Masjid Negara IKN Gelar Salat Idulfitri Perdana
Masjid Negara IKN akan menggelar Salat Idulfitri perdana 2026 pukul 06.30 WITA. Akses tol, shuttle bus, dan fasilitas khusus disiapkan untuk jamaah.
Masjid Negara di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP), Ibu Kota Nusantara (IKN) akan menggelar salat IdulFitri 1447 H pertama kali. Pelaksanaan ibadah dijadwalkan dimulai pukul 06.30 WITA, terbuka bagi masyarakat umum.
"Salat Idulfitri di Masjid Negara terbuka untuk umum. Kami mengajak masyarakat di IKN dan sekitarnya untuk hadir dan melaksanakan Salat Idulfitri bersama di Masjid Negara," kata Juru Bicara Otorita IKN, Troy Pantouw dalam keterangan resminya, Jumat (20/3/2026).
Dalam pelaksanaan tersebut, Prof. Dr. H. Muhammad Abzar Duraesa akan bertindak sebagai khatib, sementara imam salat adalah Dr. Ahmad Muzakir.
Akses dan Fasilitas Jamaah Disiapkan
Untuk mendukung kelancaran kegiatan, akses Tol IKN menuju kawasan masjid akan dibuka mulai pukul 04.30 WITA. Jamaah diimbau datang lebih awal dan mengikuti arahan petugas di lokasi.
Otorita IKN juga menyediakan area parkir di basement masjid. Jika kapasitas penuh, kendaraan akan diarahkan ke lokasi parkir tambahan di sekitar kawasan sesuai petunjuk petugas.
Selain itu, layanan shuttle bus dalam kota disiapkan dari sejumlah titik, seperti Rusun ASN 1 hingga 4, HPK 1 dan 2, serta rest area. Seluruh rute akan terhubung melalui Bundaran Sumbu Timur sebelum menuju masjid.
Layanan transportasi ini beroperasi pada pukul 05.00 hingga 09.00 WITA untuk memudahkan mobilitas jamaah.
Fasilitas tambahan berupa kendaraan golf cart juga disediakan bagi kelompok tertentu, seperti lansia, ibu hamil, dan penyandang disabilitas.
Pemerintah Tetapkan Lebaran Sabtu 21 Maret 2026
Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Agama telah menetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.
Menteri Agama, Nasaruddin Umar, menyampaikan keputusan tersebut setelah memimpin sidang isbat pada Kamis (19/3/2026).
"Disepakati bahwa 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026," kata Nasaruddin Umar saat konferensi pers.
Hasil pemantauan menunjukkan posisi hilal di Indonesia berada pada kisaran 0,9 hingga 3,1 derajat, dengan elongasi antara 4,5 hingga 6,1 derajat. Sebagian besar posisi hilal berada di bawah kriteria minimum visibilitas.
"Secara hisab, data hilal pada hari ini tidak memenuhi kriteria fisibilitas MABIMS," ucap Nasaruddin Umar.
Penetapan tersebut mengacu pada standar MABIMS yang digunakan Indonesia bersama Brunei, Malaysia, dan Singapura dalam menentukan awal bulan Hijriah.