Mendagri Minta Tambahan BKO TNI/Polri Percepat Pembersihan Lumpur Banjir Aceh
Mendagri Tito Karnavian mendesak penambahan personel BKO TNI/Polri dan siswa sekolah kedinasan untuk mempercepat pembersihan lumpur sisa banjir di Aceh, menargetkan selesai sebelum Ramadhan tiba.
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mendesak percepatan pembersihan lumpur sisa banjir di berbagai daerah terdampak di Aceh. Ia meminta tambahan Bantuan Kendali Operasi (BKO) personel TNI/Polri serta pengerahan siswa sekolah kedinasan. Langkah ini diambil untuk memastikan pemulihan pascabencana dapat berjalan efektif dan selesai sebelum bulan Ramadhan tiba, yang diperkirakan jatuh pada pertengahan Februari 2026.
Permintaan itu disampaikan Tito Karnavian saat rapat di Banda Aceh. Rapatnya dengan Forkopimda Aceh dan bupati/wali kota se-Aceh. Sebagai Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera, Mendagri menekankan pentingnya sinergi semua pihak. Pembersihan lumpur di jalanan, gang-gang, rumah, lorong, hingga toko menjadi prioritas utama.
Tito Karnavian juga telah menyampaikan usulan ini kepada Kapolri dan Panglima TNI. Tujuannya mempercepat pengerahan personel. Ia juga mengusulkan Latihan Integrasi Taruna Wreda (Latsitarda) TNI/Polri dapat diturunkan langsung ke lokasi bencana. Mobilisasi kekuatan besar diharapkan mampu membersihkan area terdampak secara menyeluruh.
Percepatan Pembersihan Lumpur Mendesak
Mendagri Tito Karnavian menegaskan bahwa pembersihan lumpur sisa banjir harus dipercepat secara signifikan. Kondisi jalanan yang relatif bagus tidak berarti pembersihan lumpur di area lain dapat ditunda. Fokus utama adalah membersihkan endapan lumpur di daratan maupun aliran sungai yang masih menghambat aktivitas masyarakat.
"Pembersihan lumpur ini memang mesti dikeroyok bersama, maka perlu tambahan kekuatan dari TNI/Polri, kemudian sekolah kedinasan," ujar Tito Karnavian. Ia menambahkan bahwa mobilisasi besar-besaran sangat diperlukan untuk memastikan daerah yang banyak lumpur segera bersih, termasuk di dalam rumah-rumah penduduk. Targetnya adalah menyelesaikan pekerjaan fisik ini sebelum Ramadhan, mengingat beratnya pekerjaan tersebut.
Sebelumnya, penambahan personel sempat terkendala karena fokus pengamanan Natal dan Tahun Baru (Nataru). Namun, dengan selesainya periode Nataru, Tito melihat ini sebagai momentum tepat untuk menggenjot pembersihan. Ia berharap penambahan kekuatan dapat terealisasi secepatnya.
Permintaan Tambahan Ribuan Personel
Untuk mempercepat proses pembersihan, Mendagri Tito Karnavian telah meminta penambahan signifikan jumlah personel BKO. Ia menyampaikan kepada Kapolri agar menambah personel Polri menjadi 5.000 orang dari sebelumnya hanya 1.000 personel. Penambahan ini sangat krusial mengingat skala kerusakan dan volume lumpur yang harus dibersihkan.
"Saya minta Kapolri paling tidak 5.000 personel, nanti daerahnya di mana kita lihat petanya," kata Tito. Selain itu, ia juga telah berkomunikasi dengan Kepala Staf TNI Angkatan Darat Maruli Simanjuntak. Mendagri mengusulkan penambahan BKO prajurit TNI hingga 10.000 orang, karena jumlah 1.000 personel dirasa tidak akan cukup untuk cakupan wilayah terdampak yang luas.
Tito mencontohkan, 1.200 praja IPDN yang telah dikerahkan hanya fokus di Dinas Aceh Tamiang. Ini menunjukkan betapa besarnya kebutuhan personel untuk menangani area seperti Aceh Timur dan Gayo Lues. Koordinasi dengan pimpinan TNI/Polri terus dilakukan untuk memastikan ketersediaan dan pengerahan pasukan.
Peran Serta Sekolah Kedinasan dan Latsitarda
Selain TNI/Polri, Mendagri juga menginstruksikan mobilisasi siswa sekolah kedinasan untuk turut serta dalam upaya pembersihan. Sekolah kedinasan seperti Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), Badan Pusat Statistik (BPS), serta sekolah perikanan dan perhubungan diharapkan dapat mengirimkan siswanya. Keterlibatan mereka akan menambah kekuatan relawan dan tenaga kerja fisik.
Tito Karnavian juga menyoroti potensi Latihan Integrasi Taruna Wreda (Latsitarda) TNI/Polri. Ia telah meminta kepada Kapolri dan Panglima TNI untuk mempercepat pelaksanaan Latsitarda. Dengan demikian, taruna dari Akademi Angkatan Laut (AAL), Akademi Angkatan Udara (AAU), Akademi Militer (Akmil), dan Akademi Kepolisian (Akpol) dapat langsung diterjunkan. Mereka akan menghadapi situasi lapangan yang sebenarnya sebagai bagian dari latihan terintegrasi.
Keterlibatan berbagai elemen ini diharapkan dapat menciptakan sinergi yang kuat dalam penanganan pascabencana. Dengan "dikeroyok bersama", Tito optimistis bahwa daerah-daerah terdampak lumpur akan segera bersih sepenuhnya. Upaya kolektif ini penting untuk mempercepat pemulihan dan mengembalikan kehidupan normal masyarakat Aceh.
Sumber: AntaraNews