Menbud Dorong Benteng Gunung Kunci Palasari Jadi Cagar Budaya Nasional, Optimalkan Pelestarian Sejarah dan Ekosistem
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mendorong Benteng Gunung Kunci dan Benteng Palasari di Sumedang menjadi Cagar Budaya Nasional, demi pelestarian sejarah dan ekosistem alam yang maksimal.
Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon secara aktif mendorong penetapan Benteng Gunung Kunci dan Benteng Palasari di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, sebagai Cagar Budaya Nasional. Langkah ini diambil untuk memastikan pelestarian maksimal terhadap warisan sejarah serta ekosistem alam di sekitarnya. Peninjauan langsung ke Situs Tahura Gunung Kunci - Palasari menjadi bentuk komitmen kuat Kementerian Kebudayaan.
Dorongan ini disampaikan Menbud Fadli Zon saat melakukan kunjungan kerja ke lokasi tersebut pada Sabtu (17/1), di mana ia melihat langsung kondisi situs. Ia menilai ekosistem alam di kedua benteng tersebut sudah sangat baik, bahkan pernah dijadikan semacam memorial plant. “Pohon-pohonnya langka, namun tetap merupakan bagian dari pohon endemik lokal. Jadi kita berharap cagar budaya seperti ini nanti juga bisa kita jadikan cagar budaya nasional,” kata Fadli.
Penetapan sebagai Cagar Budaya Nasional diharapkan tidak hanya melindungi struktur fisik benteng, tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan sekitarnya. Hal ini akan memungkinkan kedua benteng tersebut berfungsi sebagai pusat edukasi sejarah dan destinasi wisata budaya yang menarik. Kolaborasi lintas sektor juga ditekankan untuk proses kajian dan riset mendalam terkait situs ini.
Pentingnya Status Cagar Budaya Nasional bagi Benteng Gunung Kunci
Benteng Gunung Kunci menjadi bukti nyata dari riwayat militer kolonial Belanda yang pernah berkuasa di Indonesia. Dibangun pada tahun 1917, struktur benteng ini relatif kompleks dan lengkap, mencakup fungsi pemantauan, logistik, hingga perkantoran. Menbud Fadli Zon menegaskan bahwa benteng ini merupakan bagian penting dari sejarah pertahanan kolonial.
Benteng Gunung Kunci diperkirakan merupakan satu rangkaian dengan Benteng Palasari, dibangun pada masa yang sama, yaitu saat Perang Dunia Pertama. Keberadaan benteng ini menunjukkan strategi pertahanan yang canggih pada zamannya. Dulunya, benteng ini juga berfungsi sebagai penjara serta gudang amunisi, menambah nilai historisnya sebagai situs militer.
Ekosistem alam di sekitar Benteng Gunung Kunci juga memiliki nilai konservasi tinggi, dengan pohon-pohon langka yang tetap menjadi bagian dari flora endemik lokal. Gagasan untuk menjadikan area ini sebagai semacam memorial plant juga diapresiasi oleh Menbud. Pelestarian Benteng Gunung Kunci sebagai Cagar Budaya Nasional akan mengintegrasikan perlindungan sejarah dan lingkungan.
Kekayaan Narasi Sejarah Benteng Palasari dan Kebutuhan Riset Mendalam
Benteng Palasari, yang juga terletak di Kabupaten Sumedang, merupakan cagar budaya yang sarat akan narasi sejarah dan nilai historis. Proses identifikasi awal memperkirakan adanya delapan benteng yang dibangun pada awal abad ke-20, kemungkinan besar selama periode Perang Dunia Pertama. Lokasinya yang strategis di atas bukit menunjukkan perannya sebagai benteng pengintai.
Menbud Fadli Zon menekankan pentingnya kajian dan riset mendalam untuk Benteng Palasari. “Tentu kita harus melakukan riset terkait dengan Benteng Palasari. Misalnya bagaimana proses pembuatan, kegunaan, dan apa yang terjadi di Benteng Palasari ini pada saat itu,” ujar Fadli. Ia menambahkan bahwa lokasi benteng di bukit dengan struktur kuat dan kamar-kamar beragam fungsi memerlukan penelitian lebih lanjut.
Kolaborasi lintas sektor sangat dibutuhkan dalam proses kajian Benteng Palasari ini. Kementerian Kebudayaan, Pemerintah Kabupaten Sumedang, serta komunitas dan masyarakat sekitar diharapkan dapat bersinergi. Upaya ini akan mengungkap lebih banyak detail sejarah, memperkaya narasi, dan mendukung status Cagar Budaya Nasional Benteng Gunung Kunci Palasari secara komprehensif.
Dukungan Pemerintah Daerah dan Potensi Wisata Edukasi
Pemerintah Kabupaten Sumedang menyatakan dukungan penuh terhadap upaya pelestarian Cagar Budaya Nasional Benteng Gunung Kunci Palasari. Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir, menegaskan, “Pemda Sumedang siap untuk terus memelihara benteng ini dan menjadikannya sebagai tempat edukasi sekaligus wisata bagi masyarakat Sumedang.” Dukungan ini krusial untuk keberlanjutan program pelestarian dan pengembangan situs.
Bupati Dony Ahmad Munir juga berharap agar benteng-benteng ini dapat menjadi tempat edukasi sekaligus destinasi wisata bagi masyarakat Sumedang dan sekitarnya. Potensi wisata budaya dan sejarah yang hidup dengan narasi kuat menjadi daya tarik utama. Hal ini sejalan dengan visi Menbud Fadli Zon untuk menjadikan situs sejarah sebagai aset budaya yang bermanfaat bagi masyarakat luas.
Tahura Gunung Kunci - Palasari, sebagai kawasan konservasi dan situs sejarah militer Belanda, menawarkan pengalaman edukasi yang unik. Pengunjung dapat belajar tentang sejarah kolonial sekaligus menikmati keindahan alam dan keanekaragaman hayati. Pengembangan ini akan memperkuat posisi Cagar Budaya Nasional Benteng Gunung Kunci Palasari sebagai destinasi unggulan.
Sumber: AntaraNews