Cerita Warga Rorotan Soal Bau Menyengat dari Fasilitas RDF Jakut
Warga sekitar RDF Rorotan mengeluh dengan bau menyengat setiap hari. Mereka berharap kondisi itu bisa berubah seperti dulu.
Bau menyengat menyeruak di udara kawasan Rorotan, Jakarta Utara, setiap kali angin berembus ke arah pemukiman.
Dari jauh, aroma busuk campuran sampah yang tengah dikelola di fasilitas Refuse Derived Fuel (RDF) Rorotan begitu kuat, hingga warga mengibaratkannya tak jauh berbeda dengan bau di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat.
Warga setempat menilai proyek yang digadang-gadang sebagai solusi ramah lingkungan bagi permasalahan sampah ibu kota ini, justru menimbulkan persoalan baru di sekitar lokasi.
“Bau sampah yang nyengat gitu biasanya sore, kalo nggak habis hujan. Itu tuh bau paling parahnya ” kata Wulan, warga yang tinggal sekitar 1,5 kilometer dari lokasi RDF ketika dijumpai Merdeka.com, Jumat (7/11).
‘Mau Marah Juga Percuma’
“Kadang ya mau marah juga percuma, udah jadi bagian dari hari aja,” sambung Wulan.
Senada dengan Wulan, Alfin, warga lain yang rumahnya berjarak kurang dari satu kilometer dari lokasi RDF, menggambarkan situasi serupa.
“Bau busuk campur aduk lah pokoknya,” ujarnya.
“Kadang pagi udah kecium, sore makin parah. Angin arah ke rumah, ya udah, nasib,” tambahnya.
Harapan Warga
Sementara itu, Yazid, warga lainnya yang tinggal sekitar 3,3 kilometer dari RDF Rorotan, juga merasakan aroma yang cukup menyengat saat malam hari , meskipun jaraknya lebih jauh dibandingkan dua warga sebelumnya.
“Gua ke cium nya saat malem hari, Baunya menyengat banget enggak jauh kayak di Bantargebang,” ujar Yazid saat ditemui, Jumat (7/11).
Ia menambahkan bahwa sejauh ini belum mendengar adanya warga yang mengalami gangguan kesehatan akibat RDF.
“Kalau sekarang, belum pernah denger ada warga yang sakit karena RDF,” tuturnya.
Namun, Yazid menilai pentingnya transparansi dari pengelola RDF terkait operasional harian fasilitas tersebut.
“Harapannya sih lebih transparansi aja, soal berapa ton sampah yang diolah tiap hari dan waktu pengelolaannya tuh pagi, siang, sore, atau malam,” jelasnya.
Ia juga berharap RDF hanya menerima sampah dari wilayah DKI Jakarta, sesuai dengan pengelolaannya yang berada di bawah Pemprov DKI.
“Kalau bisa, RDF cuma ngelola sampah warga Jakarta aja, karena yang ngatur kan Pemprov DKI. Jangan sampai sampah dari luar DKI diterima, tapi yang kena dampak justru warga DKI tepatnya warga rorotan” katanya.
Fasilitas RDF Rorotan dibangun sebagai bagian dari strategi pengurangan sampah menuju pengelolaan berkelanjutan.
Namun di balik semangat “energi hijau”, masih tersisa keluhan dari warga yang hidup berdampingan dengan bau sampah hasil dari RDF setiap hari.
Proyek ini memang menjanjikan manfaat jangka panjang bagi kota, tapi di Rorotan, perjuangan warga seperti Wulan, Alfin, dan Yazid adalah soal sederhana bagaimana bisa menghirup udara segar tanpa harus menutup hidung.
Reporter magang: Mochamad Aidil Akbar