Mahasiswa IAIN Gorontalo Dalami Bahasa Isyarat, Siap Cetak Pendidik Inklusif
Mahasiswa IAIN Gorontalo Dalami Bahasa Isyarat bersama GERKATIN dan Komunitas Rangkul Asa, membekali calon pendidik madrasah dengan keterampilan inklusif. Simak selengkapnya!
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo aktif mendalami bahasa isyarat. Kegiatan penting ini terselenggara berkat kolaborasi dengan Gerakan Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (GERKATIN) dan Komunitas Rangkul Asa. Pendalaman bahasa isyarat ini bertujuan membekali calon pendidik madrasah dengan keterampilan khusus yang sangat dibutuhkan.
Workshop Komunikasi Inklusif dan Penguasaan Dasar Bahasa Isyarat ini diikuti oleh mahasiswa semester enam dan delapan. Acara berlangsung khidmat di aula Fakultas Syariah IAIN Sultan Amai Gorontalo pada Jumat (07/3), meskipun di tengah suasana bulan Ramadan. Langkah strategis ini menunjukkan komitmen IAIN Gorontalo dalam menyiapkan lulusan yang kompeten dan berdaya saing.
Tujuan utama dari workshop ini adalah untuk membekali calon pendidik madrasah dengan keterampilan khusus. Hal ini penting dalam menghadapi keberagaman peserta didik di sekolah inklusif. Penguasaan bahasa isyarat kini menjadi kebutuhan mendasar bagi para guru di masa kini.
Pentingnya Pendidikan Inklusif dan Bahasa Isyarat
Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Profesor Arten Mobonggi menegaskan bahwa penguasaan bahasa isyarat bukan lagi sekadar keahlian tambahan. Sebaliknya, hal tersebut telah menjadi kebutuhan mendasar bagi guru masa kini. Pendidikan inklusif adalah masa depan bagi Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Indonesia.
Melalui workshop ini, IAIN Gorontalo ingin memastikan mahasiswa PGMI siap menjadi pendidik yang tidak meninggalkan satu anak pun di belakang karena hambatan komunikasi. Ini merupakan wujud nyata dari visi pendidikan yang merangkul semua kalangan. Komitmen ini selaras dengan upaya menciptakan lingkungan belajar yang adil dan setara bagi setiap siswa.
PGMI IAIN Sultan Amai Gorontalo membuktikan komitmennya dalam mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademis. Mereka juga memiliki empati dan kompetensi sosial yang inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat. Sekretaris Program Studi PGMI, Mifth Huljannah, berharap mahasiswa dapat memanfaatkan momentum ini untuk menguasai dasar-dasar bahasa isyarat.
Sesi Workshop yang Interaktif dan Edukatif
Selama workshop berlangsung, antusiasme mahasiswa tetap tinggi meskipun kegiatan dilaksanakan saat berpuasa. Para peserta diajak memahami filosofi lingkungan inklusif. Mereka juga mempraktikkan langsung alfabet dan kalimat dasar bahasa isyarat.
Workshop ini menghadirkan narasumber ahli yang kompeten di bidangnya. Ketua Program Studi Pendidikan Khusus Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Sri Yulan Umar, menyampaikan materi tentang 'Membedah urgensi lingkungan inklusif di sekolah dasar'. Dosen Program Studi PGMI, Sabrina Nadjib, membahas 'Meninjau aspek komunikasi inklusif dari perspektif pedagogi'.
Selain itu, Pengajar Bahasa Isyarat Abd Kadir Umar bertindak sebagai instruktur praktik bahasa isyarat. Juru Bahasa Isyarat Yusrilsyah Limbanadi turut hadir sebagai fasilitator komunikasi antara peserta dan narasumber. Kehadiran para ahli ini memastikan materi yang disampaikan komprehensif dan mudah dipahami.
Meskipun dalam kondisi berpuasa, para mahasiswa nampak bersemangat mengikuti setiap sesi praktik. Mereka aktif dalam gerakan tangan dan ekspresi wajah yang menjadi kunci bahasa isyarat. Rangkaian kegiatan edukatif ini ditutup dengan momen kebersamaan yang hangat melalui Buka Puasa Bersama seluruh peserta, dosen, dan narasumber di aula FITK IAIN Sultan Amai Gorontalo.
Sumber: AntaraNews