Mengejutkan, 45 Kantong Jenazah Korban Ponpes Al Khoziny Diterima RS Bhayangkara Surabaya untuk Identifikasi
RS Bhayangkara Surabaya telah menerima 45 kantong jenazah korban ambruknya Ponpes Al Khoziny. Proses identifikasi korban Ponpes Al Khoziny terus diupayakan, termasuk melalui sampel DNA, untuk memastikan pengenalan yang akurat.
Surabaya digegerkan dengan insiden ambruknya Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny yang menelan korban jiwa. Rumah Sakit (RS) Bhayangkara Surabaya menjadi pusat penanganan jenazah, mencatat penerimaan puluhan kantong jenazah.
Hingga Minggu pukul 18.00 WIB, RS Bhayangkara Surabaya telah menerima total 45 kantong jenazah yang berasal dari lokasi kejadian. Kabid Dokkes Kepolisian Daerah Jawa Timur, Kombes Pol M Khusnan, mengonfirmasi data tersebut dalam jumpa pers di RS Bhayangkara Surabaya.
Proses identifikasi korban Ponpes Al Khoziny segera dilakukan untuk mengenali para korban dan mengembalikan mereka kepada keluarga. "Sampai dengan hari ini, sampai saat ini teman-teman, data korban kantong jenazah yang dikirim ke Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya ini, totalnya sudah sebanyak 45 kantong jenazah," ujar Kombes Pol M Khusnan.
Proses Identifikasi Awal dan Tantangannya
Dari total 45 kantong jenazah yang diterima, sebagian kecil telah berhasil diidentifikasi. Kombes Pol M Khusnan menjelaskan bahwa sebanyak 10 korban telah teridentifikasi, dengan rincian lima orang di Sidoarjo dan lima lainnya di RS Bhayangkara Surabaya.
Identifikasi awal ini menjadi langkah penting dalam upaya mengenali para korban. Namun, tantangan besar masih dihadapi, terutama dengan adanya kantong jenazah yang hanya berisi potongan tubuh.
Khusnan menambahkan, dari total 45 kantong jenazah tersebut, empat di antaranya berisi potongan tubuh atau body part. Seluruh potongan tubuh ini telah diambil sampel DNA-nya untuk proses identifikasi lebih lanjut, yang memerlukan waktu dan ketelitian.
Peran Sampel DNA dan NIK dalam Identifikasi
Untuk kasus yang lebih kompleks, terutama yang melibatkan potongan tubuh, proses identifikasi korban Ponpes Al Khoziny sangat mengandalkan sampel DNA. Seluruh sampel DNA dari jenazah dan potongan tubuh telah dikirim ke Jakarta untuk analisis.
Kombes Pol M Khusnan memastikan bahwa proses identifikasi melalui sampel DNA akan dilakukan secepat mungkin. Pengambilan sampel DNA keluarga korban juga menjadi prioritas agar proses pembandingan dapat segera dilakukan begitu jenazah tiba.
Menjawab pertanyaan mengenai penggunaan Nomor Induk Kependudukan (NIK) dalam proses identifikasi, Khusnan menjelaskan bahwa NIK tidak menjadi dasar utama pengenalan jenazah. "Jadi bukan terlambat karena apa namanya, kenapa keluarga korban sudah diambil kok nggak segera dikirim. Nah, kalau itu kan harus membutuhkan pembanding. Jadi kedua-duanya kita kirim," jelasnya, menegaskan pentingnya pembanding DNA.
Sumber: AntaraNews