Longsor Sampah Bantargebang Renggut Tiga Nyawa, Basarnas Terus Lakukan Pendataan Korban
Insiden Longsor Sampah Bantargebang di Bekasi menewaskan tiga orang, termasuk pemilik warung dan sopir truk, dengan Basarnas DKI Jakarta yang masih mendata potensi korban lain.
Tiga orang dilaporkan meninggal dunia setelah tertimbun longsoran sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Desa Ciketing Udik, Kecamatan Bantargebang, Kota Bekasi. Insiden tragis ini terjadi pada Minggu, 8 Maret, memicu keprihatinan mendalam. Peristiwa ini menunjukkan risiko tinggi yang dihadapi para pekerja di area pembuangan sampah.
Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) DKI Jakarta mengonfirmasi identitas para korban yang terdiri dari dua perempuan dan satu laki-laki. Longsoran material sampah yang masif mengubur mereka secara tiba-tiba. Tim SAR gabungan segera dikerahkan untuk melakukan upaya evakuasi dan pencarian.
Curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah Bekasi sejak siang hari diduga menjadi pemicu utama longsoran ini. Kondisi gundukan sampah yang telah mencapai ketinggian kritis membuatnya tidak stabil. Akibatnya, material sampah tumpah menutupi akses jalan dan menimbun sejumlah truk serta warung di lokasi.
Kronologi Kejadian Longsor Sampah Bantargebang
Peristiwa nahas Longsor Sampah Bantargebang ini diperkirakan terjadi sekitar pukul 15.30 WIB pada Minggu, 8 Maret. Hujan deras yang terus-menerus mengguyur area tersebut sejak siang hari memperburuk kondisi tumpukan sampah. Intensitas hujan yang tinggi menyebabkan struktur gundukan sampah menjadi jenuh dan rentan longsor.
Akun media sosial @lbj_jakarta juga mengunggah sebuah video yang memperlihatkan detik-detik longsoran sampah. Video tersebut dengan cepat menyebar, menunjukkan skala kerusakan dan bahaya yang ditimbulkan. Material sampah yang tumpah menutupi area yang luas, menghambat akses dan proses evakuasi.
Kondisi "gunung sampah" di TPST Bantargebang memang telah mencapai ketinggian yang kritis, menjadikannya sangat tidak stabil. Beban air hujan menambah tekanan pada tumpukan sampah, sehingga menyebabkan keruntuhan. Sejumlah truk yang sedang mengantre untuk bongkar muat ikut tertimbun dalam insiden ini.
Identifikasi Korban dan Upaya Penanganan
Kepala Kantor SAR Jakarta, Desiana Kartika Bahari, merinci identitas ketiga korban meninggal dunia akibat Longsor Sampah Bantargebang. Mereka adalah Enda Widayanti (25) dan Sumine (60), keduanya merupakan pemilik warung di sekitar lokasi kejadian. Korban ketiga adalah Dedi Sutrisno, seorang sopir truk yang sedang bertugas.
Basarnas DKI Jakarta menyatakan bahwa pihaknya masih terus melakukan pendataan karena diperkirakan masih banyak kendaraan truk sampah yang tertimbun. Beberapa warung di area lokasi juga ikut terkubur material longsoran. Proses pendataan ini penting untuk memastikan tidak ada korban lain yang belum teridentifikasi.
Untuk mendukung operasi pencarian dan pertolongan, Basarnas telah mengerahkan sejumlah personel unit Siaga SAR Bekasi. Bantuan juga datang dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bekasi dan BPBD Provinsi DKI Jakarta. Berbagai alat berat dan perlengkapan evakuasi juga telah dikerahkan ke lokasi kejadian untuk mempercepat proses penanganan.
Potensi Bahaya dan Mitigasi di TPST Bantargebang
Insiden Longsor Sampah Bantargebang ini menyoroti kembali potensi bahaya yang mengintai di TPST besar seperti Bantargebang. Ketinggian tumpukan sampah yang terus bertambah seiring waktu menciptakan risiko geoteknik yang signifikan. Curah hujan tinggi, terutama di musim penghujan, menjadi faktor pemicu utama ketidakstabilan ini.
Kondisi "gunung sampah" yang tidak stabil bukan hanya mengancam keselamatan para pekerja dan warga sekitar. Namun juga menimbulkan dampak lingkungan yang lebih luas. Perlu adanya evaluasi menyeluruh terhadap manajemen dan struktur tumpukan sampah di TPST Bantargebang.
Upaya mitigasi dan pencegahan harus terus ditingkatkan untuk menghindari terulangnya tragedi serupa di masa mendatang. Ini termasuk pemantauan rutin terhadap stabilitas tumpukan sampah dan penerapan teknologi penanganan sampah yang lebih aman. Keselamatan menjadi prioritas utama dalam pengelolaan fasilitas vital seperti TPST.
Sumber: AntaraNews