Cerita Hasto Kenang Sosok Fatmawati Saat Melindungi Megawati Kecil dari Serangan Belanda
Ia menceritakan kembali kisah yang didapatnya dari Megawati, ketika Istana Kepresidenan ikut dibombardir.
Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto, menceritakan sosok Fatmawati Soekarno dalam acara Mengenang 103 Tahun Fatmawati. Fatmawati Soekarno adalah ibu dari Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri.
Dalam pidato pembukanya, Hasto menceritakan salah satu kisah keteguhan serta pengorbanan Fatmawati di masa agresi militer Belanda, termasuk pengalaman yang dialami Megawati Soekarnoputri ketika masih kecil.
Hasto menuturkan, saat itu Fatmawati harus berhadapan dengan situasi Agresi Militer II. Situasi di mana penuh ancaman, tak terkecuali bagi keluarga Soekarno. Ia kemudian menceritakan kisah yang didapatnya dari Megawati, ketika Istana Kepresidenan ikut dibombardir.
Dalam suasana genting itu, Megawati kecil harus disembunyikan dengan cara digulung menggunakan karpet untuk melindunginya dari pecahan-pecahan bom.
“Untuk melindungi Ibu Mega, kemudian digulung karpet untuk menghindari dari pecahan-pecahan itu. Digulung karpet sehingga Ibu Mega merasakan sesak napas di situ,” ujar Hasto dalam acara Mengenang 103 Tahun Fatmawati Soekarno di Jakarta, Sabtu (7/2/2026).
Situasi Makin Sulit Saat Soekarno Dipisahkan Oleh Belanda
Hasto menambahkan, situasi pada saat itu diketahui semakin sulit ketika Belanda memisahkan Soekarno dari keluarganya dan membawanya ke Prapat lalu ke Bangka.
Fatmawati, yang dikenal sebagai sosok penuh keteguhan, justru memperlihatkan keteladanan besar di tengah tekanan itu. Ia tak tinggal diam dan terus menjaga semangat perjuangan melalui berbagai cara.
Menurut Hasto, Fatmawati membangun solidaritas perjuangan dengan para pejuang, termasuk mengungsi dan mendirikan dapur umum. Ia juga memberikan pencerahan spiritual dengan membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an dengan suara jernih yang menjadi penguat mental para pejuang.
“Ini luar biasa. Ini jauh kalau kita kontemplasikan dari apa yang tertulis di buku sejarah umum,” tutur Hasto.
Dalam konteks lebih luas, Hasto menegaskan, Fatmawati adalah simbol politik pembebasan. Sebab, selain memberikan dukungan moral dan spiritual, Fatmawati juga mendorong Soekarno untuk menyelenggarakan kursus-kursus politik tentang perempuan yang kemudian melahirkan buku Sarinah, sebuah karya monumental tentang emansipasi dan peran strategis perempuan dalam pembangunan bangsa.
“Bayangkan, dalam situasi ketika angka yang bisa baca-tulis baru sekitar 2 persen, kemudian lahirlah gagasan jenius dari Ibu Fat tentang kepemimpinan perempuan,” terang Hasto.
Hasto meyakini, melalui kisah-kisah Fatmawati, maka nilai yang dituturkan bukan sekadar sebagai Ibu Negara pertama, tetapi juga inspirasi besar bagi gerakan kebangsaan, kemerdekaan, dan pemberdayaan perempuan Indonesia.