10 Fakta Mencengangkan Tentang Bahasa Isyarat: Sudah Digunakan Sejak 4 Abad Sebelum Masehi
Bahasa isyarat, jauh lebih tua dari perkiraan sebelumnya, bahkan telah digunakan sejak abad ke-4 SM!
Bayangkan sejenak, dunia di mana suara tidak menjadi andalan utama untuk berkomunikasi. Di dunia itu, gerakan tangan, ekspresi wajah, dan bahasa tubuh menjadi jembatan utama antar manusia. Dunia itu bukan imajinasi semata. Bahasa isyarat, sebagai salah satu bentuk komunikasi manusia paling tua, telah hadir jauh sebelum kata-kata lisan kita kenal hari ini. Bahkan, sejarah mencatat, bentuk awal bahasa isyarat sudah digunakan sejak abad ke-4 sebelum Masehi.
Dalam perjalanan panjangnya, bahasa isyarat mengalami pasang surut: diterima, disalahpahami, bahkan sempat dilarang. Namun seiring waktu, bahasa ini berkembang menjadi sistem komunikasi kaya dan beragam. Dilansir dari Listverse, berikut 10 fakta mencengangkan tentang sejarah dan perkembangan bahasa isyarat yang akan membuka wawasan Anda.
1. Socrates dan Bahasa Tangan di Yunani Kuno
Di masa Yunani Kuno, pemikiran tentang bahasa isyarat sudah muncul. Dalam dialog Cratylus yang ditulis Plato, Socrates berkata bahwa bila manusia tidak dapat berbicara, "mereka akan saling memberi tanda dengan menggerakkan tangan, kepala, dan seluruh tubuhnya."
Sejarawan meyakini bahwa ini merupakan salah satu bukti penggunaan bentuk awal bahasa isyarat di Yunani. Namun ironisnya, di sisi lain, filsuf besar seperti Aristoteles beranggapan bahwa orang tuli "tidak mampu belajar" karena dianggap "tak berakal." Pemikiran ini bertahan selama berabad-abad, menunda kemajuan dalam pendidikan dan pengakuan bagi komunitas tuli.
2. Bahasa Isyarat Hidup di Tengah Suku Asli Amerika
Jauh dari peradaban Eropa, suku-suku asli Amerika telah mengembangkan "Hand Talk" atau bahasa isyarat mereka sendiri. Menurut catatan sejarah, penjelajah Eropa pertama kali mendokumentasikan penggunaan bahasa isyarat di kalangan penduduk asli pada tahun 1542.
Plains Indian Sign Language (PISL) menjadi yang paling terkenal. Bahasa ini digunakan oleh pemburu untuk menjaga keheningan saat berburu, dan oleh pedagang antarsuku yang berbicara dalam bahasa lisan berbeda. Bahkan saat Lewis dan Clark menjelajah Barat Amerika, mereka menggunakan sistem isyarat ini untuk berkomunikasi dengan berbagai suku.
Sayangnya, saat ini PISL dikategorikan sebagai "bahasa yang terancam punah" oleh Oklahoma Museum of Natural History, dengan hanya sedikit penutur asli yang tersisa.
3. Perubahan Pandangan di Eropa Abad ke-16
Memasuki abad ke-16, pemikiran tentang ketulian di Eropa mulai berubah. Rudolf Agricola, seorang cendekiawan Belanda, menulis bahwa orang tuli dapat belajar berbahasa. Pandangan ini menginspirasi Girolamo Cardano, seorang dokter Italia yang mengajarkan anaknya yang tuli untuk menggunakan gerakan tangan dalam berkomunikasi.
Karya Cardano yang diterbitkan pada 1575 menggarisbawahi kecerdasan alami orang tuli, dan pentingnya mengajarkan mereka membaca dan menulis. Tak lama setelahnya, Solomon Alberti, dokter Jerman, memperkuat ide ini dengan menyatakan bahwa orang tuli mampu membaca bibir dan belajar bahasa.
Pandangan-pandangan progresif ini menjadi fondasi bagi pengembangan sistem komunikasi berbasis isyarat di Eropa.
4. Peran Para Biarawan yang Diam
Sebelum bahasa isyarat berkembang luas di dunia luar, komunitas religius sudah lebih dulu menggunakannya. Para biarawan Katolik yang menjalani sumpah diam menciptakan berbagai bentuk isyarat tangan untuk berkomunikasi.
Salah satu pelopor utama adalah Fray Melchor de Yebra dari Spanyol, yang pada tahun 1593 menerbitkan buku pertama berisi ilustrasi alfabet jari. Melalui karyanya, teknik "fingerspelling" mulai dikenal luas, tidak hanya untuk keperluan religius, tetapi juga untuk pendidikan anak-anak tuli.
Beberapa dekade kemudian, Juan Pablo Bonet memperluas karya ini, membuat metode pengajaran lebih sistematis dan mendorong lahirnya bentuk standar pertama bahasa isyarat.
5. Sukses Besar Para Pelayan Tuli di Kekaisaran Ottoman
Sementara di Eropa bahasa isyarat masih dalam tahap awal, Kekaisaran Ottoman sudah jauh lebih maju. Para Sultan sengaja mempekerjakan pelayan tuli karena kemampuan mereka berkomunikasi tanpa suara — suatu keunggulan besar untuk menjaga rahasia politik.
Sir Paul Rycaut, sejarawan abad ke-17, mencatat bahwa ada lebih dari 100 pelayan tuli di istana Sultan. Para Sultan bahkan belajar bahasa isyarat untuk berinteraksi dengan pelayan mereka, membuktikan betapa penting dan tingginya posisi komunikasi tanpa suara di istana Ottoman.
6. Inggris Mendorong Bahasa Isyarat Menuju Arus Utama
Tahun 1644, dokter Inggris John Bulwer menerbitkan buku Chirologia, yang menekankan bahwa tangan "berbicara dalam semua bahasa." Bulwer juga memperkenalkan gerakan tangan universal untuk menunjukkan emosi seperti kesedihan atau ketidaksetujuan.
Karya Bulwer menjadi penting dalam memperkenalkan konsep bahasa tangan yang bisa digunakan lintas budaya dan bahasa lisan. Ide-idenya mendorong penerimaan lebih luas terhadap bahasa isyarat di Inggris dan Eropa.
7. Standarisasi Melalui Seorang Pastor Prancis
Charles-Michel de l’Épée, seorang imam Katolik di Prancis, dianggap sebagai "Bapak Orang Tuli." Ia mengembangkan sistem isyarat berdasarkan bahasa isyarat kuno Prancis dan memperkenalkannya ke pendidikan formal.
De l’Épée mendirikan National Institute for Deaf-Mutes di Paris, sekolah pertama untuk orang tuli. Melalui upayanya, bahasa isyarat Prancis (dan kelak Amerika) berkembang menjadi sistem kompleks dan terstruktur. Ia membuktikan bahwa bahasa isyarat adalah sistem linguistik penuh, bukan sekadar isyarat sederhana.
8. Lahirnya American Sign Language (ASL)
Terinspirasi dari kerja de l’Épée, Thomas Hopkins Gallaudet membawa konsep pendidikan tuli ke Amerika Serikat. Pada 1817, ia mendirikan American School for the Deaf di Hartford, Connecticut.
Bahasa isyarat yang dikembangkan di sekolah ini, meskipun berakar dari Prancis, akhirnya bertransformasi menjadi American Sign Language (ASL) yang unik, lengkap dengan struktur tata bahasa dan kosakata sendiri. ASL kemudian menjadi bahasa isyarat utama di Amerika Utara.
Pada 1864, Presiden Abraham Lincoln mendirikan National Deaf-Mute College (sekarang Gallaudet University), universitas pertama di dunia untuk mahasiswa tuli.
9. Gerakan Oralism dan Diskriminasi Tuli
Meski ASL berkembang, tantangan besar muncul. Gerakan "oralism" yang berkembang pada akhir abad ke-19, dipelopori oleh tokoh seperti Alexander Graham Bell, berusaha menghapus penggunaan bahasa isyarat. Bell percaya bahwa orang tuli hanya boleh belajar membaca bibir dan berbicara.
Pada Kongres Milan 1880, pendidik tuli dilarang berbicara, dan keputusan sepihak mendukung oralism. Akibatnya, banyak sekolah melarang penggunaan bahasa isyarat, dan guru-guru tuli kehilangan posisi mereka.
Sejarah mencatat, pendekatan ini justru menimbulkan kesulitan bagi banyak siswa tuli dalam mengakses pendidikan yang efektif.
10. Kebangkitan Bahasa Isyarat di Era Modern
Semangat untuk menghidupkan kembali bahasa isyarat mendapat dorongan besar di tahun 1960-an. William Stokoe, profesor di Gallaudet University, membuktikan melalui penelitian linguistik bahwa ASL adalah bahasa penuh, dengan tata bahasa dan sintaksis sendiri.
Karyanya, Dictionary of American Sign Language on Linguistic Principles (1965), mengubah dunia pendidikan tuli. Bahasa isyarat akhirnya mendapatkan pengakuan resmi di banyak negara.
Di Cina, pemerintah bahkan mengembangkan Chinese Sign Language standar pada 2018, mencakup lebih dari 5.000 kata isyarat. Ini menunjukkan bahwa dunia kini semakin menyadari pentingnya bahasa isyarat sebagai bagian dari hak asasi manusia.
Seiring dengan perjuangan panjang komunitas tuli, bahasa isyarat kini berdiri sejajar dengan bahasa lisan. Pada tahun 2006, PBB menetapkan bahwa pemerintah di seluruh dunia wajib mengakui bahasa isyarat sebagai setara dengan bahasa lisan dalam komunikasi resmi. Bahkan, setiap tanggal 23 September kini diperingati sebagai International Day of Sign Languages.