Mengenal RDF Rorotan, Proyek Pengolahan Sampah Dikeluhkan Warga Hingga Disetop Sementara Pemprov DKI
Proyek ini dikeluhkan warga karena mengeluarkan bau tidak sedap, bahkan puluhan warga jatuh sakit akibat mengalami gangguan kesehatan, mual hingga sesak napas.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menghentikan sementara uji coba operasional Refuse Derived Fuel (RDF) Plant Rorotan, Jakarta Utara, setelah muncul protes dari warga sekitar.
Fasilitas pengolahan sampah menjadi bahan bakar alternatif ini diduga menimbulkan bau menyengat dan menyebabkan puluhan warga mengalami gangguan kesehatan, seperti mual, pusing, hingga sesak napas.
Proses Pengolahan RDF
RDF Rorotan berdiri di atas lahan seluas sekitar 7,87 hektar di wilayah Rorotan, Jakarta Utara. Fasilitas ini mampu mengolah hingga 2.500 ton sampah per hari, menghasilkan sekitar 875 ton bahan bakar RDF setiap harinya.
Dengan kapasitas sebesar itu, proyek ini diharapkan dapat mengurangi sekitar 30 persen volume sampah yang dikirim ke Bantargebang setiap hari.
Teknologi Refuse Derived Fuel (RDF) ini bertujuan mengurangi volume sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang.
Proses pengolahan sampah di RDF Rorotan berjalan dalam alur panjang dan berlapis, mengandalkan sistem pemilahan, penghancuran, hingga pengeringan yang diatur secara mekanis dan otomatis.
Ketika truk pengangkut tiba, sampah terlebih dahulu dibongkar di area penerimaan. Di tahap ini dilakukan penyortiran awal untuk memisahkan antara material yang bisa dibakar seperti plastik, kertas, dan kain, dengan material yang tidak bisa dibakar seperti logam, kaca, atau batu.
Sampah yang sudah tersortir kemudian masuk ke tahap penghancuran. sampah dihancurkan menjadi potongan kecil menggunakan mesin shredder agar ukurannya seragam dan mudah diolah.
Secara sederhana, RDF Rorotan bekerja dengan prinsip mengubah sampah kota menjadi bahan bakar. Sampah disortir, dihancurkan, dikeringkan, dan dipadatkan hingga menjadi bahan bakar berenergi tinggi.
RDF Menimbulkan Bau
Sumber bau bukan berasal dari mesin RDF, melainkan dari tumpahan air lindi yang keluar dari truk pengangkut sampah.
"Yang menjadi masalah adalah ketika sampah diangkut, truknya tidak compact, sehingga air lindinya tumpah dan menyebabkan bau," ujar Pramono di Kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Selasa (4/11).
Menurut Pramono, peristiwa ini semakin parah sejak curah hujan meningkat. Air hujan membuat sampah lebih basah dan air lindi meluber ke jalan, menimbulkan bau menyengat di sekitar kawasan Rorotan.
Pramono Setop Sementara RDF
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menjelaskan bahwa penghentian sementara dilakukan setelah adanya laporan warga terkait bau tak sedap yang muncul beberapa hari terakhir.
"Saya sudah meminta kepada Kepala Dinas Lingkungan Hidup untuk sementara commissioning nya dihentikan terlebih dahulu sampai truk pengangkut sampah benar-benar compact dan tidak lagi menimbulkan tumpahan air lindi," tegas Pramono.
dilansir dari beberapa sumber, Sementara itu warga di sekitar Cakung Timur dan Rorotan mengaku terganggu dengan bau menyengat yang muncul sejak uji coba dimulai.
Mereka melaporkan puluhan warga mulai mengalami gangguan pernapasan, sakit kepala, hingga iritasi akibat paparan udara dari sekitar lokasi.
Reporter Magang: Mochamad Aidil Akbar