
Kawasan Suaka Margasatwa Paliyan sempat mengalami kerusakan parah pasca-reformasi 1998 akibat penebangan liar. Kini, kawasan seluas 434,60 hektare itu telah pulih berkat Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GNRHL) yang kemudian dilanjutkan oleh kolaborasi antara PT Mitsui Sumitomo Insurance Group dan UGM, dengan pendekatan penggunaan tanaman Multipurpose Tree Species (MPTS) dan tanaman native karst.
Menhut menegaskan, partisipasi masyarakat sangat penting dalam menjaga kelestarian hutan.
"Kalau masyarakat tidak dilibatkan, apalagi dianaktirikan dari proses itu, pasti kejadian di tempat-tempat lain yang hutannya tidak lestari," ujarnya.
Riset dan Kolaborasi Diperlukan untuk Replikasi Nasional
Raja Juli juga menekankan pentingnya riset mendalam agar praktik baik ini dapat didokumentasikan dan menjadi model untuk wilayah lain.
"Saya masih belum bisa komprehensif dengan apa yang harus dilakukan untuk mereplikasi keberhasilan ini ke tempat lain... tapi nampaknya kesimpulan sementara saya, selain ada intervensi pendanaan, juga melibatkan masyarakat," katanya.
Ia menambahkan, keberhasilan ini harus diabadikan sebagai memori kolektif masyarakat, sehingga manfaat dari hutan yang dijaga bersama bisa dirasakan langsung.
Kini, hasil dari restorasi kawasan Suaka Margasatwa Paliyan terlihat nyata. Keanekaragaman hayati yang berhasil dipulihkan mencakup 5 jenis mamalia, 13 herpetofauna, 19 capung, 65 kupu-kupu, dan 41 jenis burung—termasuk 5 spesies yang dilindungi.
Kawasan konservasi ini ditetapkan pada 29 Juni 2000, dan merupakan bagian dari ekosistem karst Gunung Sewu, yang dikenal dengan kondisi ekologisnya yang unik dan rentan.