Lewat Fatmawati Trophy 2026, PDIP Angkat Perempuan sebagai Arsitek Peradaban
PDIP meluncurkan Fatmawati Trophy 2026 sebagai gerakan politik kebudayaan yang menempatkan perempuan di pusat narasi sejarah bangsa.
Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan) resmi meluncurkan Fatmawati Trophy 2026 sebagai bagian dari gerakan politik kebudayaan nasional.
Ajang ini dirancang untuk menegaskan peran perempuan dalam sejarah, ideologi, dan pembentukan peradaban Indonesia.
Ketua Bidang Perempuan dan Anak DPP PDI Perjuangan, Bintang Puspayoga, menyampaikan bahwa Fatmawati Trophy bukan sekadar kompetisi atau penghargaan simbolik.
“Pada hari ini kita tidak hanya meluncurkan sebuah ajang penghargaan. Kita sedang membangun monumen kesadaran sejarah, ruang refleksi ideologis, dan gerakan kebudayaan nasional yang secara sadar menempatkan perempuan di pusat narasi bangsa,” ujar Bintang di Rumah Fatmawati Soekarno, Jakarta, Sabtu (7/2/2026).
Menurutnya, inisiatif ini berangkat dari kesadaran akan posisi historis Fatmawati Soekarno sebagai Ibu Negara pertama Republik Indonesia yang memiliki kontribusi nyata dalam masa revolusi.
“Dinamika perjuangan itu membentuk karakter Fatmawati sebagai pribadi tangguh, mandiri, dan memiliki kesadaran kebangsaan sejak usia muda,” kata Bintang.
Kompetisi Fesyen Nasional dan Simbol Ideologis
Bintang menegaskan, Fatmawati tidak hanya dikenang sebagai pendamping Presiden Soekarno, tetapi sebagai figur yang terlibat langsung dalam sejarah bangsa, termasuk menjahit Sang Saka Merah Putih di tengah keterbatasan masa revolusi.
Ia juga menyinggung peran Fatmawati dalam melahirkan lima putra-putri bangsa, yakni Guntur Soekarnoputra, Megawati Soekarnoputri, Rachmawati Soekarnoputri, Sukmawati Soekarnoputri, dan Guruh Soekarnoputra.
“Beliau melahirkan bukan hanya generasi secara biologis, tetapi juga kepemimpinan perempuan dalam sejarah Indonesia,” ujar Bintang.
Fatmawati Trophy 2026 dikemas dalam bentuk kompetisi desain fesyen nasional. PDI Perjuangan memandang fesyen sebagai medium ekspresi nilai, identitas, dan sikap hidup, bukan semata aspek estetika.
Piala Fatmawati sendiri merupakan hasil gagasan Ketua DPP PDI Perjuangan M. Prananda Prabowo, yang kemudian diwujudkan secara artistik oleh pemahat Dolorosa Sinaga. Patung tersebut menampilkan figur perempuan berjubah yang berdiri tegak, melambangkan keteguhan moral dan kepemimpinan yang tenang.
“Fatmawati Trophy adalah pernyataan ideologis bahwa perempuan bukan pelengkap sejarah, melainkan arsitek peradaban bangsa,” tegas Bintang.
Dalam pelaksanaannya, Fatmawati Trophy 2026 mencakup empat kategori lomba serta penghargaan khusus berupa Piala Bergilir, dengan pelaksanaan berjenjang dari tingkat daerah hingga nasional.
Peluncuran ajang ini turut disaksikan secara daring dari Uni Emirat Arab oleh Megawati Soekarnoputri dan M. Prananda Prabowo, sementara di lokasi hadir jajaran DPP PDI Perjuangan serta keluarga besar Soekarno.